Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 26


__ADS_3

Tak kunjung diangkat panggilannya, Dayan memutuskan berganti pakaian. Menutup semua jendela, dan menyalakan lampu agar rumahnya tidak gelap saat dia pulang nanti. Dayan memakai jaket dan helm, baru kemudian mengeluarkan motor dari garasi. Sesudah mengunci pintu garasi, pria berusia empat puluh dua tahun itu melajukan kuda besinya.


Dengan hati penuh sukacita, dia pergi ke ruko untuk menemui keluarga kecilnya. Berharap dengan masalahnya yang sudah selesai, bisa memperbaiki hubungannya dengan sang istri dan kedua anaknya. Bisa berkumpul lagi dengan mereka.


Sesampai di ruko, ternyata Bestari, Riri, dan Ratna tidak ada di sana. Dayan hanya bertemu dengan karyawan yang bekerja di sana.


“Ke mana Ibu dan anak-anak?” tanya Dayan pada Imah, sang karyawan.


“Saya kurang tahu, Pak. Dari tadi Ibu, Mbak Riri, dan Mbak Ratna juga belum pulang. Ibu juga tidak bilang apa-apa sama saya,” jawab Imah.


Raut wajah kecewa tak bisa Dayan sembunyikan. Bahunya meluruh begitu mendengar jawaban sang karyawan. Harapannya untuk berkumpul dengan istri dan anak-anak sirna. Dayan mengambil gawai dari saku. Coba menghubungi kembali sang istri.


Sesudah beberapa kali berdering, akhirnya panggilannya dijawab oleh Bestari. “Assalamu’alaikum. Ibu dan anak anak di mana kok belum pulang? Aku ada di ruko sekarang,” ucap Dayan begitu panggilannya dijawab.


“Wa’alaikumussalam. Aku sedang jalan sama anak-anak. Mereka sedih karena rumah sudah terjual. Jadi aku mengajak mereka untuk menghibur diri. Bapak, pulang saja. Kami perginya sampai malam,” sahut Bestari dari seberang telepon.


Dayan menghela napas panjang usai mendengar ucapan sang istri. “Apa anak-anak tidak pulang dulu buat ganti baju, Bu?” tanyanya kemudian.


“Kami sudah bawa baju ganti dari tadi. Bapak, tidak usah khawatir,” jawab Bestari.


“Ibu dan anak-anak pergi ke mana? Biar aku susul.” Dayan menuju ke motornya yang diparkir di depan ruko.


“Bapak tidak usah menyusul. Kami ingin menikmati waktu bertiga saja.” Bestari kemudian mematikan panggilan tersebut secara sepihak.

__ADS_1


Dayan kembali menghela napas panjang. Keinginannya untuk berkumpul dengan istri dan kedua anaknya kini benar-benar pupus. Dia seolah sudah tersingkirkan dari keluarga kecilnya itu. Buktinya, Bestari tidak memberi tahu di mana keberadaannya saat ini dan bahkan bilang hanya ingin bertiga.


Pria berusia 42 tahun itu kemudian memutuskan pergi dari ruko. Bukannya pulang ke rumah, dia malah main ke rumah temannya.


Keesokan harinya, Dayan kembali pergi ke notaris Sambodo untuk melakukan transaksi jual beli tanahnya dengan dokter Rani. Usai dokter Rani melunasi pembayaran tanah dengan uang tunai, mereka melakukan penandatanganan Akta Jual Beli.


“Dok, kami minta waktu satu bulan untuk memindahkan barang-barang,” pinta Dayan usai menandatangani Akta Jual Beli.


“Monggo saja, Pak. Saya juga belum ada rencana untuk menempati rumah itu,” sahut dokter Rani.


“Terima kasih, Dok. Besok kalau sudah selesai semua, akan saya kabari,” ucap Dayan.


Dokter Rani menganggut. “Ya, Pak.”


Setelah dokter Rani pulang, Dayan memberikan fee pada makelar dan pengacaranya. Dia kemudian menyimpan sejumlah uang untuk membayar pajak penjual. Sisa uangnya tinggal 100 juta saja sekarang yang langsung disimpan di bank. Pria dua anak itu hanya mengambil satu juga untuk pegangan. Rencananya dia mau mengajak istri dan anaknya untuk makan-makan malam nanti.


Tak lama kemudian balasan dari Bestari datang. “Nanti aku tanya anak-anak dulu. Mereka mau atau tidak.”


Senyum Dayan yang semula mengembang jadi menghilang. Mendung kini menyelimuti wajahnya. Meskipun belum ada jawaban pasti, tapi balasan dari sang istri sudah membuatnya berkecil hati. Bestari sendiri seperti enggan bersamanya. Bisa jadi anak-anak juga tidak mau.


“Aku kangen sama anak-anak, Bu. Tolong bilang sama mereka kalau malam ini mereka bebas mau makan apa saja.” Dayan kembali mengirim pesan pada Bestari. Dia begitu gelisah saat menunggu balasan dari sang istri.


Lima menit, sepuluh menit, 30 menit, tak ada balasan dari Bestari. Membuatnya jadi semakin gelisah. Pria itu sempat berniat menelepon wanita yang sudah mengandung dan melahirkan anak-anaknya, tapi urung karena dia tahu Bestari tidak suka ditelepon untuk hal yang tidak terlalu penting. Namun, bukankah bertemu dan berkumpul dengan anak-anaknya adalah yang sangat penting untuknya?

__ADS_1


Dalam kegalauan yang dia rasakan, ada pesan yang masuk ke gawainya. Segaris senyum kembali terlihat di wajahnya saat membaca nama sang pengirim. Segera dibukanya pesan tersebut.


“Anak-anak tidak ada yang mau, Pak.” Singkat, padat, dan jelas apa yang ditulis oleh Bestari. Membuat Dayan benar-benar merasakan kekecewaan yang besar. Harapan yang tadi sempat dia pupuk, akhirnya kembali layu, bahkan mati.


Dayan menghela napas panjang. Merebahkan diri di sofa kesayangannya sambil memejamkan mata. Menyesali semua perbuatan bodohnya yang tidak bisa diperbaiki lagi.


Selepas Magrib, Dayan sudah mengenakan pakaian yang rapi. Dia pergi ke rumah makan XX yang jadi favorit keluarganya. Membeli menu-menu yang jadi kesukaan sang istri dan kedua anaknya. Berharap mereka senang dengan pemberiannya meskipun tidak jadi pergi dan makan bersama. Setelah dari restoran, Dayan langsung menuju ke ruko dengan hati yang gembira. Membayangkan wajah kedua anaknya yang berseri begitu menerima makanan kesukaan mereka.


Sampai di ruko, Dayan tak mendapati mobil yang terparkir di sana. Toko masih buka, tapi karyawan yang berjaga.


“Ibu dan anak-anak pergi?” tanya Dayan pada karyawan toko.


“Iya, Pak. Baru saja pergi. Mungkin sekitar lima menitan,” jawab sang karyawan.


“Apa bilang mau pergi ke mana?” tanya Dayan lagi.


Karyawan itu menggeleng. “Ibu enggak bilang mau ke mana, tapi katanya mau beli apa gitu buat tugas sekolah Mbak Ratna.”


Dayan menghela napas panjang begitu mendengar penjelasan sang karyawan. Dia kembali gagal berkumpul dengan keluarga kecilnya. Coba saja tadi dia langsung ke ruko tidak ke rumah makan dahulu. Pasti dia bisa bertemu dengan mereka dan bahkan pergi bersama.


“Apa kamu tahu mereka sudah makan atau belum?” Sekali lagi pria berusia 42 tahun itu bertanya.


Sang karyawan kembali menggelengkan kepala. “Kayanya sih belum, Pak. Saya juga tidak tahu.”

__ADS_1


“Aku masuk dulu ke dalam,” ucap Dayan tanpa bisa dicegah sang karyawan. Pria itu kemudian melongok meja makan yang kosong. Tempat cuci piring juga kosong dan piring-piring yang di rak kering semua. Berarti Bestari dan kedua anaknya masih belum makan malam. Dia lalu meletakkan beragam makanan yang tadi dibeli di atas meja makan. Berniat menunggu ketiganya pulang lalu makan bersama. Sambil menunggu, Dayan memutuskan menanak nasi di magic com karena nasinya habis. Setelah itu dia duduk di ruang serbaguna sambil menyalakan televisi.


Pria itu kemudian menghubungi sang istri untuk mengabari kalau dia ada di ruko dan membelikan makanan kesukaan mereka. “Assalamu’alaikum. Ibu sama anak-anak pergi ke mana? Aku ada di ruko,” tanya Dayan saat panggilannya dijawab.


__ADS_2