Gairah Cinta Sang Mafia

Gairah Cinta Sang Mafia
Marbela dan Edmund


__ADS_3

Marbella membuka isi pesan tersebut kemudian membacanya.


"Kalau kamu ingin menyelamatkan gadis ini datang ke gudang tua di pinggiran hutan jika tidak maka jangan salahkan aku membunuhnya dan menuduh mu sebagai pelakunya."


Ting


Ting


Terdengar dua kali bunyi pesan tanda ada dua pesan masuk membuat Marbella membuka pesan tersebut yang ternyata dari Tuan Vincent, satu pesan dan satu lagi pesan bergambar.


"Aku kirimkan foto gadis itu dan ingat datang sendiri jika tidak maka aku tidak segan-segan menembaknya."


Marbella membuka pesan bergambar di mana Adara duduk di kursi dengan di ikat ke dua tangan dan ke dua kakinya selain itu Adara masih memejamkan matanya. Marbella yang melihat itu menggenggam erat ponselnya untuk menyalurkan kemarahannya.


"Siapa yang kirim pesan?" Tanya Edmund yang melihat wajah Marbella seperti menahan amarahnya.


"Temanku, maaf Kak bisa turunkan aku di depan toko roti itu." Pinta Marbella berbohong.


Marbella terpaksa berbohong karena dirinya tidak ingin terjadi sesuatu dengan Adara. Sebab Marbella mengikuti perintah Tuan Vincent agar datang sendiri. Marbella menunjuk ke arah toko roti yang berada di depan.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu minta turun di sini?" Tanya Edmund penasaran sambil menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Maaf, saat ini aku tidak bisa mengatakannya." Jawab Marbella sambil turun dari mobil kemudian berjalan ke arah tukang ojek motor.


Marbella menyebutkan alamatnya sambil naik ojek motor tersebut. Edmund mengikuti Marbella pergi kemana karena Edmund penasaran akan apa yang dilakukan oleh Marbella.


Belum ada lima menit tiba-tiba ponselnya berdering membuat Edmund kembali menghentikan mobilnya lalu mengambil ponselnya dari saku jasnya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Tumben Daddy, telepon." Ucap Edmund sambil menggeser tombol berwarna hijau.


("Hallo Dad." Panggil Edmund).


("Edmund, kamu pergi ke gudang tua di pinggiran hutan karena adik kembarmu Adara di culik." Ucap Daddy Edward tanpa basa basi).


("Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Edmund sambil menyalakan mesin mobil).


("Baik Edmund akan pergi ke sana." Ucap Edmund).


Tut tut tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Daddy Edward. Kemudian Edmund menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya kemudian kembali mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Mengenai Marbella aku akan tanyakan ada apa sebenarnya? Karena aku sangat penasaran." Ucap Edmund tanpa memperdulikan bunyi klakson yang saling bersahutan akibat dirinya menyalip mobil mereka.

__ADS_1


xxxxxxx


Singkat cerita kini Marbella sudah sampai di gudang tua di pinggiran hutan. Marbella berjalan hingga dirinya bertemu dengan para rekan kerjanya.


"Angkat tangan!" Perintah salah satu rekannya.


Marbella dengan patuh mengangkat tangan ke atas kemudian salah satu dari mereka mulai memeriksa tubuh Marbella hingga rekan kerjanya menemukan satu pistol milik Marbella dari balik pinggangnya dan pisau lipat dari sepatu Marbella.


"Masuk ke dalam dan temui Tuan Vincent!" Perintah rekan bisnisnya.


Marbella hanya menganggukkan kepalanya sambil menurunkan ke dua tangannya kemudian berjalan masuk ke dalam gudang tua tersebut.


'Kalau takdir ku mati di sini aku rela asalkan keluarga Alexander baik-baik saja.' Ucap Marbella dalam hati.


Marbella sudah pasrah jika dirinya mati di tangan Tuan Vincent karena telah berani mengkhianati dirinya. Setidaknya selama dua bulan lebih Marbella sudah merasakan kasih sayang tulus dari Mommy Alona, Daddy Edward dan keluarga besar Kak Edmund. Itu sudah cukup membuat Marbella untuk membalas budi dengan menyerahkan nyawanya ke tangan Tuan Vincent.


Marbella menghentikan langkahnya dan melihat Adara membuka matanya sambil menatap dirinya.


"Lepaskan Adara, Adara tidak bersalah. Jika ingin menghukum ku maka hukumlah aku." Pinta Marbella sambil menatap ke arah Tuan Vincent yang berada di sisi Adara.


"Tentu saja aku akan menghukum mu dengan hukuman siksaan yang tidak pernah kamu bayangkan tapi mengenai gadis ini tidak akan aku lepaskan karena keluarganya sudah membuatku kehilangan istri dan ke dua anakku." Ucap Tuan Vincent sambil menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Dua bodyguard datang sambil membawa suntikan 💉 dan ampul sedangkan satu lagi membawa pistol. Bodyguard yang membawa suntikan mengarahkan ke leher Marbella dan bodyguardnya satunya lagi memberikan pistol ke Marbella.


"Pegang pistol itu kemudian tembak gadis itu!" Perintah Tuan Vincent.


__ADS_2