
Dayan menghubungi Royani kalau dia bersedia menikahinya. Tentu saja wanita itu merasa bahagia dan minta bertemu untuk merencanakan pernikahan mereka. Ya, meskipun tertutup dan tidak mengundang orang, paling tidak mereka menentukan waktu kapan akan menikah dan menghubungi wali nikah, dan dua orang saksi untuk pernikahan mereka.
Dayan dan Royani kemudian bertemu. Pria itu membohongi istri dan kedua anaknya dengan dalih lembur di kantor. Sepulang bekerja, Dayan menemui Royani di kontrakannya. Mereka merencanakan tanggal pernikahan kemudian menghubungi kakak kandung Royani yang akan bertindak sebagai walinya, dan dua orang saksi. Saksi dari pihak Royani adalah ketua RT tempatnya tinggal, dan saksi dari pihak Dayan adalah kenalannya.
Waktu pernikahan pun tiba, Dayan pamit pada istrinya kalau ada acara reuni dengan teman-teman SMA-nya.
“Bu, hari ini aku mau reuni sama teman-teman SMA. Mungkin pulangnya agak sore,” pamit Dayan yang sudah semakin pandai berdusta.
“Memangnya reuni di mana, Pak?” tanya Bestari seraya menata meja makan.
“Di rumah teman. Rumahnya jauh, Bu,” jawab Dayan.
“Ya,” sahut Bestari yang berlalu ke dapur untuk mengambil tempe yang baru saja digoreng.
“Bu, aku minta uang buat pegangan. Aku tidak punya uang.” Dayan mendekati istrinya.
Bestari menghela napas mendengar permintaan suaminya. Harusnya Dayan yang memberinya uang, tapi justru sang suami yang malah minta uang padanya. “Ambil saja di dompet, Pak. Seratus ribu cukup ‘kan?” Dia memandang suaminya.
“Dua ratus lima puluh ribu ya, Bu. Sekalian buat pegangan sampai aku gajian nanti,” bujuk Dayan.
“Ya sudah ambil dua ratus lima puluh. Tapi sampai gajian nanti Bapak jangan minta lagi,” putus Bestari. “Uang yang ada itu untuk makan kita sama uang saku anak-anak, Pak,” imbuhnya.
“Iya, Bu. Aku tidak akan minta lagi.” Dayan bergegas ke kamar mencari dompet sang istri lalu mengambil dua lembar uang seratus ribu dan selembar uang pecahan lima puluh ribu. Dia memasukkan uang itu ke dalam dompetnya yang terlihat tipis. Senyum mengembang di bibir Dayan.
Sebelum keluar dari kamar, dia memastikan lagi penampilannya yang mengenakan kemeja batik lengan panjang dengan bawahan celana kain. Tadi pagi saat mandi, dia sudah mencukur kumis dan jenggot yang tumbuh di wajahnya. Dayan tidak begitu tampan, tidak bisa juga dibilang jelek. Tampangnya lumayanlah meskipun kantongnya pas-pasan dan lebih sering bolong.
Setelah menghabiskan sarapannya, Dayan pergi mengendarai sepeda motornya. Dia langsung ke kontrakan Royani, di sana sudah ada Rohadi, kakak kandung Royani, yang akan menikahkan mereka. Dayan berkenalan dan mengobrol sebentar dengan calon kakak iparnya itu.
__ADS_1
Rohadi menanyakan keseriusan Dayan untuk menikahi adiknya. Suami Bestari itu dengan mantap menyatakan keseriusannya. Walaupun nanti Royani hanya istri siri, tapi dia akan memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami.
Setelah beberapa saat Ketua RT dan Heru, kenalan Dayan, tiba. Mereka mengobrol beberapa saat sebelum prosesi akad nikah dimulai. Beberapa tetangga di sekitar kontrakan Royani juga datang untuk menjadi saksi agar tidak timbul fitnah di kemudian hari kalau Royani sering bersama Dayan.
Royani pagi itu mengenakan gamis dan hijab putih dengan riasan wajah yang sederhana. Sementara Dayan mengenakan kemeja batik lengan panjang yang dia pakai sejak dari rumah. Dayan duduk bersisian dengan Royani, sedangkan Rohadi duduk di depan calon adik iparnya.
Rohadi kemudian menjabat erat tangan Dayan. “Aku nikahkan engkau Dayan Sumargo bin Sumargono dengan adik kandungku Royani binti Slamet, nikah untuk dirimu sendiri dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."
Dayan langsung menyahut dengan lantang setelah Rohadi menggoyangkan tangan sebagai kode. “Saya terima nikahnya Royani binti Slamet, nikah untuk diri saya sendiri dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."
“Bagaimana para saksi?” Rohadi memandang kedua saksi bergantian.
“Sah,” sahut kedua saksi bersamaan.
“Alhamdulillah,” ucap Dayan dan Royani. Mereka mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah. Tanda syukur atas pernikahan tersebut.
Dayan lalu duduk menghadap wanita yang baru saja dia halalkan itu. Royani mencium punggung tangan Dayan, kemudian pria itu balas mengecup kening istri barunya. Membuat Royani tersenyum malu-malu.
Sejak saat itu, Dayan semakin sering membohongi istri dan anak-anaknya. Pamit lembur atau ada acara dengan teman-teman sekolah dan kantor, tapi kenyataannya menemui sang istri muda. Memang Dayan tidak pernah bermalam dengan Royani, mereka hanya bersama di siang hari agar tidak menimbulkan kecurigaan Bestari.
“Mas, aku butuh uang untuk memperpanjang kontrak salon,” ujar Royani sambil menggelendot manja pada Dayan.
“Butuh berapa?” tanya Dayan.
“Sepuluh juta saja, Mas,” jawab Royani.
Dayan menghela napas. “Oke, nanti aku usahakan. Kapan paling telat?”
__ADS_1
“Akhir bulan ini.”
“Nanti aku kabari kalau sudah dapat.”
“Iya, Mas. Terima kasih. Tidak salah memang aku memilih Mas Dayan jadi suami. Mas Dayan
memang baik dan bertanggung jawab.”
Demi memenuhi kebutuhan sang istri muda, Dayan rela berhutang ke sana kemari. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bestari, istri sahnya.
Dayan pun menjual tanah warisan yang dia dapat dari orang tuanya. Sebagian dia gunakan untuk membeli tanah, sebagian lagi diberikan pada Royani. Sedangkan Bestari, sama sekali tidak mendapatkan
apa pun dari hasil penjualan itu.
Bestari memang tidak mau ikut campur dengan urusan warisan Dayan. Namun, ibu dua anak itu heran karena Dayan berkali-kali bilang kalau tidak punya uang padahal baru saja mendapat uang dari penjualan tanah. Walaupun begitu, Bestari tidak mau ambil pusing. Tanpa diberi Dayan pun, dia punya uang dari gaji dan hasil usahanya.
Suatu hari Royani mengenalkannya dengan Raden Panji yang konon katanya masih keturunan keraton. Orang tersebut menawarkan bisnis yang cukup menggiurkan bagi Dayan, yang memang suka mencoba-coba bisnis yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu pendek. Pria itu tidak pernah belajar dari pengalamannya di masa lalu yang sering ditipu orang.
Dayan sudah minta uang Bestari untuk ikut investasi tapi istri sahnya itu tidak mau. Saat dia bilang pinjam uang, Bestari pun tidak mau meminjamkan karena tidak mau sang suami terjerumus dalam bisnis yang tidak jelas. Hal itu membuat Dayan diam-diam mengambil uang iuran warga yang disimpan oleh Bestari. Memberikannya pada Raden Panji untuk ikut bisnisnya.
Suatu hari Royani berkeluh kesah lagi dengan Dayan. “Mas, itu leasing mobil harus segera dibayar. Kalau tidak nanti mobilnya ditarik. Kita tidak punya mobil lagi nanti,” ucapnya dengan mimik sedih.
“Iya, nanti kita cari cara buat melunasi mobil itu.” Dayan berusaha menenangkan istri mudanya.
“Aku itu sebenarnya punya tanah warisan di kota asalku, Mas. Tapi masih belum beres urusan sertifikatnya. Masih belum dipecah karena ada keluarga yang tidak setuju. Aku mau jual tanah itu, tapi belum laku. Kalau laku ‘kan bisa untuk membayar, Mas.”
“Ya tunggu saja sampai laku,” sahut Dayan.
__ADS_1
“Tapi sampai kapan, Mas. Waktu dari leasing hanya tinggal sebulan lagi. Mas Dayan masih punya tanah ‘kan untuk dijadikan jaminan?”
“Apa?”