
"Kira-kira dua atau tiga jam Marbella sadar." Jawab Alex.
"Pindahkan saja ke ruang perawatan." Ucap Alex pada dua perawat yang sudah selesai membongkar kain pembatas.
"Baik Tuan." Jawab ke dua perawat tersebut bersamaan.
Ke dua perawat itupun mendorong brangkar di mana Marbella berbaring di ranjang dengan diikuti oleh Edmund dan Alex.
"Kamu minumlah ini sampai habis, untuk menghindari racun yang masuk ke dalam tubuhmu." Ucap Alex sambil memberikan botol obat.
"Terima kasih banyak Paman." Ucap Edmund sambil menerima botol tersebut.
"Sama-sama, Paman pulang dulu dan kalau ada apa-apa kabarin Paman." Ucap Alex.
"Baik Paman dan sekali lagi terima kasih banyak." Ucap Edmund.
Alex hanya menganggukkan kepalanya kemudian Alex pergi bersama istrinya yang bernama Dewi Arumi sedangkan Edmund mengikuti brangkar di mana Marbella berbaring.
Skip
Kini Edmund duduk di kursi dekat samping ranjang sambil menggenggam tangan Marbella.
"Cepatlah sadar agar kita segera menikah." Ucap Edmund penuh harap.
__ADS_1
Tubuhnya yang lelah membuat Edmund melepaskan genggaman tangannya untuk membuka penutup botol kemudian meminum obat tersebut hingga habis tanpa sisa sedikitpun.
Setelah selesai Edmund meletakkan botol tersebut di meja dekat ranjang kemudian Edmund menggenggam tangan Marbella. Edmund meletakkan kepalanya di ranjang dengan beralaskan tangan Edmund dan tangan Marbella sebagai bantalannya.
"I Love You." Ucap Edmund sambil menatap wajah cantik Marbella.
Edmund tersenyum kemudian memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama Edmund tertidur dengan pulas.
Ceklek
Tidak berapa lama pintu ruang perawatan terbuka, seseorang masuk ke dalam dengan berjalan perlahan ke arah ranjang. Pria tersebut berhenti tepat di samping kiri Marbella dan melihat Edmund yang tidur dengan pulas di samping kanan.
Marbella yang tidur di tengah-tengah ke dua pria tersebut masih setia memejamkan matanya. Dengan perlahan pria tersebut menarik bantal yang dikenakan oleh Marbella bersamaan Marbella perlahan membuka matanya.
'Kamu harus ma x ti.' Bisik pria tersebut kemudian kembali menegakkan tubuhnya.
Pria tersebut mengarahkan bantalnya ke arah wajah Marbella membuat Marbella berusaha menggerakkan tubuhnya.
'Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus ma x ti di tangan Getuk Lindri?' Tanya Marbella dalam hati.
'Edmund, aku mohon bangunlah... Aku janji apapun yang kamu minta akan aku turuti.' Sambung Marbella dalam hati sambil masih berusaha menggerakkan anggota tubuhnya.
Hap
__ADS_1
Pria itupun menutup wajah Marbella membuat Marbella menutup matanya, dirinya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Grep
Di saat krisis tiba-tiba jari jemari Marbella bisa digerakkan membuat Edmund tidurnya terusik. Edmund perlahan membuka matanya dan melihat wajah Marbella di tutup oleh seseorang dengan menggunakan bantal. Mata Edmund membulat sempurna kemudian langsung menahan tangan pria tersebut sambil berdiri dengan menggunakan tangan kanannya.
"Siapa kamu!" Bentak Edmund sambil tangan kirinya menarik bantalnya agar Marbella bisa bernafas.
Ceklek
"Akhhhhhhhh ... Sakit! Lepas!" Teriak pria tersebut sambil berusaha melepaskan tangannya yang ditekuk oleh Edmund.
"Siapa kamu!" Bentak dua pria bersamaan.
Tiba - tiba pintu ruang perawatan terbuka dan dua pria tampan yang sangat mirip Edmund siapa lagi kalau bukan Daddy Edward dan Edwind. Ke dua pria tampan tersebut berniat ingin menengok keadaan Marbella namun mata mereka membulat sempurna ketika melihat Edmund menekuk tangan pria tersebut sambil berteriak kesakitan.
"Pria ini ingin mem x bu x nuh Marbella dengan menggunakan bantal." Ucap Edmund.
Grep
Grep
"Apa? Siapa orang yang menyuruhmu?" Tanya Daddy Edward sambil ikut menekuk tangan pria tersebut yang satunya.
__ADS_1