
"Kasihan dan membantu boleh, tapi jangan bodoh, Dayan!" Titik merasa geram pada Dayan. "Membantu tidak harus dengan menghancurkan hati istri dan anak-anakmu. Kamu membuang berlian, tapi malah memungut batu."
Dayan menunduk meskipun sang kakak tidak melihatnya. "Aku tahu aku salah, Mbak. Semua sudah terlanjur. Mau bagaimana lagi. Aku tinggal di rumahmu ya, Mbak," pintanya lagi, tapi dengan setengah memaksa. Memang Dayan begitu, suka meminta dengan memaksa. "Aku akan bersihkan semuanya. Aku janji akan merawatnya baik-baik."
Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. "Kamu boleh untuk sementara tinggal di sana. Jangan lagi melakukan hal bodoh. Sekarang kamu fokus ibadah, dan kerja. Jangan lupakan anak-anak yang menjadi tanggung jawabmu. Meskipun tidak tinggal dengan mereka, kamu tetap bapak mereka. Tetap nafkahi mereka sesuai kemampuanmu. Jangan sampai membuat mereka jadi membencimu karena kamu tidak pernah ada, dan tidak menafkahi mereka," pesan Titik.
"Iya, Mbak, Terima kasih." Dayan menutup panggilan setelah sang kakak memberi petuah panjang lebar padanya. Tidak ada satu orang pun yang membela. Semua orang menyalahkan dia karena sudah mengkhianati Bestari dan berhutang pada rentenir demi Royani. Memang pria itu mengakui semua kesalahannya. Dan, entah bagaimana Dayan akan memperbaiki semuanya.
Setelah Dayan mendapat izin dari sang kakak untuk menempati rumahnya, pria itu mempekerjakan orang untuk membersihkan dan memperbaiki beberapa bagian yang rumah yang rusak. Ternyata memperbaiki rumah butuh dana yang tidak sedikit. Karena lama tidak ditempati, rumah tersebut cukup kotor.
Sementara Dayan menyiapkan rumah untuk tempat tinggalnya, Bestari setiap hari datang untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya setelah pulang kerja. Meskipun badan terasa lelah, tapi dia ingin segera beres. Kalau sudah beres, ibu dua anak itu tinggal menata masa depannya dengan anak-anak. Yang jelas, Bestari sudah tidak mau lagi kembali bersama Dayan walaupun pria itu mengatakan tidak akan pernah menceraikannya.
Selama masa itu, Bestari juga mencari info tempat luas yang dikontrakkan. Setelah bertanya ke sana kemari, dia akhirnya mendapatkan satu rumah kosong yang dahulunya dipakai untuk menyimpan hasil panen tembakau. Setelah sang pemilik rumah mengizinkan, Bestari bisa bernapas dengan lega. Tugasnya kini tinggal menyiapkan barang-barang yang akan disimpan di rumah tersebut.
Seminggu sebelum batas waktu yang diminta pada dokter Rani, Bestari memanggil pembeli barang rongsokan ke rumah. Dia menjual banyak barang yang sudah tidak dipakai lagi dan juga rusak yang berbahan plastik, besi, dan juga kertas. Barang-barang yang berhasil mereka kumpulkan selama tiga minggu membereskan rumah itu. Selain itu, Bestari juga menjual pakaian pantas pakai pada salah seorang pedagang yang sudah terkenal menjual pakaian dan barang bekas.
__ADS_1
Sesudah penjualan barang dan pakaian bekas selesai, Bestari menyewa kendaraan dan meminta jasa orang untuk memindahkan barang-barangnya ke tempat yang sudah dia sewa. Karena banyak barangnya, jadi tidak cukup sekali angkut saja. Ada spring bed, lemari, meja, kursi, piring, gelas, alat masak, dan berbagai barang pecah belah lainnya. Beberapa barang yang kecil-kecil dibawa ke ruko, sementara yang besar ditempatkan di ruangan yang disewa.
Saat urusan mengangkut barang-barangnya sudah selesai, Bestari melihat ke seluruh ruangan di rumah yang kini sebagian besar sudah kosong itu. Ada rasa nyeri di hatinya saat mengingat semua kenangan yang ada di rumah tersebut. Bagaimana perjuangannya dulu membangun rumah dari nol sampai harus meminjam uang di bank agar rumah itu lebih nyaman untuk ditinggali. Bonus-bonus yang didapat dari kerjanya juga sebagian besar dipakai untuk mempercantik rumah tersebut. Sisi hatinya masih merasa tak rela rumah yang sudah ditinggalinya lebih dari 12 tahun itu berpindah tangan. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika takdir sudah menggariskan rumah itu harus dijual.
Bestari menghirup napas panjang di dalam rumah. Merasakan udara di rumah tersebut untuk terakhir kali sebelum mengembuskannya dengan kencang. Dia tidak boleh terus bersedih. Ada dua anak perempuan yang sedang beranjak remaja dan dewasa yang kini hidupnya bergantung padanya. Bestari harus kuat demi Riri dan Ratna yang kini jadi penyemangatnya untuk bekerja dan membahagiakan mereka. Wanita berusia 40 tahun itu tersenyum saat keluar dari rumah tersebut. Meninggalkan semua kenangan di sana untuk menciptakan kenangan yang lebih indah bersama kedua anaknya.
Bestari sudah membereskan semua pekerjaannya dan tak akan menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Sedangkan Dayan masih belum menyelesaikan proses perbaikan di rumah sang kakak. Tinggal beberapa sentuhan lagi, meskipun rumah itu sudah bisa ditempati. Barang-barang dari rumah lamanya sudah beberapa yang dimasukkan ke sana. Sebagian masih menunggu sampai selesai.
"Bu, setelah ini berarti kita sudah tidak ke rumah lama lagi ya?" tanya Ratna saat mereka dalam perjalanan pulang.
Pertanyaan Ratna berhasil membuat sesak dada Bestari. Mereka memang sebenarnya sangat berat melepas rumah tersebut. Apalagi si bungsu yang sejak lahir sudah tinggal di rumah tersebut. Ada banyak kenangan yang terukir di sana. Rumah yang sudah menjadi saksi tumbuh kembangnya dari bayi sampai beranjak remaja. Dia tahu Ratna pun merasakan sakit dan sedih seperti apa yang dirasakannya.
"Aamiin," sahut Ratna dan Riri bersamaan.
"Bapak jadi tinggal di rumahnya Bude Titik, Bu?" tanya Ratna lagi.
__ADS_1
Bestari mengangguk. "Iya. Bapak tinggal di sana. Apa kamu mau tinggal sama Bapak?" Dia memandang Ratna dari rear view mirror.
Ratna menggeleng. "Enggak mau. Aku maunya sama Ibu dan Mbak Riri."
"Kalau kamu kangen sama Bapak, boleh kok menginap di sana." Bestari kembali memandang putri bungsunya.
Sekali lagi Ratna menggeleng. "Biar Bapak yang ke ruko kalau kangen, Bu. Aku sedih kalau melihat rumah kita," ungkapnya. Rumah milik Titik memang halamannya bersebelahan dengan rumah mereka. Jadi kalau ke rumah Titik pasti melewati rumah lama mereka.
Sekali lagi Bestari merasakan nyeri di hatinya. Bukan hanya Ratna saja yang sedih, dia dan Riri pun pasti juga sedih kalau melihat rumah yang pernah menjadi tempat tinggal mereka. Rumah yang terenggut dengan paksa karena tindakan gegabah Dayan.
"Kalau kalian kangen sama Bapak, tinggal bilang Bapak saja. Bapak pasti akan datang untuk kalian," ucap Bestari dengan bijak. "Satu yang ibu pesan, di mana pun kalian tinggal, kalian tetap punya ibu dan Bapak. Tetaplah belajar dengan rajin demi masa depan. Sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian kelulusan, fokuslah belajar. Jangan memikirkan hal lain agar bisa sekolah di sekolah impian kalian, ya."
"Iya, Bu." Riri dan Ratna kompak menyahut sang ibu.
---oOo---
__ADS_1
Jogja, 251122 19.14
Satu bab lagi menuju ending :)