Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 6


__ADS_3

*** Flashback ***


Dayan menghentikan kendaraan roda duanya di depan sebuah salon kecantikan wanita. Setelah memarkirkan motor dan melepas helm, dia pun masuk ke dalam salon tersebut.


“Selamat siang, Pak,” sapa seorang wanita yang mengenakan pakaian serba ketat di tubuhnya yang tidak bisa dibilang langsing tersebut. “Mau perawatan apa, Pak?” tanyanya dengan ramah.


“Mau facial sama creambath, Mbak,” jawab Dayan yang memang suka pergi ke salon wanita untuk perawatan wajah dan rambut.


“Mari ke dalam untuk facial, Pak,” ucap wanita tersebut. Dia berjalan di depan Dayan, lalu masuk ke sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk facial.


Dayan berbaring di atas ranjang facial. Melepas kacamata, lalu ditaruh di atas dadanya. Wanita tadi kemudian berdiri di depan ujung ranjang, menghadap puncak kepala Dayan.


“Bapak sering facial ya?” tanya sang pegawai salon sambil membersihkan wajah Dayan.


“Iya, lumayan. Paling tidak sebulan sekali,” jawab Dayan.


“Pantas, terlihat terawat. Tidak seperti kebanyakan pria,” ujar wanita berpakaian serba ketat itu. “Bapak, baru pertama kali ke sini ya?”


“Iya.”


“Pantas sepertinya belum pernah melihat. Biasanya kalau nyalon di mana, Pak?”


“Di daerah ....” Dayan menyebutkan nama salon dan alamatnya.


“Rumah Bapak di mana?”


Dayan kemudian menyebut alamat rumahnya.


“Kalau ke salon langganan jauh ‘kan, Pak. Ke sini saja kalau mau facial atau creambath, ‘kan lebih dekat,” bujuk wanita tadi sambil memasang penguap wajah.


“Ya, nanti dikasih nomornya. Kalau mau ke sini biar bisa janjian dulu,” sahut Dayan.


Wanita tadi mengangguk dan terus melakukan prosedur facial sampai selesai, baru kemudian kembali ke depan untuk creambath.  Rambut Dayan dikeramas dahulu sebelum diberi krim sekaligus dipijat.


“Segini pijatannya sudah pas, masih kurang atau terlalu kencang, Pak?” tanya pegawai salon tadi.


“Sudah cukup,” jawab Dayan sambil menutup mata karena menikmati pijatan di area kepala yang lalu dilanjutkan di leher dan bahu.

__ADS_1


Sekitar satu jam kemudian prosedur creambath selesai. Dayan merasa puas dengan pelayanan salon tersebut. Setelah membayar biaya perawatan, Dayan meminta nomor wanita yang tadi melakukan perawatan.


“Namanya siapa, Mbak?” tanya Dayan setelah mengetik nomor ponsel wanita tadi.


“Royani,” jawab sang pegawai salon. “Kalau, Bapak siapa?” tanyanya kemudian setelah mendapat pesan dari suami Bestari itu.


“Dayan.”


Sejak saat itu Dayan sering berbalas pesan dengan Royani. Janjian untuk perawatan atau untuk memberi bantuan kecil pada wanita tersebut. Dayan memang ringan tangan membantu orang, apalagi membantu seorang wanita. Dia pasti akan bergerak cepat kalau ada yang meminta bantuannya.


“Pak, aku mau punya suami lagi,” curhat Royani pada Dayan saat pria itu kembali melakukan perawatan di salonnya.


“Ya cari saja suami. Banyak ‘kan pria yang masih singgel,” sahut Dayan.


“Tapi rata-rata mereka semua tidak baik, Pak. Apalagi statusku yang janda anak empat pasti membuat mereka mundur.” Royani memijit kepala Dayan setelah memberi krim di rambut.


“Memangnya kamu mau punya suami yang seperti apa?” tanya Dayan.


“Yang baik kaya Bapak. Rajin salat. Katanya kalau salatnya baik, perilakunya juga baik, Pak,” jawab Royani.


“Tapi aku sudah punya istri,” timpal Dayan.


Dayan tersenyum. “Aku tidak bisa, Yani. Nanti aku akan kenalkan kamu sama temanku yang juga sedang cari istri. Siapa tahu kalian cocok.”


Royani jadi cemberut. “Aku ingin yang baik kaya Bapak. Kalau enggak, aku enggak mau.” Royani memijat kuat kepala Dayan untuk menumpahkan kekesalannya.


“Duh, jangan kencang-kenang. Sakit.” Dayan meringis menahan sakit.


“Habisnya Bapak gitu. Aku ‘kan kesel.” Royani merajuk, lalu memijat lagi dengan normal.


“Gitu gimana? Aku ‘kan enggak ngapa-ngapain, Yani.” Dayan melihat Royani dari kaca.


“Enggak ngapa-ngapain gimana? Buktinya Bapak sudah nolak aku. Malah mau mengenalkan aku sama pria lain. Aku ‘kan sukanya sama Bapak.” Royani kembali merajuk.


“Aku ‘kan sudah bilang kalau aku tidak bisa jadi suamimu, Yani. Aku sudah punya istri.”


“Tuh ‘kan Bapak ngomong gitu lagi. Aku cubit nanti Bapak.” Royani terus menunjukkan wajah cemberutnya.

__ADS_1


Berulang kali Dayan mengenalkan Royani dengan pria lain, teman-teman Dayan, tapi Royani sama sekali tidak mau. Dia hanya ingin menikah dengan Dayan. Menurutnya teman-teman suami Bestari itu tidak sebaik Dayan.


“Pak, mbok aku dinikahi. Bapak, enggak kasihan apa sama aku selalu dipandang sebelah mata sama orang? Banyak pria yang jadi sering menggodaku,” bujuk Royani setelah bosan terus dikenalkan dengan teman-teman Dayan.


“Aku tidak masalah kalau hanya dinikahi siri, Pak. Aku juga tidak akan menuntut apa pun sama Bapak. Yang penting statusku jelas jadi istri Bapak. Jadi tidak ada lagi yang akan memandang rendah dan menggodaku.”


Dayan menghela napas panjang. “Aku akan pikirkan dulu. Aku juga harus konsultasi sama ustaz,” ucapnya.


Royani tersenyum lebar. Akhirnya Dayan mulai membuka celah untuknya bisa jadi istri. Ya, meskipun hanya istri siri, tapi setidaknya dia punya status yang jelas.


Dayan pun akhirnya bertemu dengan salah satu ustaz kenalannya, Ustaz Makruf.


“Pak, saya mau konsultasi soal poligami,” ucap Dayan saat bertamu di pesantren milik Ustaz Makruf.


“Boleh. Siapa yang mau poligami? Apa Pak Dayan?” tanya sang ustaz.


“Bukan, Us. Teman saya,” jawab Dayan dengan dusta.


Ustaz Makruf mengangguk. “Baik, apa yang mau ditanyakan?”


“Apa boleh suami poligami tanpa sepengetahuan istri? Jadi nikahnya diam-diam begitu, Us?” tanya Dayan.


Ustaz Makruf menegakkan punggung sebelum menjawab pertanyaan Dayan. “Menurut hukum fikih, meminta izin bukan bagian dari rukun pernikahan. Jadi, pernikahan sah bila cukup rukun dan syaratnya. Ada mahar, ijab, qabul, wali, dan dua orang saksi. Tidak apa-apa tanpa izin istri pertama,” jelas Ustaz Makruf.


“Tapi kalau menurut hukum negara, tidak sah pernikahan tanpa izin dari istri pertama. Jadi suami harus meminta istri membuat surat penyataan yang ditandatangi istri pertama dengan meterai,” sambung sang ustaz.


“Walaupun poligami diperbolehkan, tapi saya tidak menyarankan untuk melakukannya. Salah satu syarat poligami adalah harus berlaku adil pada istri-istrinya. Apakah dia mampu adil? Kalau tidak mampu sebaiknya jangan berpoligami,” tambah Ustaz Makruf.


Dayan mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan sang ustaz. “Baik, nanti akan saya sampaikan pada teman saya, Us. Jadi intinya boleh ya menikah siri tanpa izin atau sepengetahuan istri pertama?” tanya Dayan untuk lebih memastikan.


Ustaz Makruf menganggut. “Boleh, tapi ingat harus adil.”


"Apa Ustaz bersedia kalau menikahkan mereka secara agama?" Dayan memandang sang ustaz.


Ustaz Makruf menghela napas panjang. "Sebenarnya kalau dalam keadaan mendesak bisa. Misalnya si wanita sudah terlanjur hamil atau pasangan itu sudah sering berkumpul melakukan zina. Tujuannya untuk mencegah zina, karena kami takut ikut berdosa bila membiarkan terjadinya perzinaan. Pernikahan itu harus disegerakan agar mereka tidak melakukan perbuatan dosa lagi."


"Berarti harus dengan syarat itu, Us?"

__ADS_1


Ustaz Makruf mengangguk. "Iya."


Sepulang dari bertemu sang ustaz, Dayan terus berpikir. Apakah akan tetap menikahi Royani tanpa izin dari Bestari atau tidak menikah dengan Royani dan menghindari wanita itu? Dia sungguh kasihan dengan kehidupan Royani yang seorang janda dan harus bekerja keras demi menyambung hidup. Meskipun dia sendiri juga tidak bisa memberikan nafkah yang banyak kalau menikah dengan wanita itu, tapi setidaknya menaikkan status Royani agar tidak digoda lagi oleh pria lain.


__ADS_2