Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 11


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita tinggal di ruko bertiga?" tanya Bestari pada kedua putrinya. Dia menatap mereka bergantian.


"Memangnya kenapa, Bu? Sudah enak tinggal di sini kenapa harus di ruko?" protes Ratna.


"Kamu 'kan tahu Bapak mau menjual rumah ini. Daripada kita nanti harus pindah secara mendadak, jadi lebih baik pindah dari sekarang." Bestari beralasan.


"Kalian mau ikut tinggal di ruko atau akan tetap di sini?" tanya wanita berusia empat puluh tahun itu.


"Aku mau ikut Ibu saja,” jawab Riri.


“Aku juga ikut sama Ibu,” sahut Ratna kemudian.


“Benar kalian mau ikut sama Ibu?” tanya Bestari sekali lagi untuk memastikan. Kedua anaknya saling berpandangan lalu sama-sama menganggukkan kepala dengan yakin.


“Tapi Riri, apa kamu tidak masalah kalau harus naik bis atau ojol dan tidak berangkat ke sekolah bersama bapak?” Bestari memandang sang putri sulung.


“Tidak apa-apa aku naik bis, Bu. Kalau naik ojol nanti pengeluaran Ibu jadi semakin banyak. Uang sakuku berkurang juga tidak apa-apa. Aku bawa bekal saja dari rumah,” jawab Riri yang membuat Bestari mengelus kepala sang putri. Si sulung memang selalu mengalah dan tahu kesulitan yang dialami kedua orang tuanya.


“Ibu akan bekerja lebih keras untuk kalian. Mungkin akan terasa tidak nyaman di awal-awal karena proses adaptasi, tapi Insya Allah kita bisa melewati ini bersama. Sekarang fokus hidup ibu hanya untuk membesarkan kalian berdua.”


“Bu, kalau kita tinggal di ruko terus bapak tinggal di mana?” tanya si bungsu yang masih belum tahu apa pun.


“Bapak tetap tinggal di sini sampai rumah ini terjual,” jawab Bestari seraya mengelus kepala si bungsu.


“Aku kira Bapak juga ikut kita, Bu.”


“Tidak, Na. Bapak tetap di sini. Atau kamu mau di sini bersama Bapak?” Bestari menatap si bungsu yang memang dekat dengan sang bapak.


Ratna menggeleng. “Lebih enak sama Ibu, kalau sama Bapak pasti selalu disuruh-suruh terus,” akunya.


Bestari tersenyum mendengar ucapan si bungsu. “Kalau begitu kalian siapkan dulu beberapa baju dalam tas kecil biar besok pagi ibu bawa ke ruko. Besok ibu akan pakai mobil ke kantor. Hari Minggu baru kita bawa banyak barang dan mulai tinggal di sana.”

__ADS_1


“Iya, Bu,” sahut kedua putrinya bersamaan.


“Riri, kamu sudah kelas 3 SMP. Nana, kamu sudah kelas 6 SD. Kalian harus tetap fokus belajar demi masa depan ya. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Ibu juga akan berusaha memberikan yang terbaik semampu ibu. Kalian tidak masalah ‘kan kalau kita hidup sederhana?” Wanita berusia empat puluh tahun itu memandang kedua putrinya bergantian.


“Tidak apa-apa, Bu,” sahut Riri. “Aku akan terus bersama Ibu apa pun yang terjadi.” Gadis itu memeluk sang ibu.


“Aku juga.” Ratna ikut memeluk ibunya hingga mereka bertiga saling berpelukan. Dalam hati Bestari berjanji akan membahagiakan kedua anaknya meskipun tanpa Dayan. Dia memang belum tahu bagaimana nasib rumah tangganya dengan suami yang diam-diam sudah mengkhianatinya itu.


***


“Mas Wildan, bisa tidak bantu saya membeli tanah saya. Suami saya sudah menggadaikan rumah sama rentenir. Kalau dalam tempo satu setengah bulan tidak dilunasi rumah itu bakal diambil sama rentenir.” Bestari menghubungi Wildan, seorang developer perumahan yang sebelumnya membeli tanah Dayan dan dijadikan perumahan.


“Begini saja, Bu, kapan Ibu ada waktu datang ke kantor. Saya juga ingin memberi tahu sesuatu pada Ibu,” ucap Wildan dari seberang telepon.


“Mas Wildan pulang jam berapa? Nanti saya usahakan pulang cepat dari kantor terus ke kantor Mas Wildan bagaimana?”


“Ya, silakan saja, Bu. Kebetulan hari ini saya tidak ada agenda keluar.”


“Ya, Bu. Saya tunggu.”


Bestari mengakhiri panggilan tersebut. Dia lalu menemui pimpinannya, meminta izin untuk pulang lebih cepat hari ini karena ada urusan keluarga. Untung saja sedang tidak banyak pekerjaan, jadi wanita itu diizinkan pulang setelah makan siang.


Pukul 2.00 siang, Bestari datang sendiri ke kantor Wildan. Setelah memarkirkan mobil di sebelah kantor developer itu, dia naik ke lantai dua di mana kantor Wildan berada karena di lantai bawah digunakan sebagai gudang material bangunan.


“Mbak, saya mau ketemu Mas Wildan,” ucap Bestari saat salah satu karyawan menyapanya.


“Silakan masuk ke dalam saja, Bu. Pak Wildan ada di dalam,” ujar karyawan tersebut.


“Terima kasih, Mbak.” Bestari lalu masuk ke sebuah ruangan dengan menggeser pintu. Di sana ada kolam ikan yang diatur suaranya gemercik, membuat suasana jadi adem dan menenangkan. Kemudian dia melihat ke sebelah kiri ada sebuah ruangan dengan meja oval besar dan ada beberapa kursi di sekelilingnya. Terlihat Wildan sedang melihat layar laptop di hadapannya.


“Assalamu’alaikum, Mas Wildan,” salam Bestari di depan pintu.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam, Bu. Monggo, silakan duduk.” Wildan berdiri menyambut kedatangan sang tamu.


“Sendiri saja, Bu?” tanya Wildan berbasa-basi.


“Ya sendiri, mau sama siapa lagi, Mas,” jawab Bestari sesudah mendudukkan diri di kursi.


“Jadi, apa yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Wildan. Dia menutup laptop agar bisa lebih fokus berbicara dengan tamunya.


“Pak Dayan ternyata punya hutang sama rentenir, Mas. Dia juga punya istri muda. Saya bingung sekali sekarang bagaimana cara menyelamatkan rumah itu. Makanya saya menawarkan tanah saya, siapa tahu Mas Wildan berminat untuk membelinya,” jawab Bestari.


“Sebelumnya saya merasa turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Ibu. Saya sangat tahu bagaimana perasaan Ibu. Apa anak-anak juga sudah tahu hal ini, Bu?”


“Baru anak sulung yang saya beri tahu, Mas. Nanti saja memberi tahu yang kecil. Saya takut hal ini akan memengaruhi sekolahnya.”


“Iya, tidak apa-apa, Bu. Mana yang terbaik menurut Ibu saja. Ibu pasti lebih tahu bagaimana sifat anak-anak.”


“Iya, Mas.”


Wildan menegakkan tubuhnya. “Untuk tanah, sepertinya saya belum bisa membeli tanah Ibu. Itu masih terlalu luas untuk saya, dan dana juga belum ada, Bu. Apa Ibu sudah mencoba meminjam di bank?”


“Belum, Mas. Saya sih inginnya tidak meminjam bank lagi karena saya masih punya pinjaman di bank. Makanya saya ingin menjual tanah itu. Sebenarnya sudah ditawarkan ke mana-mana, tapi masih belum laku, Mas,” keluh Bestari.


“Maaf, Bu. Saya tidak bisa membantu. Saran saya, Ibu mencari pinjaman dulu ke bank.”


“Iya, Mas, tidak apa-apa. Oh ya, tadi di telepon katanya Mas Wildan mau memberi tahu saya sesuatu. Soal apa ya, Mas?” Bestari menatap pria berkacamata itu.


Wildan menghela napas panjang sebelum bicara. “Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Ibu. Saya melakukan ini karena permintaan Pak Dayan. Tapi sebenarnya saya ingin memberi tahu Ibu dalam waktu dekat. Nurani saya tidak bisa berbohong lebih lama lagi,” ujarnya.


“Bohong soal apa, Mas?” tanya Bestari dengan penuh rasa penasaran.


“Saya sebenarnya sudah tahu kalau Pak Dayan meminjam uang pada rentenir dan punya istri muda,” ucap Wildan.

__ADS_1


“Apa?”


__ADS_2