Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 25


__ADS_3

Dayan tiba di kantor notaris Binsar Hasiholan hampir bersamaan dengan pengacaranya dan juga sang makelar. Di dalam ruang pertemuan, Norman dan sang notaris sudah menunggu mereka. Tentu saja ada Edwin, karyawan Binsar, dan beberapa centeng sang rentenir.


“Selamat datang, Pak Dayan,” sambut Edwin dengan sukacita. Pria itu bahkan berdiri dan menghampiri Dayan, pengacara, dan makelar untuk berjabat tangan. “Mari silakan duduk,” ucapnya usai bersalaman dengan mereka bertiga.


Dayan, Tomi, dan sang makelar kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan pihak Norman.


“Selamat pagi, Pak Norman, Pak Binsar,” sapa Tomi dengan ramah. “Kedatangan kami kemari untuk menyelesaikan kewajiban klien saya, Pak Dayan, dengan Pak Norman. Seperti kesepakatan antara Pak Dayan dengan Pak Norman, klien saya akan membayar sebesar 500 juta rupiah untuk mengambil kembali sertifikat tanahnya. Bukankah benar begitu?” Pengacara muda itu memandang orang-orang di hadapannya bergantian.


“Iya, benar. Maaf dengan Pak siapa?” tanya Norman dengan sopan.


“Mohon maaf karena saya lupa memperkenalkan diri,” sahut Tomi. “Nama saya Tomi Saputra. Panggil saja Tomi. Saya adalah pengacara Pak Dayan,” ujarnya dengan ramah.


“Baik, Pak Tomi. Jadi sesuai kesepakatan kami, Pak Dayan harus membayar dulu 500 juta, baru nanti sertifikat kembali. Kita juga akan menandatangi surat pembatalan jual beli tanah,” jelas Norman.


“Pak Norman, mau dalam bentuk cash atau lewat transfer?” tanya Tomi.


“Transfer saja untuk meminimalisir risiko uang palsu,” jawab Norman.


Tomi menganggut. “Kalau begitu, ke mana klien saya harus mentransfer uangnya?”

__ADS_1


Norman memberi kode pada Erwin untuk memberikan nomor rekening miliknya yang jadi tujuan transfer Dayan. Pria berperawakan tinggi dan kurus itu kemudian menyerahkan secarik kertas pada Tomi yang bertuliskan nomor rekening sang bos.


“Terima kasih.” Tomi menerima kertas tersebut, membaca sebentar, kemudian memberikannya pada Dayan. “Pak Dayan, bisa transfer sekarang uangnya?” tanyanya pada sang klien.


Dayan menganggut. “Bisa, Pak.” Setelah bertanya di mana bank terdekat, Dayan pergi ditemani sang makelar dan Edwin untuk mentransfer uang. Sang pengacara tetap ada di tempat notaris sembari menunggu dibuatkan surat pembatalan jual beli.


Setelah dari bank, ketiga orang itu kembali ke kantor notaris Binsar Hasiholan. Dayan menyerahkan bukti transfer pada Edwin setelah tadi sempat difoto untuk dikirim pada Bestari. Edwin kemudian menyerahkan pada Norman yang kemudian mengecek saldo di rekeningnya.


“Uangnya sudah saya terima, Pak,” ucap Norman. Pria itu kemudian beralih pada sang notaris. “Pak Binsar, silakan bisa diproses pembatalannya,” ucapnya.


“Baik, Pak,” sahut Binsar Hasiholan. Notaris itu meminta karyawannya untuk mengambil surat pembatalan yang tadi sudah dibuat.


Norman yang pertama menandatangani surat pembatalan perjanjian jual beli. Setelah itu Dayan membubuhkan tanda tangan. Kemudian dilanjutkan oleh para saksi yaitu Edwin, Tomi, sang makelar, dan anak buah Norman. Sesudah semua tanda tangan, mereka pun bersalaman. Binsar Hasiholan kemudian menyerahkan sertifikat tanah pada Dayan.


Mereka bertiga kemudian ke luar dari ruangan tersebut. Dayan menyalami Tomi. “Terima kasih atas bantuannya,  Mas. Untuk fee-nya besok saya transfer kalau sudah ada pembayaran dari pembeli,” ucap Dayan pada pengacaranya itu.


Tomi tersenyum. “Siap. Sama-sama, Pak. Semoga apa yang terjadi kemarin jadi pelajaran yang berharga untuk Pak Dayan dan tidak akan terulang lagi.”


Dayan menganggut. “Insya Allah, Mas. Tolong sampaikan salam saya pada Pak Hutomo. Saya sangat berterima kasih atas bantuannya. Entah apa yang terjadi pada saya kalau tanpa bantuan Pak Hutomo dan Mas Tomi selama ini.” Sekali lagi dia mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


“Insya Allah nanti saya sampaikan, Pak. Saya permisi dulu.” Tomi berpamitan pada Dayan dan juga sang makelar.


“Kita ke kantor notaris mana, Mas?” tanya Dayan pada makelar usai Tomi meninggalkan mereka berdua.


“Dokter Rani minta yang dekat rumah, Pak. Kita ke notaris Sambodo setelah ini,” jawab makelar itu.


Kedua pria itu kemudian mengendarai motornya masing-masing menuju ke kantor notaris Sambodo, yang alamatnya tidak terlalu jauh dari daerah tempat tinggal keduanya. Kebetulan makelar itu masih tetangga Dayan, hanya beda nomor Rukun Tetangga. Kalau Dayan tinggal di RT 1, makelar itu tinggal di RT 3. Jarak rumah mereka pun hanya sekitar 100 meter.


Mereka pergi ke notaris untuk menitipkan sertifikat, sekaligus memberikan informasi terkait perikatan jual beli antara Dayan dengan dokter Rani keesokan harinya. Transaksi tidak terjadi hari itu juga karena kebetulan dokter Rani baru bisa ada waktu esok hari. Kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai dokter, tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Tidak seperti karyawan di kantor yang lebih mudah mengajukan izin kerja.


Hari itu Dayan juga izin kerja karena mengurus semuanya. Takut kalau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Untung saja ketakutannya tidak terjadi. Semua berjalan dengan lancar. Esok hari, dia baru izin setengah hari, karena transaksi dengan dokter Rani pada siang hari, sesuai waktu kosong dokter Rani.


Sepulang dari kantor notaris Sambodo, Dayan pergi ke warung sate langganannya. Selama ini dia tidak pernah enak makan dan tidur karena masalah yang menimpanya. Hari ini dia terbebas dari masalah, karena itu Dayan ingin menikmati makanan kesukaannya, yaitu tengkleng kambing. Entah apa nikmatnya makan makanan yang isinya tulang itu? Mungkin menggigiti daging yang menempel di tulang, atau mengisap sumsum tulang, yang menjadi daya tariknya. Yang jelas, Dayan suka sekali makanan yang berkuah. Andai pun tidak ada kuah, biasanya dia menuang air putih atau teh ke dalam nasinya agar berkuah. Sungguh kebiasaan yang cukup unik.


Pulang dari warung sate kambing langganannya, Dayan kembali ke rumah. Meskipun pria itu sebenarnya ingin ke ruko, tapi istri dan kedua anaknya pasti belum pulang dari kantor dan sekolah. Karena itu, dia ingin pulang terlebih dahulu untuk beristirahat, baru nanti sore atau malam pergi ke ruko agar bisa bertemu keluarga kecilnya.


Sampai di rumah, Dayan mengambil panci. Dia menuangkan dua porsi tengkleng ke dalamnya. “Lumayan bisa buat makan beberapa hari,” gumamnya seraya tersenyum puas.


Sesudah itu Dayan pergi ke ruang depan dan tiduran di sofa kesayangannya sambil menyalakan televisi. Yang pada akhirnya pria itu tertidur dengan posisi televisi menyala terus.

__ADS_1


Badan Dayan seperti terprogram. Dia selalu bangun saat mendekati azan salat lima waktu, tanpa menggunakan alarm. Seperti sore itu, Dayan bangun sebelum azan Asar berkumandang. Duduk sebentar, kemudian segera membersihkan diri dan berwudu. Sesudah itu baru pergi ke masjid untuk salat Asar.


Sepulang dari masjid, Dayan menghubungi istrinya. Menanyakan apa Bestari dan kedua anaknya sudah pulang. Namun, beberapa kali dia melakukan panggilan, ibu dari anak-anaknya itu tidak juga menjawab. Begitu pula saat menghubungi gawai Riri, juga tak ada jawaban. “Mereka ke mana sih, kok tidak ada yang mengangkat telepon?” gerutunya.


__ADS_2