Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 16


__ADS_3

Setelah selesai mengepak semua barang yang akan dibawa, Bestari, Riri, dan Ranta memasukkannya ke dalam mobil. Jok belakang mobil direbahkan agar muat lebih banyak barang di sana. Kursi tengah pun juga berisi barang-barang mereka.


Setelah salat Zuhur, mereka bertiga pergi meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempat tinggal mereka selama ini. Dayan hanya bisa pasrah dan diam melihat kepergian mereka. Dirinya masih merasa dihargai karena ketiganya tadi berpamitan sebelum pergi.


Bestari naik mobil bersama dengan Ratna, sementara Riri mengendarai sepeda motor yang biasa dipakai sang ibu bekerja. Gadis itu sebenarnya memang masih belum cukup umur untuk mengendarai sepeda motor, tapi karena keadaan, membuatnya memberanikan diri berkendara dari rumah sampai ke ruko yang hanya berjarak sekitar lima kilometer.


Begitu tiba di ruko, mereka mengeluarkan semua barang bawaan kemudian menatanya dengan rapi. Mulai hari ini, mereka akan hidup bertiga dengan penuh keterbatasan ruang dan gerak. Bestari dan Dayan pun resmi pisah rumah.


***


Senin pagi, kesibukan keluarga kecil itu mulai terasa. Adaptasi di tempat yang baru tentu saja bukan hal yang mudah. Kalau biasanya mereka bisa leluasa bergerak, kini geraknya juga terbatas. Di rumah lama ada dua kamar mandi, sementara di ruko hanya ada satu. Membuat mereka harus bergantian memakainya dan sabar menunggu.


Namun, semua perubahan yang ada tidak mengurangi semangat Riri dan Ratna untuk bersekolah. Riri bahkan siap lebih pagi dari biasanya karena dia akan naik bis ke sekolah mulai hari ini. Gadis itu sudah tidak mengharapkan sang bapak yang biasa mengantarkannya. Dan, entah di mana rasa tanggung jawabnya sebagai orang tua, Dayan sama sekali tidak menjemput Riri untuk pergi ke sekolah. Padahal kantor Dayan dan sekolah si sulung jalurnya searah.


Bestari tetap mengantar Ratna ke sekolah seperti biasa. Seandainya sekolah Riri dekat, dia pun akan mengantarkan putri sulungnya. Namun, itu tidak mungkin, setidaknya butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk bolak-balik ke rumah. Belum lagi dia harus pergi bekerja.


Seperti janjinya dengan Wildan tempo hari, siang ini mereka akan bertemu dengan Norman, sang rentenir, di rumah yang sudah digadaikan itu. Bestari kembali izin pada pimpinannya untuk pulang lebih cepat. Untung saja sang pimpinan sangat mengerti keadaannya. Bahkan terus memberi Bestari semangat dan berjanji akan membantu kalau bawahannya itu ingin meminta bantuannya.


Rumah yang kemarin baru saja dia tinggalkan itu sepi. Dayan memang masuk kerja karena itu rumahnya kosong. Setelah masuk ke rumah dengan kunci cadangan, Bestari mengambil sapu untuk menyapu ruang tamu dan teras yang tampak kotor. Sehari saja tidak disapu, sudah terlihat kotor dan penuh debu.


Bestari menunggu kedatangan Wildan sambil berselancar di dunia maya. Mencari informasi mengenai hukum tanda tangan yang dipalsukan. Wanita itu bergidik saat melihat ancaman hukuman untuk pemalsuan tanda tangan. Pelakunya bisa mendapat hukuman penjara selama-lamanya enam tahun.


“Assalamu’alaikum,” salam Wildan yang sudah berdiri di depan pintu ruang tamu yang sengaja dibuka oleh Bestari.


“Wa’alaikumussalam. Silakan masuk, Mas Wildan.” Bestari berdiri, menyambut kedatangan pria berkacamata itu.

__ADS_1


“Terima kasih. Sendiri saja, Bu?”


“Iya, mau sama siapa, Mas. Anak-anak juga belum bisa diajak untuk bicara hal seperti ini. Ayo duduk dulu, Mas. Kok malah berdiri terus.”


Wildan pun kemudian duduk, begitu pula dengan Bestari.


“Nanti kalau mereka datang, Mas Wildan yang bicara ya,” pinta Bestari.


“Iya, Bu. Ibu bilang saja kalau saya keponakan Ibu yang akan mewakili Ibu,” sahut Wildan.


“Baik, Mas.”


“Apa yang nanti dikatakan sesuai kesepakatn kemarin ‘kan?”


“Iya, Mas. Pokoknya saya manut saja biar masalahnya cepat selesai.”


Dua puluh menit kemudian sebuah mobil putih memasuki pekarangan rumah itu. Keluarlah dua orang dari mobil tersebut. Mereka kemudian masuk ke teras. “Selamat siang, Bu,” salam Erwin dengan ramah.


“Siang juga. Silakan masuk dan silakan duduk,” ucap Bestari.


Norman dan Erwin kemudian masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Bestari dan Wildan.


“Terima kasih sudah datang di rumah kami,” ucap Bestari, tanda sopan santun sebagai tuan rumah.


“Ya, sama-sama. Pak Dayan mana, Bu?” tanya Erwin.

__ADS_1


“Tidak ada. Dia sedang bekerja,” jawab Bestari.


“Padahal kami ingin bertemu dengan Pak Dayan. Menyelesaikan masalah dengan baik-baik,” ucap Erwin.


“Saya ini istri sahnya Pak Dayan. Saya pun ingin menyelesaikan dengan baik-baik. Dan saya menyerahkan apa yang ingin kami bicarakan pada keponakan saya.” Bestari menunjuk Wildan.


“Loh ini ‘kan yang dulu datang mengaku sebagai pembeli,” tukas Erwin.


“Iya, saya memang diajak ke sana sama Pak Dayan untuk mengaku sebagai pembeli,” timpal Wildan. “Karena itu saya bisa bilang kalau wanita yang bersama Pak Dayan itu bukan istri sahnya. Dan, tanda tangan yang ada dalam surat perjanjian itu dipalsukan. Perjanjian jual beli itu jadi cacat hukum dan tidak berlaku,” imbuhnya.


“Bu, kenapa bawa-bawa orang luar dalam masalah ini. Dia sudah berbohong pada kami sebelum ini,” sergah Erwin.


“Dia ini keponakan saya, bukan orang lain. Dan dia mewakili saya,” sahut Bestari.


“Karena perjanjian itu cacat hukum, sebaiknya kita selesaikan ini secara baik-baik. Kami akan mengembalikan hutang Pak Dayan sebanyak tiga ratus juta rupiah. Dan sertifikat kembali kepada kami. Ibu Bestari, istri sah Pak Dayan ini yang sudah sangat dirugikan dalam perkara ini bisa menuntut Bapak, notaris, Pak Dayan, dan Royani karena sudah melakukan pemalsuan tanda tangan,” ucap Wildan.


“Ini perjanjian jual beli bukan hutang piutang. Kami tidak tahu soal pemalsuan itu. Yang kami tahu, Pak Dayan datang bersama istri sahnya,” kekeh Erwin.


“Bukankah kemarin saat saya datang, saya sudah bilang kalau istri sahnya bukan Royani dan tanda tangan istri sah dipalsukan. Kalian juga sudah menyuruh Pak Dayan dan Royani untuk menandatangani surat pernyataan kalau mereka sudah melakukan tanda tangan palsu ‘kan? Jadi jangan berkelit lah. Kita akhiri saja masalah ini dengan damai,” ujar Wildan.


“Kami tidak tahu soal itu. Kalau pun benar kami ini juga pihak yang dirugikan. Kami juga bisa menuntut Pak Dayan dan Royani karena pemalsuan tanda tangan,” tantang Erwin.


“Ya, silakan saja kalau mau melaporkan mereka. Kami justru sangat berterima kasih karena tidak perlu repot-repot lapor. Karena kami juga sangat dirugikan dalam hal ini. Kami tidak hanya akan melaporkan ke polisi tapi juga ke dewan notaris.” Wildan menantang balik. Pria itu ikut tersulut emosi.


“Kenapa jadi melebar begini pembicaraannya. Niat kami baik mau menyelesaikan secara kekeluargaan, tapi malah Ibu membawa orang lain yang malah memperkeruh suasana. Sepertinya pembicaraan ini tidak ada gunanya.” Erwin dan Norman berdiri dari duduknya lalu melangkah keluar.

__ADS_1


“Kalau begitu kita ketemu di pengadilan saja,” teriak Wildan pada mereka berdua.


__ADS_2