Gairah Cinta Sang Mafia

Gairah Cinta Sang Mafia
Racun


__ADS_3

"Jika aku tidak menembaknya?" Tanya Marbella sambil menerima pistol pemberian rekan kerjanya.


"Maka suntikan yang berisi racun itu akan disuntikan ke lehermu. Kamu pasti sudah tahu bagaimana hebatnya racun itu jika masuk ke dalam tubuh seseorang." Jawab Tuan Vincent.


Tuan Vincent akan menghukum anak buahnya yang berkhianat dengan suntikan beracun tanpa memperdulikan apakah seorang gadis atau wanita ataupun pria.


Semua diperlakukan sama bahkan istrinya saja ketika diketahui berkhianat juga di suntik dan mati mengenaskan.


"Aku hanya tahu ketika melihat rekanku berteriak kesakitan dan aku juga melihatnya betapa tersiksanya temanku yang teramat sangat sampai satu jam kemudian mengeluarkan batuk darah. Hingga setelah lima menit kemudian temanku meninggal dunia dengan kulit menghitam." Ucap Marbella dengan mata berkaca-kaca.


Marbella teringat dengan teman seperjuangan yang jatuh cinta dengan seorang pria yang merupakan target Tuan Vincent untuk di bunuh. Tuan Vincent yang mengetahui kalau anak buahnya berkhianat langsung di suntik racun dan berakhir meninggal dengan cara mengenaskan.


Marbella sampai berlutut untuk memberikan kesempatan ke dua untuk temannya tapi Tuan Vincent tidak memperdulikannya karena baginya nyawa manusia tidak ada artinya.


"Baguslah kalau kamu mengingatnya dan sekarang tembak gadis itu!" Perintah Tuan Vincent sambil berjalan menjauh dari Adara.


Marbella menatap Adara dan melihat mata Adara berkaca-kaca. Jujur Marbella dilema dirinya ingin hidup tapi dirinya tidak mau egois mengorbankan nyawa Adara. Marbella hanya tersenyum menatap Adara sambil mengarahkan pistolnya ke arah Adara.


Dor


"Akhhhhhhhh!" teriak Tuan Vincent kesakitan.


Marbella yang awalnya pistol diarahkan ke Adara langsung pindah dan diarahkan ke dada Tuan Vincent kemudian menembak dada Tuan Vincent membuat Tuan Vincent berteriak kesakitan.


Salah satu anak buahnya menahan tubuh Tuan Vincent agar tidak terjatuh dan berjalan hendak keluar dari ruangan tersebut menuju ke rumah sakit dengan diikuti dua anak buah Tuan Vincent.

__ADS_1


Jleb


Dor


"Akhhhhhhhh!" Teriak Adara.


Di saat bersamaan anak buah Tuan Vincent menyuntikkan racun tersebut ke leher Marbella sedangkan anak buah yang lainnya menembak Adara membuat Adara berteriak kesakitan.


"Jangan tembak Adara, tembak lah aku." Pinta Marbella sambil berjalan ke arah Adara sambil membawa pistol.


Para anak buah tuan Vincent tidak memperdulikan ucapan Marbella. Mereka mengarahkan pistolnya ke arah Adara dan Marbella, namun tiba-tiba terdengar ...


Dor  Dor Dor Dor


Dor  Dor Dor Dor


Suara tembakan dari luar bersamaan teriakan kematian membuat para anak buah Vincent membalikkan badannya kemudian saling menatap.


Marbella yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu berjalan dengan langkah cepat untuk melepaskan ikatan ke dua kaki dan ke dua tangan Adara, namun baru beberapa langkah ...


Brak


Dor  Dor Dor Dor


Dor  Dor Dor Dor

__ADS_1


"Akhhhhhhhh..." Teriak ke delapan pria bersamaan.


Bruk  Bruk Bruk Bruk


Bruk  Bruk Bruk Bruk


Pintu tersebut di dobrak paksa di susul suara delapan tembakan dan tembakan tersebut tepat mengenai kening ke delapan penjahat tersebut. Delapan pria itupun langsung berteriak kesakitan dan langsung ambruk seketika dengan mata melotot.


"Kita pergi dari sini!" Perintah salah satu dari mereka.


Di gudang tua itu ada tiga pintu, pintu pertama dan pintu ke dua sudah di dobrak paksa selain itu para penjaga milik Tuan Vincent sepertinya sudah mati begitu pula dengan Tuan Vincent.


Salah satu dari mereka yang merupakan tangan kanannya Tuan Vincent yang bernama Bima, menyuruh teman-temannya untuk pergi dari tempat tersebut melalui pintu rahasia.


"Baik Tuan." Jawab mereka bersamaan.


Dua orang langsung melepaskan ikatan ke dua tangan dan ke dua kali Adara kemudian menggendong Adara dan Marbella seperti menggendong beras.


Mereka masuk ke dalam pintu rahasia kemudian menutupnya dengan rapat bersamaan kedatangan segerombolan pria tampan siapa lagi kalau bukan keluarga besar Alexander.


"Kenapa ruangan ini tidak ada orang sama sekali?" Tanya Edwind dan Edmund bersamaan.


"Pasti ada pintu rahasia, lebih baik kita semua berpencar untuk mencarinya." Ucap Daddy Edward sambil menahan amarahnya karena putri bungsunya di culik.


"Baik Dad." Jawab Edwind dan Edmund bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2