Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 30 (Ending)


__ADS_3

Dayan akhirnya menyerahkan kunci rumah pada dokter Rani dan resmi pindah ke rumah Titik. Dia tinggal sendiri di sana tanpa istri dan anak. Para tetangga pun sudah mulai tahu apa yang terjadi pada rumah tangga Dayan dan Bestari. Entah berita dari mana hingga mereka tahu kalau Dayan sudah mengkhianati Bestari dan punya istri lagi. Tidak hanya tetangga, tetapi juga kerabat dan teman-teman mereka.


Beberapa kali kerabat dan teman-teman Bestari bertanya padanya, dia hanya menjawab dengan senyum atau meminta mereka bertanya langsung pada Dayan. Bestari malas harus menjelaskan apa yang terjadi karena itu juga merupakan aibnya. Mau serapat apa pun mereka menyimpan hal tersebut, lama-kelamaan akhirnya akan terbuka juga. Apalagi mereka sudah tidak tinggal seatap. Setiap ada acara keluarga pun, mereka berangkat sendiri-sendiri.


Bestari akhirnya bisa membangun rumah sendiri karena tanah warisannya terjual. Dia sangat bersyukur di saat tertimpa musibah, ada kabar baik yang datang. Impiannya untuk tinggal di rumah yang layak sebentar lagi akan terwujud. Bukannya ruko tidak layak untuk ditinggali, tapi kalau mereka ada tamu atau acara keluarga jadi kerepotan karena kondisi ruangan yang sempit.


Bestari mempercayakan pembangunan rumahnya pada Wildan yang sudah berpengalaman. Dia yakin pria berkacamata itu tidak akan membohonginya. Dari mulai desain sampai pembangunan, semua ditangani oleh Wildan. Bestari hanya tinggal bilang ingin rumahnya seperti apa dan berapa biaya yang dipunya, nanti akan diolah oleh Wildan. Jadi, ibu dua anak itu tidak perlu repot mengurusi banyak hal, tinggal memantau pembangunan, membayar, dan menerima kunci rumah saat rumah selesai.


Begitu Dayan tahu kalau Bestari membangun rumah, setiap hari dia datang ke ruko. Kebetulan Bestari memang membuat rumah di samping ruko. Di tanah yang sebenarnya dibeli oleh Dayan, tapi diserahkan padanya sebagai ganti rugi biaya yang sudah dikeluarkan Bestari untuk membangun rumah mereka dahulu. Memang Bestari tetap meminta ganti pada Dayan karena dia tidak terima begitu saja rumah yang sudah dibangun dengan susah payah harus dijual. Apalagi uangnya yang dipinjam pada rentenir dipakai oleh Royani. Sebelum memutuskan rumah tersebut dijual, Bestari dan Dayan memang menandatangani surat perjanjian kalau Dayan menyerahkan tanahnya pada Bestari sebagai ganti gono gini.


Dayan ikut campur dalam pembangunan rumah tersebut hingga membuat Bestari meradang.


"Pak, sudah diam saja tidak usah banyak komentar atau meminta macam-macam. Semua sudah aku serahkan sama Mas Wildan," seru Bestari yang kesal karena sikap mengatur Dayan.


"Aku 'kan cuma membenarkan biar rumahnya jadi bagus dan kuat. Bukannya mau mengatur," sahut Dayan dengan santai seperti biasa. Tak ada rasa bersalah sedikit pun.


"Kalau Bapak meminta hal yang lain, nanti akan merubah jumlah biayanya. Sudah, jangan macam-macam lagi. Kalau mau lihat dan mengawasi pembangunan silakan, tapi jangan ikut campur. Bapak tidak perlu ke sini kalau hanya untuk membuat kacau," tegas Bestari yang jadi sering meningkat emosinya sejak kehadiran Dayan.


Pria berusia 42 tahun itu menghela napas panjang. Menurutnya apa yang dilakukan demi kebaikan Bestari, tapi istrinya itu malah menyalahkan dia. "Bu, berapa total pembangunan rumahnya?" tanyanya saat situasi sudah mulai mendingin.


Bestari menoleh pada Dayan dengan tatapan sengit. "Buat apa Bapak tanya-tanya apa mau bayarin?" tantangnya.


"Aku belum punya uang, Bu. Bagaimanapun aku ini masih suamimu, jadi aku juga ingin tahu soal pembangunan rumah itu," timpal Dayan.


"Lima ratus juta. Bapak tidak perlu mengurusi pembangunan rumah itu. Lebih baik Bapak urusi saja Royani yang kabur itu," ucap Bestari dengan ketus.


"Aku memang tetap akan mengurus uangku sampai kembali," aku Dayan.


Bestari tersenyum sinis. "Ya, kalau kembali. Kalau enggak?"


"Aku yakin pasti kembali. Royani sudah janji," jawab Dayan penuh percaya diri.


Bestari tertawa kecil. Tawa yang lebih terkesan mengejek pada suaminya. "Bapak masih percaya sama Royani? Lebih baik Bapak kembali sama Royani saja sana."


Dayan diam. Tak menimpali apa yang dikatakan Bestari. Entah apa yang akan terjadi nanti, tapi niatnya sekarang ingin memperbaiki hubungannya dengan Bestari dan kedua anaknya. Berharap mereka bisa berkumpul kembali setelah rumah tersebut selesai dibangun.


Waktu begitu cepat berlalu, Riri dan Ratna akhirnya sudah menyelesaikan ujian kelulusan mereka. Kini mereka tinggal menunggu saat pengumuman kelulusan dan keluarnya nilai ujian. Bestari bersyukur kedua anaknya tetap rajin belajar meski keadaan mereka tidak sempurna seperti dahulu. Suatu malam, Bestari mengajak kedua anaknya berbicara dari hati ke hati.


"Riri, Ratna, ibu mau bicara serius dengan kalian berdua. Kalian sama-sama sudah selesai ujian kelulusan, ibu rasa ini waktu yang tepat untuk bicara." Bestari memandang kedua buah hatinya secara bergantian.


"Ada apa sih, Bu?" tanya Ratna yang memang belum tahu masalah sebenarnya pada rumah tangga kedua orang tuanya. Dia hanya tahu kalau ibunya marah karena bapaknya meminjam uang pada rentenir jadi harus menjual rumah mereka. Sementara itu Riri hanya diam, karena sudah menduga cepat atau lambat semua pasti terjadi.

__ADS_1


"Riri, Ratna, ibu minta maaf karena tidak bisa memberikan keluarga yang sempurna pada kalian berdua. Ibu dan Bapak sudah tidak bisa kembali bersama lagi karena ibu sudah dikhianati dan tidak bisa percaya lagi dengan Bapak," ujar Bestari sambil menggenggam kedua tangan anaknya yang duduk berhadapan dengannya.


Ratna tampak bingung mendengar ucapan ibunya. "Maksud ibu apa tidak bisa kembali bersama Bapak? Mengkhianati bagaimana, Bu? Apa Bapak selingkuh?" cecarnya.


Bestari menghela napas panjang. "Apa pun yang sudah Bapak lakukan, dia tetap Bapak kalian. Sampai kapan pun hubungan darah kalian tak akan bisa putus meskipun tidak hidup bersama. Berbeda dengan ibu yang bisa memutuskan hubungan pernikahan dan mungkin kami malah jadi berteman atau bersaudara setelah berpisah."


Bestari menatap Ratna penuh cinta. "Maafkan ibu harus menceritakan hal ini karena ibu tidak mau kamu mendengarnya dari orang lain. Sebenarnya Bapak sudah menikah dan punya istri selain ibu."


"Apa? Bapak punya istri lagi? Tidak mungkin." Ratna menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak mau mempercayai apa yang dikatakan oleh sang ibu. Meskipun bapaknya memang kurang perhatian, suka memaksa, dan selalu meminta uang pada ibunya, tapi gadis itu tidak pernah menduga bapaknya sampai beristri lagi.


Bestari tersenyum. "Ibu tahu, pasti sangat sulit percaya, tapi ibu tidak bohong, Ratna. Kalau kamu tidak percaya tanya sendiri sama bapak. Rumah itu dijadikan jaminan pada rentenir karena Bapak berutang untuk istri mudanya," jelasnya.


Ratna menangis begitu mendengar penjelasan Bestari. "Bapak jahat! Aku benci sama Bapak! Aku tidak mau ketemu Bapak lagi!" teriaknya dalam tangisan.


Gadis berusia 13 tahun itu begitu syok mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan. Tidak saja untuknya, tapi untuk mereka bertiga. Terutama sang ibu yang jelas merasakan sakit yang teramat sangat. Dia baru paham kenapa ibunya baru menyampaikan sekarang. Pasti ibunya takut kalau dia tahu apa yang terjadi sebelum ujian kelulusan, konsentrasinya akan buyar karena memikirkan kedua orang tuanya.


Bestari langsung memeluk Ratna yang menangis. Dia pun diam-diam ikut mengeluarkan air mata. "Maafkan, ibu," ucapnya lirih sembari mengelus punggung putri bungsunya itu. Selama beberapa saat, ibu dan anak itu saling berpelukan. Bestari mengurai pelukan setelah Ratna mulai tenang.


"Ibu akan mengajukan cerai dan berpisah dengan Bapak, tapi kalian tetap akan menjadi tanggung jawab kami bersama. Kalian mau sama ibu atau Bapak setelah kami berpisah, itu kalian yang menentukan. Meskipun ibu dan Bapak berpisah, tapi ibu akan tetap menyayangi dan mencintai kalian seperti biasa. Bahkan mungkin akan lebih banyak karena kalianlah yang sekarang jadi semangat untuk ibu bekerja," ujar Bestari seraya memandang kedua putrinya secara bergantian. "Kalian mengizinkan 'kan kalau ibu bercerai dari Bapak?"


Riri dan Ratna saling bertatapan selama beberapa saat. Mereka sama-sama saling mengangguk.


"Kalau Ibu memang lebih bahagia dan tenang tanpa Bapak, aku setuju saja, Bu. Aku tidak rela Ibu diduakan. Aku juga sakit hati sama Bapak." Riri mengeluarkan pendapatnya terlebih dahulu.


Bestari menghela napas lega. Senyum mengembang sempurna di bibirnya. "Terima kasih sudah mengizinkan ibu berpisah sama Bapak. Bukannya ibu egois hanya mementingkan keinginan ibu sendiri, tapi seperti kalian tahu, setiap ibu dan Bapak bertemu, pasti kami selalu bertengkar. Ibu tidak ingin kalian mendengar atau melihat pertengkaran kami setiap saat. Itu benar-benar bukan hal yang baik."


"Iya, Bu. Kami mengerti kok. Sejujurnya kami, terutama aku sedih setiap mendengar atau melihat Bapak dan Ibu bertengkar. Hidup kami juga lebih tenang selama di sini tanpa mendengar pertengkaran Ibu dan Bapak. Meskipun kalau Bapak ke sini, kami tetap mendengar pertengkaran, tapi 'kan tidak setiap hari." Riri mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.


Hati Bestari tercubit mendengar ucapan sang putri sulung. Ternyata selama ini tanpa disadari, dia dan Dayan sudah menyakiti hati anak-anaknya. "Maafkan ibu dan Bapak kalau selama ini menyakiti hati kalian. Kami sering tanpa sadar bertengkar di hadapan kalian."


"Ibu tidak salah. Memang bapak yang sering memulai pertengkaran," timpal Riri.


"Maafkan ibu dan bapak yang tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna untuk kalian. Tidak bisa memberikan kebersamaan seperti keluarga lainnya. Maafkan atas semua kekurangan kami yang tidak bisa memberikan kalian kebahagiaan sebagai keluarga yang sempurna. Maafkan kalau nanti kalian akan ditanya atau diejek karena ibu dan bapak berpisah." Bestari terus meminta maaf pada kedua putrinya karena merasa sangat bersalah pada mereka.


Perceraian itu selain karena kesalahan Dayan, tentu saja sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa. Sebelum mengambil keputusan bulat untuk bercerai, Bestari sudah meminta petunjuk pada Allah agar ditunjukkan jalan yang terbaik untuk mereka. Meskipun Allah membenci perceraian, tapi Allah membolehkan. Dengan mempertimbangkan antara kebaikan dan mudaratnya, ternyata lebih banyak mudaratnya. Tidak baik untuk kesehatan mental anak-anaknya.


Setelah berbicara dengan anak-anak dan mendapat izin dari mereka, Bestari menghubungi pengacara untuk mengurus gugatan cerainya pada Dayan. Dia menyiapkan KTP, Kartu Keluarga dan juga buku nikah. Hal yang lainnya nanti akan disiapkan oleh pengacaranya. Tentu saja materi gugatan sesuai apa yang diceritakan Bestari pada sang pengacara.


Dayan terkejut saat mendengar surat panggilan dari Pengadilan Agama karena selama bertemu dengan Bestari, istrinya itu tidak pernah membicarakan kalau akan menggugat cerai. Dia pikir hubungannya sudah baik-baik saja. Mereka pun sudah jarang bertengkar dan lebih banyak diam kalau bertemu. Dayan langsung menemui Bestari usai membaca surat panggilan itu.


"Ibu serius mau menggugat cerai?" tanya Dayan begitu bertemu dengan Bestari tanpa memedulikan ada orang lain di sana.

__ADS_1


"Iya. Sebaiknya kita bicara di dalam, jangan di sini," jawab Bestari dingin. Dia masuk ke dalam ruko lalu duduk di ruangan serbaguna. Dayan pun mengekori wanita yang masih menjadi istrinya itu.


"Kenapa Ibu tidak bilang kalau mau menggugat  cerai? Kita 'kan bisa membicarakan dulu hal ini secara baik-baik, tidak main belakang seperti ini. Aku 'kan juga sudah bilang tidak akan menceraikan Ibu," protes Dayan.


Bestari tersenyum sinis. "Buat apa aku bilang sama Bapak, pasti Bapak juga tidak mau 'kan? Sama seperti saat Bapak menikahi Royani tanpa bilang dulu sama aku. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi semuanya sudah jelas. Kalau Bapak tidak mau menceraikan aku ya terserah. Aku akan mengatakan semuanya termasuk memalsukan tanda tanganku. Kalau perlu aku lapor pada polisi. Sampai hari ini aku tidak terima tanda tanganku dipalsukan. Biar Bapak dan Royani sama-sama masuk penjara," ancam Bestari.


"Bukannya Bapak juga lebih diuntungkan kalau kita bercerai? Bapak bisa kembali dengan Royani dan nikah secara sah. Bisa di-facial dan di-creambath tiap hari tanpa harus membayar. Bahkan dilayani lebih dari itu. Bapak tidak perlu lagi menagih uang karena itu juga dipakai sama istri Bapak yang sekarang entah ada di mana? Nyatanya sudah beberapa bulan berlalu tidak ada perkembangan 'kan?" Bestari menatap tajam suaminya. Seandainya membunuh itu tidak dosa tentulah sudah di bunuh pria yang sudah sangat menyakitinya dan merendahkan harga dirinya itu.


"Apa Ibu mengancam dan mengejekku?" Dayan balas menatap istrinya dengan tatapan memelas.


"Kalau Bapak tidak mau menceraikan aku, terpaksa aku lakukan. Apa perlu aku buka semua hal yang Bapak lakukan? Bapak tidak pernah memberi nafkah dan selalu bergantung sama aku. Tapi di belakangku punya istri lagi dan malah memberi nafkah sama dia bahkan rela mengorbankan rumah demi dia. Bapak dan dia juga berani memalsukan tanda tanganku," ucap Bestari geram. Dadanya naik turun dengan cepat karena emosi yang dirasakannya. "Bapak sudah benar-benar menginjak harga diriku, dan aku tidak terima diperlakukan seperti itu."


Bestari mengambil napas panjang sebelum kembali  bicara. "Aku selama ini sudah banyak mengalah sama Bapak. Aku diam meskipun Bapak tidak pernah memberiku uang. Aku rela membiayai kebutuhan rumah dan juga anak-anak. Kadang Bapak malah minta uang sama aku. Masih kurang apa aku sama Bapak? Aku sudah menahan diri tidak melaporkan Bapak ke polisi demi menjaga hati anak-anak agar tidak malu punya Bapak seorang penipu. Kalau Bapak memaksa, apa boleh buat. Aku akan melakukannya. Dan ingat, Pak, jangan pernah meminta harta gana-gini. Semua yang ada di sini kubeli pakai uangku. Kalau Bapak meminta gana-gini dan mempersulit perceraian, aku pasti akan mengambil tindakan yang akan mempermalukan Bapak." Bestari mengeluarkan apa saja yang ada di pikirannya. Dia sudah tidak akan memberi toleransi pada Dayan karena hati dan pikirannya sudah lelah. Sudah cukup selama ini dia diam dan mengalah.


Dayan terdiam setelah Bestari mengungkapkan semua kesalahan Dayan dan isi hati Bestari sendiri. Dia tidak bisa dan tak kuasa membalas sang istri. Pria itu sangat sadar akan kesalahannya yang memang sangat fatal dan sulit untuk dimaafkan. Kalau pun ada yang rela memaafkan, mungkin wanita itu hatinya sangat mulia dan kesabarannya seluas samudra. Dan, Bestari hanya wanita biasa yang sudah tidak sanggup menaruh kepercayaan lagi pada suaminya.


---TAMAT---


Jogja, 261022 12.23


Assalamu'alaikum wr. wb.


Alhamdulillah, akhirnya selesai juga menulis cerita yang cukup menguras emosi ini. Semoga apa yang tersaji dalam cerita ini bisa diambil pelajarannya.


Jangan pernah mengkhianati orang yang sudah bersusah payah dengan kita. Kalaupun kita dikhiantai, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Segera move on karena ada hal lain yang lebih baik untuk kita di depan.


Hargai dan hormati orang-orang di sekitar yang sudah banyak membantu dan mendukung kita.


Jangan mengatasnamakan agama untuk melakukan sesuatu yang menjadi kontroversi (seperti poligami) bila tidak punya ilmu dan kemampuan yang mencukupi.


Terima kasih pada teman-teman yang sudah membaca cerita ini dari awal sampai akhir. Mohon maaf bila sampai terbawa emosi karena jalan ceritanya yang menjengkelkan. Memang begitulah adanya.


Tiga cerita saya yang ada di sini sudah tamat semua, jadi saya sudah tidak punya tanggungan lagi.


Terima kasih yang sudah membaca 'Romansa Cinta Senior Junior', 'Cinta Halal Sang Senior', dan 'Gelas Pecah'. Mohon maaf kalau sempat menggantung cerita karena kesibukan di rumah tetangga. Sampai bertemu lagi di cerita saya selanjutnya, entah di sini atau di tetangga.


Untuk mengetahui cerita apa yang sedang saya kerjakan, sila follow IG @kokoro.no.tomo.82 atau mari berteman di facebook kokoronotomo82 (sila inbok kalau lama tidak saya konfirmasi). Atau follow akun saya di sini, bila suatu hari nanti saya menulis lagi di sini.


Sekali lagi terima kasih semuanya. Salam sayang untuk semua Teman Hati.


Wassalamu'alaikum wr. wb.

__ADS_1


Kokoro No Tomo (Ayaka Kirei)


__ADS_2