Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 22


__ADS_3

“Soal itu jangan dibahas lagi, Bu. Aku mohon dengan sangat. Tolong tawarkan rumah itu sama teman Ibu. Atau pinjam uang sama mereka dengan jaminan sertifikat rumahnya. Bisa ‘kan, Bu?” pinta Dayan.


Bestari menggeleng berkali-kali. “Tidak bisa.”


“Kenapa tidak bisa, Bu?” Dayan menatap istrinya dengan tatapan heran.


“Aku tidak mau. Aku malu, Pak. Teman-temanku sudah banyak yang tanya kenapa rumahnya dijual. Aku sampai bingung harus jawab apa. Ada yang aku jawab, tidak tahu itu Pak Dayan mau buat apa. Tanya sendiri saja.”


“Ibu tega aku dipenjara?” tanya Dayan dengan wajah memelas.


“Kenapa tidak tega? Bapak saja tega mengkhianati aku dan anak-anak. Bapak menikah diam-diam dengan Royani. Berani memalsukan tanda tanganku demi Royanii. Kesalahan Bapak itu sangat fatal,” jawab Bestari.


“Iya, Bu. Aku tahu. Aku juga sudah menyadari kesalahan dan kekhilafanku. Tolonglah aku, Bu, sekali ini saja.” Dayan kembali memohon.


Sekali lagi Bestari menggeleng. Dia tidak mau menuruti keinginan pria yang masih menjadi suaminya itu.


Dayan tertunduk pasrah. Segala macam usaha sudah dikerahkan untuk membujuk Bestari, nyatanya tidak mempan. Memanglah apa yang dilakukan pria itu sudah sangat menyakiti hati sang istri. Sakit yang teramat sangat dan pastinya tidak akan mudah sembuh dan dilupakan begitu saja.


“Terserah Bapak mau gimana cari uangnya. Aku enggak peduli. Aku juga tidak mau ikut terseret menanggung utang Bapak,” tegas Bestari sekali lagi.


Hari terus berlalu. Jatuh tempo pembayaran akhirnya tiba. Dayan yang kebingungan menghubungi Edwin. Meminta perpanjangan waktu pada Norman.


Melalui Edwin, Norman setuju memberi perpanjangan waktu selama satu minggu. Namun, Dayan harus menggembalikan sebanyak 500 juta rupiah. Pria itu mau tidak mau setuju dan menandatangani perjanjian baru itu. Surat perjanjian yang ditulis tangan oleh Dayan, sesuai dengan arahan dari Edwin. Dengan konsekuensi kalau tidak bisa membayar pada waktu yang ditentukan, Dayan akan dilaporkan pada polisi dengan pasal berlapis.


Bestari juga dimintai tanda tangan oleh Edwin untuk menjadi saksi perjanjian baru tersebut. “Mas, kenapa saya harus tanda tangan? Saya tidak mau ikut campur soal ini. Harusnya yang tanda tangan itu Royani, bukan saya,” protes Bestari pada Edwin.


“Ibu di sini hanya menjadi saksi saja. Karena Ibu adalah istri sah Pak Dayan,” jelas pria berperawakan tinggi itu. “Ibu tidak akan ikut menanggung apa pun,” imbuhnya.


“Benar ya, Mas?” Bestari masih belum yakin.


“Iya, benar, Bu. Ini saya juga tanda tangan sebagai saksi.” Edwin meyakinkan Bestari.


“Sudah, tanda tangan saja, Bu!” perintah Dayan.

__ADS_1


“Ini ‘kan tulisannya istri, harusnya Royani. Dia ‘kan istri Bapak juga.” Bestari masih belum mau membubuhkan tanda tangannya.


“Ibu ‘kan istri sahku. Tolonglah, Bu, ini cuma tanda tangan saja.” Kali ini Dayan berbicara lebih lembut.


“Iya, Bu. Tidak apa-apa.” Edwin kembali meyakinkan Bestari.


“Aku telepon Pak Heri, dulu,” ucap Bestari yang berniat mengambil gawai.


Dayan menghentikan istrinya itu. “Bu, tidak usah bilang-bilang sama Pak Heri,” cegahnya.


Bestari mengernyit. “Kenapa? Aku ‘kan mau konsultasi.”


“Pokoknya tidak usah bilang sama Pak Heri. Nanti Pak Heri lapor sama pengacaraku,” ucap Dayan dengan panik. “Ibu, sekarang tanda tangan saja. Tolong, Bu.”


Bestari menghela napas panjang lalu mengurungkan niatnya menelepon sang pengacara. Dengan setengah hati, wanita berusia 40 tahun itu membubuhkan tanda tangannya di surat perjanjian baru itu setelah Dayan dan Edwin tanda tangan. Setelah semua tanda tangan, Edwin pun pergi dengan membawa surat perjanjian tersebut.


“Bapak tanda tangan surat perjanjian itu atas sepengetahuan pengacara Bapak atau tidak?” tanya Bestari setelah Edwin pergi.


“Tidak. Norman itu enggak suka pakai pengacara, Bu. Dia marah karena Ibu pakai pengacara,” jawab Dayan.


“Iya, aku terpaksa, tapi Norman tidak suka pakai pengacara.”


“Terserah dia suka atau tidak. Aku tidak peduli, Pak. Tapi, Bapak itu kalau mau melakukan sesuatu harusnya atas sepengetahuan pengacara. Jadi kalau ada apa-apa mereka tahu. Jangan bergerak sendiri seperti ini. Bapak nanti bisa disalahkan sama pengacara kalau sampai salah langkah. Apa gunanya pengacara kalau bergerak sendiri? Rugi sudah bayar mahal,” ujar Bestari.


“Sudah tenang saja. Niat Edwin itu baik mau bantu aku kok, Bu,” timpal Dayan.


“Baik, karena dia mau dapat uang. Terserah Bapak saja. Aku tidak mau ikut-ikut kalau ada apa-apa.” Bestari meninggalkan suaminya yang keras kepala itu.


Sejak hari itu, Dayan semakin gencar mempromosikan rumahnya. Dia juga kembali mendatangi satu per satu bank untuk mengajukan pinjaman. Bukan bank besar nasional, tapi bank kecil sekelas BPR. Membuat Bestari semakin kesal saja karena setiap hari pasti ada orang dari bank melakukan survei dan juga meminta laporan keuangan tokonya.


“Pak Heri, suami saya itu sekarang sedang cari-cari pinjaman ke banyak bank. Otomatis nanti ‘kan saya juga ikut tanda tangan. Menurut Pak Heri bagaimana?” Bestari berkonsultasi dengan pengacaranya.


“Kalau bank besar tidak apa-apa, Bu. Tapi jangan bank kecil. Takutnya itu hanya permainan mereka saja,” ujar Heri.

__ADS_1


“Permainan gimana, Pak?” tanya Bestari.


“Ya, permainan antara bank sama Norman. Mereka bersekongkol di belakang,” jawab Heri.


“Saya itu sebenarnya tidak mau, Pak. Tapi kalau pinjaman-pinjaman begitu ‘kan harus dengan persetujuan istri sah. Saya itu sering jawab sama suami, harusnya yang tanda tangan Royani, kan dia yang pakai uangnya. Dia juga istrinya suami saya,” curhat Bestari.


“Kalau mau masalahnya cepat selesai ya dibantu saja, Bu. Asalkan bank yang memberi pinjaman bank besar biar tidak ada kongkalikong di belakang,” nasihat Heri.


“Iya, Pak. Berarti kalau bank-nya nanti cuma kecil, saya tolak ya.”


Heri mengangguk. “Begitu lebih baik, Bu. Untuk menjaga saja dari segala kemungkinan yang terburuk. Karena Norman itu sudah masuk jaringan mafia. Jadi, kita sebaiknya hati-hati dalam melangkah.”


“Baik, Pak.” Bestari merasa lega setelah mendengar masukan dari pengacaranya.


Sehari sebelum jatuh tempo tiba, Dayan kembali menemui Bestari.


“Bu, besok ikut ke bank untuk tanda tangan pinjaman ya,” pinta Dayan.


Bestari mengernyit. “Di bank mana, Pak?”


“Bank Sejahtera, di daerah XX,” sahut Dayan.


“Bank apa itu, Pak? Kok namanya aku tidak pernah dengar.” Bestari kembali mengerutkan kening. “Bank beneran apa bukan? Jangan-jangan bank abal-abal lagi.”


“Bank beneran, Bu. Aku tadi sudah ke sana. Cuma mereka mau meminjamkan 500 juta. Waktuku juga sudah mepet tinggal besok saja, Bu.”


“Yakin itu bank beneran? Kok aku enggak yakin?” Bestari merasa ragu.


“Beneran, Bu. Besok kalau ke sana ‘kan Ibu tahu. Besok pagi ya, Ibu izin kerja jam 9.00 buat tanda tangan pinjamanku.” Dayan meyakinkan istrinya.


Bestari menggeleng. “Aku tidak boleh tanda tangan sama Pak Heri kalau bukan bank besar, Pak,” tolaknya.


“Bu ....”

__ADS_1


Jogja 111022 22.10


__ADS_2