Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 14


__ADS_3

“Aku tadi ketemu Mas Wildan, Pak. Katanya dia pernah ikut Bapak ke notaris, apa benar?”


Dayan kembali terkesiap mendengar pertanyaan sang istri. “I—iya benar, Bu. Mas Wildan bilang apa saja?”


“Dia cerita kalau pura-pura jadi pembeli dan melihat surat perjanjian itu, ternyata itu perjanjian jual beli dan bukan perjanjian hutang. Mas Wildan juga cerita kalau tanda tanganku dipalsukan. Apa benar, Pak?” Tatapan tajam Bestari bisa dirasakan oleh Dayan yang sengaja menghindari bertatapan dengan sang istri sah.


“Iya, Bu. Aku terpaksa melakukannya,” jawab Dayan dengan menunduk. “Kalau aku mengajak Ibu, pasti juga Ibu tidak mau,” sambungnya.


“Jelas aku tidak mau, Pak. Berhutang sama rentenir itu sama saja cari mati. Aku juga tidak sudi berhutang untuk sesuatu yang tidak jelas. Apalagi buat istri muda, Bapak. Terus itu kemarin pas tanda tangan pakai KTP asliku?” cecar Bestari lagi.


“Iya.”


“Berarti Bapak diam-diam ambil KTP-ku di dompet?” Bestari menatap tajam suaminya.


“Iya.”


“Astaghfirullah hal adzim. Ternyata Bapak selain suka berbohong juga suka mencuri sekarang? Aku benar-benar tidak terima, Pak. Pertama tanda tanganku dipalsukan, kedua KTP-ku diambil tanpa izin. Aku bisa melaporkan Bapak dan Royani ke polisi karena sudah memalsukan tanda tangan.”


“Kalau Royani dilaporkan, aku juga bisa dipenjara, Bu.”


“Biar saja kalian berdua dipenjara. Kalian sudah melakukan tindak pidana. Berani berbuat ya harus berani bertanggung jawab. Jangan main kabur begitu saja. Pengecut itu namanya. Kok mau seenaknya saja.”


“Aku minta maaf, Bu.”


“Enak saja kalau semuanya selesai hanya dengan minta maaf. Pokoknya aku tidak terima.” Dada Bestari naik turun karena emosi. Setiap pengakuan yang keluar dari mulut Dayan semakin membuatnya meradang. Entah apa yang terjadi dengan suaminya, sepertinya dia sudah tidak mengenal Dayan lagi.


“Aku juga terpaksa melakukannya, Bu. Kalau pengajuan hutangku disetujui bank pasti tidak akan begini,” ungkap Dayan.


“Kenapa sih Bapak mau menuruti semua kemauan pelakor itu? Bapak sampai merelakan rumah yang sudah kita bangun dengan susah payah ini demi Royani. Selama aku jadi istri, Bapak sama sekali tidak pernah melakukan pengorbanan besar seperti ini. Kenapa, Pak?”


“Karena dia tidak punya apa-apa, Bu. Kalau Ibu ‘kan sudah kaya, punya apa-apa.” Dayan beralasan.

__ADS_1


“Oh, jadi begitu. Terima kasih kalau aku dianggap kaya dan punya apa-apa. Aku memang sanggup hidup sendiri, Pak. Kalaupun mau, aku juga masih bisa mencari suami kalau kita bercerai, Pak.”


“Kita tidak akan bercerai. Aku tidak akan pernah menceraikan Ibu.”


Bestari tersenyum sinis. “Enak saja tidak mau bercerai. Setelah semua yang Bapak lakukan sama aku dan anak-anak? Apa Bapak tahu kalaus sudah sangat menyakiti hati kami selama ini?”


“Iya, aku tahu, Bu. Karena itu aku minta maaf. Bagaimanapun semuanya sudah terlanjur terjadi. Sekarang kita sama-sama cari solusi agar rumah ini tidak jatuh ke tangan pendana,” ujar Dayan dengan sok bijak.


“Oke, aku mau kita sama-sama mencari solusi, tapi bukan berarti aku memaafkan kelakuan Bapak dan Royani. Aku hanya menyayangkan rumah ini kalau sampai dijual. Bagaimana dulu kita berjuang membangun rumah jadi seperti sekarang. Ingat, Pak! Aku melakukannya demi rumah ini bukan karena hal lain.”


“Aku masih tidak terima tanda tanganku dipalsukan dan KTP-ku disalahgunakan. Untuk sementara ini, aku akan mengabaikan itu,” sambung Bestari.


“Iya, Bu. Terima kasih.”


“Aku akan memikirkan solusi dengan Mas Wildan. Kalau Bapak bisa cari solusi lain selain menjual rumah ini nanti bisa kita pertimbangkan.”


Dayan menggeleng. “Solusiku ya hanya satu, Bu, yaitu menjual rumah ini. Kemarin itu Erwin menghubungiku. Katanya ada yang mau beli seharga enam ratus lima puluh juta, tapi nanti masih dipotong empat ratus lima puluh juta sama penghubungnya seratus juga, jadi nanti kita terima seratus juta.”


“Tidak! Tidak.” Bestari menggelengkan kepalanya. “Siapa tahu itu hanya trik mereka saja. Jangan mau dibodohi sama mereka lagi kenapa sih, Pak. Mudah sekali percaya dengan orang lain asal diberi janji manis.”


“Itu ‘kan juga karena kebodohan Bapak sendiri. Coba tidak berhutang sama rentenir pasti tidak akan seperti ini.”


“Ya, mau gimana lagi, Bu. Aku juga terpaksa melakukannya.”


“Iya, karena Bapak kasihan sama Royani, tapi tidak kasihan sama aku. Kalian berdua yang berbuat salah, tapi aku ikut kena dampaknya. Bapak, memang tidak pernah memikirkan dan kasihan sama aku.” Bestari kembali mengungkapkan kekesalannya.


“Aku juga kasihan sama Ibu. Kalau aku tidak kasihan, aku tidak akan mengantar Ibu pergi ke mana saja,” sahut Dayan.


“Oh, jadi selama ini Bapak melakukan itu karena kasihan sama aku. Kupikir karena tanggung jawab Bapak sebagai suami,” sindir Bestari.


Dayan diam, tidak menyahut lagi.

__ADS_1


“Coba sekarang Bapak pikirkan, apa Bapak sudah bisa bersikap adil selama ini punya dua istri?”


Dayan menggeleng. “Belum, Bu.”


“Kalau tidak bisa bersikap adil kenapa sampai berani punya istri lagi?”


“Aku ‘kan sudah bilang kalau kasihan sama Royani, Bu.”


“Itu hanya alasan Bapak saja. Memangnya kalau ada lima janda, semuanya minta dinikahi sama Bapak, apa Bapak akan menikahi mereka semua karena kasihan?”


Dayan diam, menunduk.


“Jawab, Pak! Jangan diam saja seperti itu!” hardik Bestari.


“Ya, tidak, Bu.” Dayan akhirnya mengeluarkan suaranya meskipun lirih.


“Kalau tidak, kenapa Bapak kasihan sama Royani? Bapak suka ‘kan dengan gayanya yang kemayu? Atau suka sama servisnya? Mas Wildan saja tidak suka melihat gayanya, kok Bapak mau. Seleramu rendahan, Pak.”


Dayan diam kembali.


Bestari kemudian menghela napas panjang berulang kali. “Mulai Minggu besok, aku dan anak-anak akan tinggal di ruko. Aku harap Bapak mengizinkan. Walaupun aku sangat marah pada Bapak, tapi aku masih menghargai Bapak sebagai suami. Sebagai istri, aku harus meminta izin dulu sebelum tinggal di sana. Bapak mengizinkan ‘kan?”


Dayan diam, tak menyahut.


“Aku rasa ini hal terbaik untuk kita sementara ini. Kita bisa saling merenung. Jujur, aku lelah setiap hari harus bertengkar dengan Bapak. Kalau aku punya penyakit jantung mungkin aku sudah mati, Pak. Atau mungkin Bapak malah suka ya kalau aku mati, jadi bisa bebas bersama Royani dan mengambil apa pun yang aku punya. Padahal harta kita itu harusnya untuk anak-anak kita, bukan untuk orang lain. Ah, iya aku lupa. Royani itu istri Bapak, bukan orang lain.”


“Apa anak-anak sudah tahu soal ini, Bu?” tanya Dayan kemudian.


“Soal yang mana?” Bestari balik bertanya karena dia tidak tahu apa yang dimaksud Dayan. Soal rumah tangga mereka yang di ambang kehancuran atau soal pindah rumah.


“Pindah ke ruko,” jawab Dayan.

__ADS_1


“Mereka sudah tahu dan mau ikut sama aku tinggal di ruko. Jadi, bagaimana? Apa Bapak mengizinkan?” Bestari menatap intens Dayan.


“Aku ....”


__ADS_2