
“Bagaimana ini, Mas?” tanya Bestari pada Wildan setelah Erwin dan Norman pergi.
“Mereka sebenarnya juga takut, Bu, karena tidak mau berdebat dan langsung pergi begitu saja,” jawab Wildan.
“Dengan mereka meminta Pak Dayan dan Royani menandatangani surat pernyataan kalau sudah memalsukan tanda tangan, berarti secara tidak langsung mereka mengakui kelalaian mereka. Kalau kita mau tetap maju ya bisa, Bu, melalui jalur hukum. Tapi mungkin nanti konsekuensinya, Bapak bisa dipenjara,” sambung Wildan.
“Ya, dia sudah melakukan tindak pidana, mau dipenjara juga saya tidak peduli, Mas. Hati saya sudah sakit banget. Saya sudah banyak dibohongin dan dimanfaatkan selama ini sama suami saya sendiri,” ucap Bestari dengan kesal.
“Ini semua tergantung sama keputusan Ibu, kalau mau maju ke jalur hukum ya bisa lewat pengacara. Nanti Ibu saya kenalkan dengan pengacara kenalan saya kalau bersedia. Bicara dulu tidak apa-apa. Masalah mau pakai jasanya atau tidak, nanti bisa dipertimbangkan setelah bertemu dengan beliau.”
“Ya, nanti saya pikirkan dulu, Mas. Kalau mau pakai pengacara kan juga bayar jasanya. Sementara uang saya juga mepet, Mas.”
“Soal biayanya, nanti Ibu tanya sendiri pada beliau karena saya juga tidak tahu. Niat saya hanya ingin membantu dan menghubungkan Ibu dengan beliau.”
“Ya, Mas. Terima kasih. Nanti saya hubungi Mas Wildan kalau memang mau memakai jasa pengacara.”
“Baik, Bu. Kalau begitu saya pamit pulang dulu.” Wilda berdiri dari duduknya.
“Ya—ya, terima kasih sekali lagi, Mas. Salam ya buat istrinya.” Bestari ikut berdiri lalu mengantar tamunya itu sampai di teras.
__ADS_1
Setelah pria berkacamata itu pergi, Bestari masuk ke dalam rumah. Menutup lalu mengunci pintu depan. Sesudah itu dia keluar melalui pintu samping dan mengunci pintu itu kembali. Baru kemudian mengendarai motornya kembali ke kantor. Waktu jam pulang kantor masih satu jam lagi. Sebenarnya dia bisa langsung pulang tapi wanita itu ingin bertemu dengan sang pimpinan untuk berkonsultasi.
Bestari mengetuk pintu sang pimpinan yang terbuka. Seorang wanita berusia lima puluh tahun dengan wajah yang teduh menyambutnya dengan senyuman. “Ayo masuk, Tari,” ucapnya.
“Terima kasih, Bu.” Bestari masuk ke ruangan tersebut. “Sore, Bu. Maaf mengganggu waktu Bu Sari lagi,” ucapnya.
“Tidak apa-apa. Aku pikir kamu sudah pulang. Bukannya tadi sudah izin?” Pimpinan Bestari itu mengerutkan kening.
“Iya, Bu. Tapi saya kembali ke sini lagi karena ingin berkonsultasi dengan Ibu.”
Wanita berusia lima puluh tahun itu mengangguk-angguk. “Ayo duduk, kenapa masih berdiri? Katanya mau berkonsultasi. Tapi aku tidak bisa janji ya bisa memberikan solusi. Kemungkinan besar, aku hanya bisa sedikit meringankan beban agar hatimu lebih lega,” ujar Sari.
Bestari duduk di kursi di hadapan sang pimpinan. “Iya, Bu, tidak apa-apa. Saya sudah menganggap Ibu Sari ini seperti Ibu saya sendiri. Ibu juga yang sudah tahu masalah saya dengan suami, jadi lebih baik saya ceritanya sama Ibu saja.”
Bestari menghela napas panjang sebelum bicara. “Tadi gagal negosiasinya, Bu. Perwakilan saya dan pihak sana sama-sama terpancing emosi. Pihak sana juga bersikeras tidak mau membicarakan soal pemalsuan tanda tangan, Bu. Kami sudah coba menggertak kalau akan melaporkan mereka, tapi entahlah, Bu. Saya bingung sekarang.”
“Apa yang kamu bingungkan, Tari?” tanya Sari dengan lembut.
“Saya bingung mau melanjutkan kasus pemalsuan tanda tangan itu ke polisi atau tidak, Bu. Tapi kalau maju, berarti saya juga harus membayar pengacara. Sementara uang saya juga mepet, Bu.” Bestari menghela napas panjang.
__ADS_1
“Memangnya berapa jasa pengacaranya?” Sari menatap wanita yang duduk di hadapannya itu.
Bestari menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu, Bu. Saya belum berkonsultasi. Mas Wildan, yang sudah membantu saya ada kenalan pengacara. Kalau saya mau, saya bisa konsultasi ke dia dulu, Bu.”
“Kamu sendiri mantap tidak pakai pengacara? Kamu juga harus memikirkan konsekuensi kalau kasus pemalsuan tanda tangan itu dilaporkan ke polisi. Paling tidak kamu pasti akan dimintai keterangan sama polisi. Kamu juga harus datang ke pengadilan untuk memberi kesaksian sebagai saksi pelapor. Apa kamu siap?”
“Selain itu kemungkinan nanti suami kamu juga akan masuk penjara, apa kamu juga siap? Setidaknya pikirkan juga bagaimana perasaan anak-anakmu nanti. Bisa jadi mereka akan minder atau tertekan saat bapak mereka dipenjara. Mereka bisa jadi bahan ledekan teman-teman kalau ada yang tahu soal itu,” sambung Sari.
Bestari kembali menghela napas panjang. “Iya, Bu. Saya pun memikirkan soal itu. Bagaimana perasaan anak-anak kalau saya melaporkan bapaknya. Tapi, saya benar-benar tidak terima karena tanda tangan saya dipalsukan. Apalagi sama istri muda suami saya, Bu.”
“Aku tahu bagaimana perasaanmu, Tari. Aku pun kalau jadi kamu juga pasti akan marah dan tidak terima. Tapi ini bukan hanya perkara kita marah, ada anak-anak di antara kalian. Mungkin kalau Dayan itu bukan suamimu, kamu akan lebih mudah mengambil keputusan. Dayan bukan hanya suami, tapi bapak dari kedua anakmu, Tari. Coba kamu pikirkan lagi baik-baik.” Sari kembali memandang Bestari yang terlihat gelisah. Wajahnya tampak sedikit kacau.
“Ada baiknya juga kalau kamu ketemu dengan pengacara itu untuk konsultasi. Kira-kira langkah apa saja yang bisa ditempuh. Baik diselesaikan secara damai atau lewat pengadilan. Aku rasa pengacara itu bisa memberi beberapa pilihan karena dia orang yang tahu hukum,” saran Sari dengan bijak.
“Soal biaya, kamu tidak usah pikirkan. Kalau memang kamu tidak ada, aku siap membantu,” imbuh wanita berwajah teduh itu.
Bestari mendongak, memandang pimpinannya itu. Dia tidak percaya wanita di hadapannya itu menawarkan bantuannya. “Terima kasih atas tawarannya, Bu. Insya Allah selama masih mampu, saya akan membayar jasa pengacara sendiri. Saya tidak ingin berhutang pada Ibu. Bu Sari sudah sangat baik sama saya. Entah bagaimana saya bisa membalasnya.”
Sari tersenyum pada Bestari. “Aku bangga punya karyawan seperti kamu, Tari. Sangat tangguh dan tidak mudah menerima bantuan orang lain. Tidak mau merepotkan orang lain. Selalu mau berusaha sendiri selama masih mampu. Tapi, kita kadang juga butuh bantuan orang lain. Kita menerima bantuan bukan karena kita lemah dan tidak mampu. Tapi juga untuk menghargai bantuan yang diberikan orang lain. Percayalah Tari, aku tulus mau membantumu. Katamu, aku sudah kamu anggap seperti ibu buatmu, jadi apa salah kalau seorang ibu mau membantu anaknya?”
__ADS_1
Bestari menggelengkan kepala. “Tapi, saya tidak mau berhutang sama Bu Sari.”
“Apa seorang ibu memberi bantuan pada anaknya itu dihitung sebagai hutang? Tidak ‘kan? Aku membantumu dengan tulus, Tari. Tolong jangan kamu tolak bantuanku kali ini. Bisa ‘kan?”