Gairah Cinta Sang Mafia

Gairah Cinta Sang Mafia
Bersedia Menikah


__ADS_3

"Apa itu Dad?" Tanya Marbella dengan jantung berdebar-debar.


Entah kenapa dirinya sangat takut jika dirinya di suruh pergi dari kehidupan keluarga Edmund karena dirinya sangat nyaman tinggal dengan keluarga Edmund.


'Jika seandainya aku di suruh pergi maka aku akan pergi sejauh mungkin walau terlalu berat bagiku.' Ucap Marbella dalam hati.


"Daddy dan Mommy berencana akan menikahkan mu dengan Edmund, apakah kamu bersedia menikah dengan putra kami?" Tanya Daddy Edward.


"Jika Kak Edmund bersedia maka aku bersedia menikah dengan Kak Edmund." Jawab Marbella yang memang sejak awal menyukai Edmund.


"Tentu saja aku bersedia menikah denganmu." Ucap Edmund.


"Bagus, kalau begitu minggu depan kalian menikah." Ucap Daddy Edward.


"Secepat itu Dad?" Tanya Marbella dengan wajah terkejut.


"Lebih cepat lebih baik." Jawab Daddy Edward.


'Karena kalian sudah melakukan hubungan suami istri dan aku tidak ingin jika terlalu lama menikah bisa saja kamu hamil selain itu putraku pasti ingin melakukan lagi hubungan suami istri.' Sambung Daddy Edward dalam hati.


'Apa yang Daddy katakan benar lebih baik kami segera menikah agar aku bisa melakukan lagi dan lagi hubungan suami istri.' Ucap Edmund dalam hati .


"Marbella nurut saja apa yang dikatakan Daddy." Ucap Marbella pasrah.


"Oh ya maafkan Kakak karena salah menuduh dirimu. Kakak pikir kamu ingin mencelakai adik kembarku Edmund." Ucap Edwind yang merasa bersalah karena telah menembak Marbella.


"Tidak apa-apa Kak, yang terpenting semuanya baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup." Ucap Marbella yang tidak dendam ataupun benci pada Edwind ataupun keluarga besar Alexander.


'Marbella memang berbeda dari gadis lain, lain kali hal ini tidak akan terjadi lagi karena mulai sekarang dan seterusnya kami percaya pada Marbella.' Ucap ke tiga pria tampan tersebut secara bersamaan.


"Ok, kalau begitu Daddy akan bilang ke Mommy yang berada di ruang perawatan Adara." Pamit Daddy Edward.

__ADS_1


"Baik Dad." Jawab Marbella.


Marbella mencium punggung tangan Daddy Edward kemudian berlanjut mencium punggung tangan Edwind karena Edwind merupakan kakak kembarnya Edmund kekasih Marbella.


Keluarga besar Alexander selalu mengajarkan untuk mencium punggung tangan orang yang lebih tua.


Daddy Edward dan Edwind pergi meninggalkan mereka berdua di ruang perawatan.


"Kak Edmund." Panggil Marbella.


"Ya." Jawab Edmund singkat sambil duduk di kursi dekat ranjang.


"Aku ingin bertanya selama aku tidak sadarkan diri, apa yang terjadi?" Tanya Marbella sambil menatap wajah tampan Edmund.


'Karena aku penasaran kenapa bagian privasi ku sangat perih, apakah kami melakukan hubungan suami istri atau tidak? Jika tidak berarti aku ...' Sambung Marbella dalam hati dengan menggantungkan kalimatnya.


"Sebelum aku menjawab, keluarga besar kami khususnya diriku meminta maaf karena salah menuduh dirimu yang ingin mencelakai Adara dan aku." Ucap Edmund yang merasa bersalah karena salah menuduh.


"Tapi aku tidak bisa melupakannya begitu saja karena nyawamu hampir melayang akibat kami tidak percaya padamu." Ucap Edmund.


"Nyawaku tidak ada harganya karena itulah tidak perlu merasa bersalah." Ucap Marbella sambil berusaha untuk tersenyum.


"Marbella, aku tidak suka kamu mengatakan hal itu karena bagiku nyawa kamu sangat berharga jadi aku mohon jangan katakan itu lagi." Ucap Edmund.


"Maaf, aku mengatakan hal itu karena Tuan Vincent selalu mengatakan pada kami kalau nyawa kami tidak ada harganya." Ucap Marbella.


"Aku minta mulai sekarang dan seterusnya jangan mengatakan hal itu lagi karena aku tidak suka." Ucap Edmund.


"Baik, akan aku ingat perkataan Kak Edmund." Ucap Marbella.


Edmund hanya tersenyum sambil membelai rambut Marbella dengan lembut.

__ADS_1


"Kak Edmund." Panggil Marbella.


"Ya." Jawab Edmund singkat sambil masih membelai rambut Marbella.


"Sebelum aku tidak sadarkan diri aku ingat Kak Edmund menggendongku menuju ke mobil dan aku mendengar suara mesin mobil. Lalu selanjutnya aku tidak ingat apa yang terjadi, kalau boleh tahu apa yang terjadi selanjutnya?" Tanya Marbella penasaran.


"Kamu di bawa ke rumah sakit dan langsung masuk ke ruang operasi untuk di ambil peluru yang bersarang di tubuhmu." Jawab Edmund.


"Setelah itu?" Tanya Marbella.


"Kamu terkena racun yang sangat berbahaya dan Paman Alex memberikanmu obat supaya racun di dalam tubuhmu hilang. Memang kenapa kamu ingin tahu apa yang terjadi ketika kamu tidak sadarkan diri?" Tanya Edmund pura-pura tidak tahu.


'Apa jangan-jangan Marbella tidak tahu kalau aku sudah mengambil harta berharga yang selama ini di jaga? Aku rasa tidak tahu karena Marbella tidak bertanya padaku, mungkin Marbella merasakan bagian privasinya perih karena itulah bertanya seperti ini.' Sambung Edmund dalam hati.


'Maaf Marbella aku tidak mungkin mengatakan kalau aku sudah mengambil harta yang selama ini kamu jaga karena jika aku katakan yang sebenarnya kamu akan membenciku.' Sambung Edmund dalam hati.


"Tidak apa-apa, aku sangat haus bolehkah ambilkan minum untukku?" Tanya Marbella mengalihkan pembicaraan.


'Mungkin efek racun membuat bagian privasi ku menjadi perih.' Sambung Marbella dalam hati.


"Tentu saja boleh." Jawab Edmund.


Edmund mengambil minuman untuk Marbella yang sudah ada sedotannya kemudian Marbella meminum hingga menyisakan setengah gelas sambil meminum obat.


Selesai minum Marbella memejamkan matanya karena pengaruh dari obat yang mengandung obat tidur.


"Kak Edmund." Panggil Marbella sambil masih memejamkan matanya.


"Ya." Jawab Edmund singkat .


"Aku sangat mengantuk, maukah tidur di samping ku sambil memeluk ku?" Tanya Marbella penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2