
Dayan sedikit terkesiap karena melihat beberapa orang berbadan besar dan kekar berdiri di sana. Di setiap sudut ruangan dan di belakang sosok yang Erwin bilang sebagai pendana, para pria itu berdiri.
“Silakan duduk, Pak, Bu,” ucap Erwin pada Dayan dan Bestari. Kedua orang itu lalu duduk bersisian. Berhadapan dengan pihak yang akan memberikan hutang pada mereka.
“Perkenalkan beliau ini Pak Norman Sihombing sebagai pendana, dan yang duduk di sampingnya Pak Binsar Hasiholan, notaris yang akan membuatkan surat perjanjian.” Erwin memperkenalkan dua orang yang duduk di hadapan Dayan dan Bestari.
“Menurut info dari Erwin, Pak Dayan dan Bu Dayan ingin meminjam uang sebesar tiga ratus juta. Apa benar begitu?” tanya Norman seraya memandang sejoli yang duduk di hadapannya.
“Iya, benar, Pak Norman,” jawab Dayan.
“Saya akan memberikan dana itu sekarang, kira-kira berapa lama Bapak dan Ibu bisa mengembalikannya?”
“Tiga bulan, Pak,” sahut Dayan dengan yakin.
“Baik, dana sebesar 300 juta rupiah akan dikembalikan dalam jangka waktu tiga bulan. Bapak dan Ibu harus mengembalikan pada saya sebanyak 450 juta pada saat jatuh tempo. Apa sanggup?”
Dayan menoleh pada Royani yang kemudian mengangguk padanya. “Iya, kami sanggup.”
“Pak Binsar, tolong segera buatkan surat perjanjian seperti yang disebutkan tadi.” Norman beralih pada pria yang duduk di sampingnya.
“Baik, Pak. Mana kartu identitas dan sertifikatnya?” Binsar meminta sertifikat dan KTP asli milik Dayan dan Bestari. “Bisa ditunggu sebentar.” Pria itu lalu keluar dari ruangan tersebut.
“Pak Dayan dan Ibu, ada yang belum saya sebutkan tadi. Seandainya dalam jangka waktu tiga bulan itu Bapak dan Ibu tidak bisa membayar, maka tanah dan rumah itu jadi milik saya,” ucap Norman yang membuat Dayan dan Bestari saling berpandangan. “Apa Bapak dan Ibu setuju? Kalau tidak, kita batalkan saja,” imbuhnya.
“Iya, kami setuju, Pak. Seandainya nanti kami belum bisa dan temponya diperpanjang bagaimana?” Dayan coba bernegosiasi.
“Bisa saja, tapi dengan bunga berjalan. Jadi Bapak dan Ibu harus mengembalikan dalam jumlah yang lebih besar,” sahut Norman.
Dayan menelan salivanya mendengar ucapan sang pendana. “Saya akan berusaha membayar tepat waktu, Pak. Rumah itu sudah saya tawarkan ke orang-orang. Semoga cepat laku.”
“Nanti kalau ada pembeli harus ketemu sama saya dulu, Pak. Karena berdasarkan perjanjian yang nanti kita tanda tangani, sertifikat itu berada dalam kuasa saya. Kalau sampai tiba waktunya dan Bapak tidak membayar, saya bisa menjualnya pada orang lain,” tegas Norman.
“Baik, Pak.”
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Binsar masuk ke ruangan tersebut bersama seorang karyawannya. Pria itu lalu duduk kembali di samping Norman. Dia membacakan isi surat perjanjian tersebut.
Dayan dan Bestari mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang notaris. Meskipun kenyataannya tidak semua poin bisa dipahami. Mereka hanya mengangguk saat Binsar bertanya apa sudah paham dengan isi perjanjian.
Setelah semuanya sepakat dengan isi perjanjian, proses penandatanganan dimulai. Karyawan sang notaris mengabadikan dengan video saat setiap orang membubuhkan tanda tangan di sana. Karena kondisi sedang pandemi covid 19, jadi mereka semua memakai masker atau penutup wajah.
Sesudah itu Norman memberikan uang tunai sebanyak tiga ratus juta pada Dayan. Pria itu lalu memberikannya pada Royani. Mereka saling berjabat tangan, lalu Norman dan beberapa pria berbadan besar dan kekar keluar dari ruangan tersebut. Diikuti oleh Binsar dan karyawannya hingga tinggal Erwin, Dayan, dan Royani yang ada di sana.
“Selamat ya, Pak Dayan dan Ibu sudah mendapatkan uang. Sudah lega ‘kan sekarang. Tinggal menawarkan saja rumah itu agar cepat terjual.” Erwin kembali membuka pembicaraan saat Royani memasukkan uang ratusan juta itu ke dalam tasnya.
“Iya, Mas. Alhamdulillah kami sudah lebih tenang,” sahut Royani dengan wajah berseri-seri.
“Karena sudah dapat uangnya, saya mau meminta fee sebesar 2,5% karena sudah menghubungkan dengan
Pak Norman sebagai pendana,” ucap Erwin lugas, tanpa merasa canggung atau malu.
“Oh begitu, Mas. Lalu kami harus memberikan berapa?” tanya Royani.
Royani membuka lagi tasnya lalu mengambil satu bendel uang ratusan ribu. Dia menghitung sebanyak tujuh juta lima ratus ribu rupiah. Setelah memastikan jumlahnya sesuai, wanita itu memberikan pada Erwin. “Ini, Mas. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Royani.
“Iya, Bu, sama-sama. Nanti saya akan bantu menjualkan juga, agar lebih cepat laku, Pak,” ucap Erwin setelah menerima uang jasanya.
“Terima kasih, Mas. Nanti kalau ada yang mau beli bisa kabari saya ya,” ucap Dayan.
“Siap, Pak.”
“Kalau begitu kami pulang dulu, Mas,” pamit Dayan.
“Silakan, Pak, Bu. Hati-hati di jalan,” sahut Erwin yang langsung berdiri dan membukakan pintu untuk kedua sejoli itu.
Dayan dan Royani keluar dari kantor notaris dengan wajah yang berseri-seri, terutama Royani. Mobilnya tidak jadi hilang karena ditarik oleh leasing. Dari sana mereka langsung pulang ke kontrakan Royani.
“Aku minta uang untuk bayar hutang-hutang yang aku pinjam buat keperluanmu,” pinta Dayan setelah mereka beristirahat sejenak di kontrakan bertipe minimalis itu.
__ADS_1
“Iya, Mas. Mau berapa?” tanya Royani.
Dayan kemudian menyebutkan beberapa hutangnya pada sang istri muda. Jumlah yang tidak sedikit. Royani lalu memberikan uang sebanyak tiga puluh juta rupiah pada suaminya. “Segini cukup ‘kan, Mas?”
“Ya, nanti aku cukup-cukupin. Sebenarnya juga masih belum cukup,” timpal Dayan.
“Ya seadanya dulu. Kalau nanti rumahnya sudah laku, baru dibayar lunas semuanya.” Royani coba menenangkan sang suami.
“Uang ini juga aku pakai untuk keperluan mendesak, Mas. Tidak aku pakai buat foya-foya. Aku harus membayar leasing sama orang yang mengurus tanahku di sana biar cepat beres urusannya. Sisanya untuk membayar hutang-hutangku yang lain,” terang Royani.
“Iya, aku percaya sama kamu, Yan.” Dayan menyimpan tiga bundel uang seratus ribu ke dalam tas kerjanya.
“Ini hari terakhir Mas cuti ‘kan?” Royani memandang suaminya dengan tatapan penuh arti.
“Iya, kenapa memangnya?” Kening Dayan jadi mengerut.
“Aku senang tiga hari ini terus bersama, Mas. Jadi merasa benar-benar punya suami. Aku tidak salah memilih Mas sebagai suami. Mas memang yang terbaik.“ Royani menyandarkan kepala di bahu Dayan.
“Mas, masih nanti ‘kan pulangnya?” tanya Royani lagi.
“Iya, aku kan bilangnya lembur tiga hari ini. Ada apa?” Dayan menoleh ke samping.
“Masih ada banyak waktu, mari kita nikmati kebersamaan kita ini. Jarang ‘kan kita punya waktu panjang seperti sekarang.” Royani memberi kerlingan menggoda pada sang suami siri.
“Ayo,” sahut Dayan penuh semangat.
“Dikunci dulu pintunya, Mas,” bisik Royani.
Dayan beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju pintu. Memutar anak kunci agar pintunya terkunci.
Setelah memastikan aman, Dayan menghampiri Royani yang terus tersenyum padanya. Dengan manja, wanita itu menarik Dayan menuju ke kamarnya.
*** End of Flashback ***
__ADS_1