
Langkah pertama yang dilakukan oleh Heri sebagai pengacara Bestari yaitu mengirim somasi pada notaris Binsar Hasiholan. Di dalam surat somasi itu Heri, menyatakan mengenai tanda tangan palsu dan pasal-pasal yang menyebut kalau mereka sudah melanggar undang-undang kenoktariatan. Selain itu, juga meminta salinan surat perjanjian jual beli antara Dayan dan Norman.
Langkah selanjutnya, Heri melakukan pemblokiran sertifikat tanah milik Dayan agar tidak bisa dijual oleh pihak Norman. Pengacara Bestari itu pun memanggil Dayan dan juga Royani untuk meminta keterangan pada mereka terkait hutang yang berkedok perjanjian jual beli.
Beberapa hari kemudian balasan somasi dari pihak notaris datang. Mereka menolak memberikan salinan perjanjian jual beli karena Bestari sebagai istri tidak berhak ikut campur, sebab tanah yang dijual merupakan tanah warisan untuk Dayan.
Heri pun kembali membalas somasi tersebut. Membenarkan kalau tanah itu adalah warisan, tetapi rumah yang berdiri di atas tanah tersebut merupakan gono gini karena dibangun bersama dengan uang mereka berdua. Namun, pihak notaris Binsar Hasiholan tetap tidak mau memberikan salinannya. Upaya untuk menyelesaikan masalah itu dengan baik gagal. Karena pihak notaris tetap bersikeras tidak mau terbuka pada pengacara Bestari.
Tanpa diduga, Dayan justru mendapat dua somasi, satu dari notaris Binsar Hasiholan, dan satu lagi dari Norman Sihombing. Membuat suami Bestari itu menjadi kalang kabut karena dia diancam akan dipenjara. Dayan meminta Heri agar menjadi pengacaranya, tapi karena sudah menjadi pengacara Bestari, hal itu tidak bisa dilakukan. Akhirnya Heri mempertemukan Dayan dengan teman Heri yang seorang pengacara senior.
Dayan lalu bertemu Hutomo, seorang pengacara senior, dan Tomi, anak Hutomo yang juga seorang pengacara, dengan perantara Heri. Dayan menceritakan semua permasalahannya pada anak dan ayah tersebut. Meminta bantuan mereka untuk mendampinginya sampai kasus itu selesai. Akhirnya setelah melakukan negoisasi harga kesepakatan pun diperoleh.
Dayan ingin meminjam uang pada Bestari untuk membayar jasa pengacara karena dia tidak punya uang. Namun, Bestari tidak mau memberi pinjaman. Dia sudah tidak bisa lagi percaya pada suaminya itu perihal uang. Memang terlihat tega, tapi biar itu memberikan efek jera pada suaminya yang tak berguna itu karena sudah menyia-nyiakannya selama ini.
Akhirnya Dayan pergi ke bank untuk mengajukan pinjaman. Bank di mana dia mengajukan pinjaman sebelumnya. Untung saja bank mengabulkan pinjamannya meskipun jumlahnya tidak sampai dua puluh juta, tapi setidaknya cukup untuk membayar pengacara.
Dayan mengajak Bestari ke bank untuk ikut tanda tangan saat pencairan pinjamannya. Kalau hanya sekadar tanda tangan saja, Bestari bersedia, tapi kalau mengeluarkan uang lagi untuk Dayan, dia sudah tidak mau. Sesudah cair pinjamannya, Dayan lalu pergi ke kantor Hutomo untuk membayar jasa sekaligus memberikan surat kuasa pada pengacara tersebut.
“Pak Dayan, dengan ditandatanganinya surat kuasa ini, berarti segala urusan Pak Dayan dengan notaris Binsar Hasiholan dan Norman Sihombing sudah dilimpahkan pada kami. Pak Dayan jangan melakukan sesuatu di luar pengetahuan kami agar kalau terjadi apa-apa kami tahu. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari solusi dan jalan tengah yang terbaik. Kami harap Pak Dayan mengerti,” ujar Hutomo.
__ADS_1
Dayan menganggukkan kepala. “Iya, Pak.”
Setelah Hutomo dan Tomi resmi jadi pengacara Dayan, mereka pun menjawab somasi dari pengacara Binsar dan juga Norman. Para pengacara itu bertemu dan saling bernegoisasi. Pengacara dari pihak Norman sangat susah untuk diajak berkompromi, tapi akhirnya terjadi kesepakatan yang awalnya Dayan diminta untuk mengembalikan lima ratus juta, akhirnya kembali ke perjanjian awal sebesar empat ratus lima puluh juta. Pihak Norman tidak mau kalau hanya dibayar tiga ratus juga atau pokoknya saja. Terjadilah sebuah kesepakatan baru, mereka memberi tambahan waktu satu bulan untuk Dayan mengembalikan empat ratus juta rupiah.
“Bu, bisa tidak mencarikan lagi uang seratus lima puluh juta?” tanya Dayan pada Bestari saat mereka bertemu.
Bestari menatap suaminya itu dengan kesal. “Tidak bisa. Bapak pikir uang seratus lima puluh juta itu kecil? Itu jumlahnya besar, Pak. Ratusan juta. Kalau hanya sepuluh juta aku masih bisa bantu untuk mencari,” jawab Bestari.
“Ibu cobalah hubungi teman-teman Ibu yang kaya-kaya itu. Nanti kalau bisa jaminannya sertifikat rumah itu, Bu,” bujuk Dayan.
Bestari menggelengkan kepala. “Tidak bisa. Kenapa Bapak tidak minta sama Royani saja uangnya? Minta dia buat nyari seratus lima puluh juta. Lagian hutang kemarin juga dia yang pakai ‘kan? Kalian yang hutang kok aku yang ikutan pusing,” cerocosnya.
“Ya itu rumahnya dia bisa kan buat jaminan pinjaman,” ketus Bestari.
“Tidak bisa. Dia itu hutangnya banyak, di mana-mana. Semuanya sudah digadaikan,” ujar Dayan.
Bestari tersenyum sinis. “Nah, Bapak sama Royani sudah cocok banget itu. Sama-sama suka berhutang. Sudah Pak, kembali saja sana sama Royani,” sindirnya.
“Bu, tolonglah. Kalau aku tidak bisa membayar Norman, aku nanti akan dipenjara. Ibu juga tidak ingin ‘kan rumah itu hilang.” Dayan kembali coba membujuk istri sahnya itu tanpa menghiraukan sindiran Bestari.
__ADS_1
“Biar saja Bapak dan Royani dipenjara. Itu semua ‘kan akibat perbuatan kalian. Yang punya masalah kalian, tapi aku ikut diseret. Kalian berani berbuat ya harus berani bertanggung jawab. Jangan jadi pengecut yang suka melarikan diri dari masalah,” ucap Bestari meluapkan kekesalannya.
“Ibu tega melihatku dipenjara?” Dayan memandang istri yang sudah dinikahi selama tujuh belas tahu itu.
Bestari kembali tersenyum sinis. “Kenapa tidak tega? Bapak saja tega sama aku kok. Kalau Bapak tega masa aku tidak boleh tega. Bapak ‘kan kasihannya cuma sama Royani. Kalau sama aku tidak kasihan sama sekali.”
Bestari melipat kedua tangannya. “Bapak itu kaya pohon pisang, punya jantung tapi tidak punya hati,” ucap ibu dua anak itu dengan ketus.
“Iya, Bu. Aku tahu aku salah. Aku juga sudah minta maaf sama Ibu. Apa Ibu belum memaafkan aku?” Dayan memegang pergelangan tangan istri sahnya itu.
Bestari menatap marah pada Dayan. “Lepaskan, Pak.” Dia menghempaskan tangannya agar terlepas dari pria yang masih menjadi suaminya itu.
“Jangan pegang-pegang aku lagi. Aku sudah tidak mau disentuh sama Bapak. Aku jijik.” Bestari menjauhkan diri dari Dayan. Dia pindah tempat duduk agar lebih berjarak dan Dayan tidak menyentuhnya lagi.
Pria berusia empat puluh dua tahun itu hanya bisa menghela napas pasrah. Istri yang seharusnya bisa dia sentuh kini tak mau lagi bersentuhan dengannya. Semua akibat kebodohan karena menuruti keinginan hatinya saja tanpa berpikir panjang.
“Bu, apa yang harus aku lakukan agar Ibu mau memaafkan aku?” tanya Dayan dengan lembut.
Bestari menatap tajam Dayan. “Ceraikan aku, Pak!”
__ADS_1