Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 24


__ADS_3

Ratna sudah tertidur pulas saat jam di dinding baru menunjukkan pukul 8.00 malam. Padahal biasanya putri bungsu Bestari itu tidur pukul 9.00 malam. Mungkin dia kecapekan setelah les di sekolah dan ditambah tadi menangis. Karena pada umumnya orang yang habis menangis jadi mengantuk dan mudah terlelap.


“Ri, kamu sedang belajar?” tanya Bestari pada putri sulungnya yang tampak berkutat dengan buku.


“Iya, Bu. Besok mau ada ulangan,” jawab Riri. “Ibu, mau bicara?” Gadis itu mendongak menatap sang ibu yang sedang duduk dengan netra menatap ke arah layar televisi.


Bestari menoleh pada Riri. “Selesaikan dulu belajarmu,” ucapnya.


“Iya, Bu.” Riri kembali menekuri buku-bukunya sementara Bestari menonton televisi, meski kenyataannya pikirannya malah berkelana. Banyak hal dipikirkan Bestari termasuk rumah tangga dan masa depannya dengan anak-anak nanti.


“Alhamdulillah,” ucap Riri setelah selesai mempelajari materi untuk ulangan esok hari. Dia kemudian merapikan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas sesuai dengan jadwal pelajaran yang dibuat oleh sekolah.


“Aku sudah selesai belajar, Bu.” Riri duduk di samping wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu.


Bestari menoleh pada Riri, kemudian tersenyum. Dia mengubah posisi duduk agak miring agar bisa berhadapan dengan putri sulungnya itu. “Ri, bagaimana perasaanmu setelah mendengar rumah kita sudah terjual?” tanyanya.


Riri diam sejenak. Gadis itu sudah menduga sang ibu akan menanyakan hal itu saat mereka hanya berdua. “Tentu saja sedih dan kecewa, Bu,” jawabnya sembari menunduk.


“Tapi, mau bagaimana lagi. Kita juga tidak bisa menolak ‘kan, Bu?” Gadis kelas tiga SMP itu mendongak, memandang sang ibu.

__ADS_1


Bestari menganggut. “Itu memang solusi terbaik untuk saat ini, Ri. Utang Bapak pada rentenir lunas jadi tidak dikejar-kejar lagi dan pusing kapan akan bisa membayar.” Dia menghela napasnya. “Tidak apa-apa ‘kan kita sementara tinggal di sini dulu? Doakan saja semoga tanah Ibu segera laku jadi kita bisa tinggal di rumah yang lebih layak.”


“Aamiin,” sahut Riri. “Bu, kalau barang-barang di sana kita ambil, nanti barangnya akan ditempatkan di mana? Di sini kan sempit sekali, Bu. Tidak mungkin ‘kan kita taruh di sini semua barangnya?” tanyanya kemudian.


“Itu juga yang sedang Ibu pikirkan, Ri. Ibu harus mencari tempat yang luas untuk tempat semua barang-barang kita. Kalau bisa di dekat sini biar tidak repot nantinya,” jawab Bestari.


“Sewa rumah, Bu?” tebak Riri.


“Bisa rumah, gudang, atau ruko. Yang kira-kira bisa muat untuk barang-barang kita. Nanti ibu akan coba cari informasi dulu,” ujar Bestari.


Riri menganggut. “Terus nanti Bapak tinggal di mana, Bu? Tidak di sini ‘kan?” tanya Riri lagi.


Riri mengangguk. “Iya, Bu. Aku ngerti. Aku juga tidak terima karena Bapak mengkhianati Ibu bahkan sampai punya istri lagi. Kalau bisa, rasanya aku tidak ingin kenal sama Bapak lagi. Tapi itu semua tidak mungkin ‘kan, Bu. Bagaimanapun Bapak tetap orangtuaku selain Ibu. Aku akan selalu mendukung Ibu, dan tetap sama Ibu. Aku tidak mau sama Bapak.”


Bestari tersenyum lebar lalu memeluk anak sulungnya itu. Menyalurkan rasa sayang dan terima kasihnya pada Riri. “Terima kasih sudah mau mengerti, Ibu. Maafkan ibu dan Bapak yang sudah membuatmu kecewa dan sedih. Maafkan ibu yang tidak bisa memberikan keluarga yang sempurna untukmu dan Ratna. Maaf, saat seharusnya kamu hanya fokus belajar, tapi malah ikut memikirkan masalah ini,” ucapnya. Tanpa terasa air mata sudah mengalir di pipi.


“Ini bukan salah, Ibu, tidak perlu minta maaf. Aku malah senang kalau Ibu mau cerita, biar Ibu tidak menyimpan beban sendiri. Aku sayang sama Ibu. Aku akan terus sama Ibu sampai kapan pun,” sahut Riri sambil membalas pelukan sang ibunda tercinta.


Bestari mengangguk. “Ibu juga sayang sama kamu dan Ratna. Kalian berdua sumber kekuatan ibu untuk bertahan.” Selama beberapa saat ibu dan anak itu saling memeluk dengan erat. Saling menguatkan di tengah cobaan yang menimpa keluarga mereka.

__ADS_1


***


Pagi itu, Dayan bangun tidur penuh semangat. Semua masalah yang selama ini mendera, akhirnya akan berakhir hari ini. Masalah yang datang karena kebodohan yang dilakukannya. Yang pada akhirnya menghancurkan keluarganya sendiri.


Sepulang dari masjid, Dayan menjerang air sambil mencuci beras. Setelah bersih, beras dimasukkan ke dalam magic com dengan diberi air secukupnya. Sesudah itu menekan tombol penanak nasi. Hal yang dahulu tidak pernah dia lakukan sewaktu Bestari masih tinggal di rumah itu. Pria itu hanya ongkang-ongkang kaki sambil menonton televisi atau bermain gawai sementara sang istri di dapur. Kini semua harus dilakukannya sendiri. Memasak, mencuci, menyapu, dan pekerjaan rumah lainnya.


Sambil menunggu air mendidih, Dayan mencuci alat makan dan masak yang ada di sink. Sesudah airnya mendidih, dia memasukkan air panas ke dalam termos dan membuat segelas susu. Baru kemudian duduk di depan televisi sambil menikmati susu untuk memperkuat tulang.


Begitu langit mulai terang, Dayan ke luar rumah untuk menyapu halaman. Sesudah itu pergi ke warung untuk membeli sayur matang dan lauk karena dia tidak bisa memasak. Seperti itu kegiatannya setiap hari usai Bestari meninggalkan rumah dan tinggal sendiri. Melakukan semua hal yang dahulu tak pernah dikerjakannya.


Sesudah mandi dan menikmati sarapan, Dayan menghubungi dokter Rani, menanyakan bukti transfer untuk pembayaran yang 250 juta berikutnya. Tak lama dokter Rani mengirimkan bukti transfer pembayaran kedua sebesar 250 juta. Dayan menghela napas lega dan mengucapkan terima kasih pada dokter Rani. Kini dia bisa berangkat ke tempat notaris Binsar Hasiholan dengan langkah ringan.


Dayan dan Norman sepakat bertemu di notaris yang dahulu mencatatkan perjanjian mereka. Karena sertifikat milik Dayan juga disimpan di sana. Jadi berawal di sana, diakhiri juga di sana.


Sebelum berangkat, Dayan menghubungi Tomi, pengacaranya. Mengingatkan kalau pagi ini dia akan melunasi utangnya pada Norman. Dayan memang meminta Tomi menjadi saksi agar kalau ada perkara hukum lain yang mungkin nanti dilakukan oleh pihak Norman, sang pengacara bisa membantunya. Selain Tomi, pria itu juga meminta sang makelar juga ikut sebagai saksi dari pihak dokter Rani.


Dayan tak lupa mengirim pesan pada Bestari sebelum pergi. “Assalamu’alaikum, Bu. Insya Allah nanti aku melunasi utangku sama Norman. Tolong doakan semoga semuanya dilancarkan,” begitu tulisnya.


“Aamiin,” balas Bestari tak lama kemudian. Dayan tersenyum usai membaca balasan dari sang istri. Setelah memastikan penampilannya rapi dan mengunci semua pintu, pria itu pun pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


Jogja, 141011 08.37


__ADS_2