
“Bu, tiga hari ini aku lembur di kantor jadi pulangnya sore bahkan mungkin malam,” pamit Dayan sebelum pergi bersama Riri, sang putri sulung.
“Iya, Pak,” sahut Bestari yang masih sibuk merapikan hijabnya di depan cermin.
Sebenarnya mulai hari itu, Dayan sudah cuti kerja. Namun, dia membohongi istrinya kalau akan lembur. Kenyataannya dia akan pergi dengan Royani, sang istri muda. Agar keluarganya tidak curiga, dia berangkat pagi dan berpenampilan seperti akan ke kantor. Pria itu juga mengantar si sulung ke sekolah. Walaupun setelah itu langsung pergi ke kontrakan Royani.
Dayan disambut Royani dengan penampilan yang rapi. Wanita itu sudah siap pergi untuk mencari pinjaman di bank dengan agunan sertifikat rumah Dayan. Mereka berboncengan dengan motor matic milik Dayan. Royani yang membonceng, menempel dan memeluk punggung pria di depannya. Layaknya anak muda yang sedang kasmaran.
Pertama-tama, mereka pergi ke bank milik pemerintah untuk mengajukan pinjaman dengan nominal tiga ratus juta rupiah. Karena gaji Dayan sudah terpotong dengan pinjaman bank dan hanya bersisa sekitar satu juta rupiah, mereka tidak bisa mengabulkan pinjaman.
Mereka lalu pergi ke bank pelat merah lainnya. Namun, hasilnya tetap sama meskipun dengan jaminan sertifikat rumah dan pendapatan Royani. Persyaratan di bank pelat merah memanglah lebih ketat dibandingkan dengan bank swasta.
Pada hari berikutnya, mereka coba mendatangi beberapa bank kecil seperti BPR untuk pengajuan kredit. Hasilnya pun sama, pengajuan mereka ditolak karena ada indikasi tidak bisa mengangsur dilihat dari jumlah pendapatan Dayan dan Royani. Kalaupun bisa, nominal yang disetujui hanya kecil, jauh dari yang mereka inginkan.
Royani terduduk lemas di parkiran motor. Wajahnya tak bisa menyembunyikan keresahan hatinya. “Mas, bagaimana ini semua pengajuan pinjaman kita ditolak?” keluhnya pada Dayan.
“Aku juga tidak tahu, Yani. Aku sudah coba menawarkan rumah tapi belum juga laku,” sahut Dayan yang bukannya menenangkan tapi justru membuat sang istri siri semakin cemas.
Saat mereka sedang meratapi nasib, sesosok laki-laki datang menghampiri keduanya. Penampilannya rapi layaknya seorang pegawai bank. “Bapak dan Ibu, kenapa?” tanyanya dengan ramah.
“Pengajuan pinjaman kami ditolak, Mas,” jawab Royani lesu.
“Memangnya mau pinjam berapa?” tanya pria tersebut.
“Tiga ratus juta,” jawab Royani lagi .”Apa Mas pegawai bank di sini dan bisa membantu kami?” tanyanya kemudian dengan sebuah harapan di netranya.
“Saya bukan pegawai bank, tapi saya bisa membantu kesulitan Bapak dan Ibu,” ujar pria berpenampilan rapi itu.
Royani langsung bangkit dari duduknya dengan wajar berseri. “Bagaimana Mas bisa membantu kami? Apa Mas akan memberi pinjaman pada kami?”
Pria tadi menggeleng. “Bukan saya, tapi pendana. Apa Bapak dan Ibu tertarik?”
Royani menoleh pada Dayan. “Bagaimana, Mas, sepertinya hanya ini harapan kita?”
__ADS_1
“Ya, kita lihat dulu syaratnya apa saja,” sahut Dayan.
“Persyaratannya apa saja, Mas?” tanya Royani yang sudah tak sabar.
“Sebaiknya kita bicara di tempat yang lebih nyaman saja ya, Pak, Bu. Di sini bukan tempat yang enak untuk bicara.” Pria tadi melihat ke sekeliling yang penuh dengan sepeda motor, tentu saja karena mereka ada di tempat parkir. Di sana juga lumayan panas karena tidak ada atap yang menaungi.
“Oh ya, dari tadi mengobrol malah belum berkenalan. Saya Erwin.” Pria tadi mengulurkan tangan kanannya pada Royani. Mereka kemudian bersalaman, setelah itu baru bersalaman dengan Dayan.
“Dayan,” ucap suami Bestari itu.
“Mari Bapak dan Ibu Dayan, kita pergi ke warung yang di sana biar lebih enak ngobrolnya,” ajak pria yang mengaku bernama Erwin itu sambil menunjuk warung soto di seberang jalan.
“Motornya bagaimana? Diparkir di sini atau di sana?” tanya Dayan.
“Di sini juga tidak apa-apa, Pak. Kendaraan saya juga ada di sini,” jawab Erwin.
“Ya sudah.”
Mereka bertiga akhirnya menyeberang jalan lalu memasuki warung soto.
“Aku soto sama es teh saja, Mas Dayan mau apa?” tanya Royani.
“Sama saja kaya kamu tapi aku esnya sedikit saja,” jawab Dayan.
Royani lalu menghampiri sang penjual, mengatakan pesanannya. Setelah itu dia kembali bergabung dengan Dayan dan Erwin.
“Mas Erwin, bagaimana syarat untuk mendapatkan pinjaman dari pendana?” tanya Royani penuh antusias.
“Yang jelas ada jaminannya. Bapak dan Ibu punya jaminan apa?”
“Ada sertifikat tanah saya, Mas,” sahut Dayan.
“Apa sekarang dibawa?”
__ADS_1
Royani dengan sigap membuka tas lalu mengeluarkan sertifikat tanah milik Dayan. Dia menyerahkan lembaran kertas berwarna hijau muda itu pada Erwin. Setelah menerimanya, Erwin pun membuka dan membaca isinya.
“Ini sertifikat milik Bapak sendiri?” tanya Edwin memastikan.
“Iya. Itu kan ada nama saya di sana,” jawab Dayan.
“Bisa saja 'kan dengan kakak atau adik. Oh ya, kapan kami bisa datang untuk survei?” tanya Edwin.
“Besok pagi sekitar jam 8.00 atau 9.00 bisa, Mas,” jawab Dayan. “Apa setelah survei bisa langsung cair dananya?” Dayan menatap Erwin.
“Bisa, tapi harus tanda tangan dulu di depan notaris untuk melakukan perjanjian,” ujar Erwin.
“Apa ada syarat lain seperti slip gaji dan sebagainya?”
Erwin menggeleng. “Tidak perlu, cukup sertifikat asli dan juga identitas asli.”
“Identitas saya dan istri?” tanya Dayan.
“Iya, nanti Ibu ‘kan yang menyetujui juga ikut tanda tangan,” jawab Erwin.
“Oke, Mas. Kalau begitu saya minta nomornya, untuk kita bisa komunikasi,” pinta Dayan. Mereka bertiga pun saling bertukar nomor telepon.
Keesokan paginya, Dayan diam-diam mengambil KTP Bestari dari dalam dompet saat istrinya itu sedang mandi. Dia benar-benar sudah tidak memikirkan lagi perasaan istri dan anaknya kalau tahu dia menggadaikan rumah itu. Setelah mengantar Riri ke sekolah, Dayan kembali pulang ke rumah. Erwin dan seorang pria datang dengan mobil. Mereka melihat-lihat sekeliling rumah dan juga isinya. Sesudah itu keduanya pergi.
Saat Dayan akan pergi lagi, tetangga sebelah rumah bertanya kenapa sudah pulang? Kemudian dijawab Dayan karena ada barang yang tertinggal agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tak lama kemudian dia pun pergi.
Dayan menjemput Royani di kontrakan terlebih dahulu sebelum pergi ke notaris yang tadi disebutkan oleh Erwin. Mereka mampir dulu ke tempat fotokopi untuk memfotokopi sertifikat, KTP dan juga kartu keluarga. Sekitar dua puluh menit kemudian tibalah mereka di tempat notaris yang dituju.
Erwin sudah menunggu keduanya di teras depan. Dia menyambut kedatangan mereka dengan ramah. “Nyasar tidak sampai sini, Pak?” tanyanya saat bersalaman dengan Dayan.
“Tidak, alamatnya ‘kan mudah dicari,” jawab Dayan.
“Iya, Pak. Mari Pak Dayan dan Bu Dayan silakan masuk,” ajak Erwin. Pria itu berjalan di depan mereka. Sampai di depan sebuah ruangan, dia membuka pintu lalu mempersilakan Dayan dan Royani untuk masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Dayan sedikit terkesiap karena melihat beberapa orang berbadan besar dan kekar berdiri di sana.