Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 23


__ADS_3

“Aku tidak boleh tanda tangan sama Pak Heri kalau bukan bank besar, Pak,” tolak Bestari.


“Bu, kok begitu? Ini demi rumah biar tidak diambil Norman dan aku tidak dipenjara. Apa Ibu ikhlas rumah itu diambil alih sama Norman begitu saja? Ibu, juga mau aku dipenjara?” Dayan menatap istrinya. Rasa gelisah tak bisa disembunyikan. Dia begitu taku dilaporkan polisi dan masuk penjara. Pasti hidupnya akan berubah drastis dan nama baiknya di masyarakat akan tercoreng.


“Kalau ditanya ikhlas, ya enggak ikhlas, Pak. Kalau ingat bagaimana perjuangan kita membangun rumah dengan susah payah sampai bisa seperti sekarang, aku benar-benar enggak ikhlas rumah itu dijual. Semua gara-gara Bapak sama Royani. Biar saja Bapak sama Royan dipenjara. Biar kalian sama-sama merasakan akibat dari perbuatan kalian. Berani-beraninya melakukan sesuatu yang melanggar hukum seperti itu.” Bestari mengeluarkan unek-uneknya.


“Aku memang salah. Aku minta tolong banget. Ini untuk yang terakhir kalinya, Bu. Aku janji tidak akan melibatkan Ibu dalam pembayaran utang nanti. Aku yang akan menanggung semuanya. Aku janji.” Dayan kembali memohon. Kali ini dia bahkan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya dengan wajah yang memelas.


Hati Bestari terasa nyeri melihat sikap suaminya. Apalagi memandang wajah dan tubuh Dayan yang semakin terlihat kurus sejak mengutarakan akan menjual rumah dan punya kebiasaan baru mendengarkan selawat dari ponsel pintarnya. Suaminya itu memang rajin ke masjid setiap salat lima waktu. Namun, bukan orang yang suka berselawat atau mendengarkan kajian-kajian agama secara daring. Wanita dua anak itu baru menyadarinya sekarang.


Bestari menghela napas panjang sebelum mulai bicara. “Oke, besok aku akan ke bank untuk tanda tangan. Tapi aku tidak mau ikut menanggung utang atau apa pun yang timbul karena utang itu.”


“Iya, Bu. Aku janji. Aku yang akan menanggung semuanya. Terima kasih, Bu.” Dayan akhirnya bisa bernapas lega. Besok setelah utangnya pada Norman lunas, dia akan semakin gencar mempromosikan rumahnya agar cepat terjual. Hasil penjualan rumah itu untuk menutup pinjaman di bank. Sisanya akan dia simpan untuk membeli rumah atau mencari kontrakan. Karena Bestari sudah tidak mau tinggal satu rumah lagi dengannya untuk sementara ini.


Setelah mendapat jawaban dari Bestari serta bertemu sebentar dengan Riri dan Ratna, Dayan pulang ke rumah. Dia menyiapkan berbagai macam berkas yang diperlukan untuk proses penandatangan pinjaman esok hari. Saat pria itu sedang bersantai sesudah berkas-berkasnya beres, ada pesan masuk dari salah satu makelar tanah.


“Pak, ini ada yang mau beli tapi dia hanya punya uang 650 juta,” tulis sang makelar.


Dayan tersenyum setelah membaca pesan tersebut. Pertolongan dari Allah datang di saat terakhir. Sebelu membalas, Dayan menghubungi Bestari terlebih dahulu. Meminta pendapat sang istri, langkah apa yang akan diambil.


“Assalamu’alaikum, Bu,” salam Dayan begitu istrinya menerima panggilan tersebut.


“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Pak?” tanya Bestari tanpa basa-basi.


“Bu, ini dapat kabar dari makelar kalau dokter Rani mau beli rumah kita tapi cuma seharga 650 juta. Bagaimana, Bu?” tanya Dayan.

__ADS_1


“Bukannya kemarin kayanya nawar 700 juta?” Bestari balik bertanya.


“Ini katanya cuma siap 650 juta. Kalau boleh besok dia mau transfer 500 juta. Nanti uangnya langsung aku bayar ke Norman.  Sisanya buat aku sewa kontrakan,” jawab Dayan.


Bestari sejenak berpikir. Meskipun harga rumah jadi sangat jauh di bawah harga normal, tapi itu lebih baik. Daripada Dayan nanti berutang, dan dia juga harus ikut tanda tangan di bank. Kalau rumah sudah terjual, artinya sudah tidak ada tanggungan utang lagi. Mereka bisa hidup dengan tenang.


“Ya, sudah, Pak. Dilepas saja sama dokter Rani. Biar Bapak juga tidak perlu utang lagi,” ujar Bestari. Bagaimanapun kecewa dan bencinya pada Dayan, tidak dapat dipungkiri mereka berdua sudah hidup bersama selama 17 tahun. Suka dan duka sudah pernah dilewati bersama, walaupun akhirnya ada pengkhianatan di sana. Sebejat apa pun sifat Dayan, pria itu tetaplah bapak dari anak-anaknya.


“Ya, Bu. Aku akan hubungi makelarnya kalau begitu.” Dayan kemudian menutup panggilan tersebut.


“Mas, aku lepas sama dokter Rani rumahnya, tapi hari ini atau besok harus mentransfer 500 juta ya,” ucap Dayan pada sang makelar melalui sambungan telepon.


“Iya, Pak. Nanti aku sampaikan pada dokter Rani,” sahut makelar tersebut.


“Aku kirim nomor rekeningku. Kabari kalau sudah transfer.”


Sesudah mengakhiri panggilan tersebut, Dayan segera mengirim nomor rekeningnya lewat pesan pada sang makelar. Beberapa waktu kemudian ada pesan masuk.


“Sudah transfer 250 juta ya, Pak. Sisanya besok pagi karena maksimal transfer hanya bisa 250 juta.” Dokter Rani mengirim pesan pada Dayan.


“Baik, Dok. Terima kasih,” balas Dayan.


“Alhamdulillah, akhirnya aku bisa tidur nyenyak sekarang,” gumamnya dengan wajah semringah. Setelah itu dia menghubungi Edwin dan pengacaranya, kalau besok pagi akan melakukan pelunasan utang.


Sementara itu di ruko, Bestari sedang makan malam dengan kedua anaknya. Sambil makan, ibu dua anak itu memikirkan kata-kata yang akan dia sampaikan pada Riri dan Ratna agar mereka tidak terlalu sakit hatinya. Pasti tidak hanya sedih yang dirasa tapi juga sakit karena dikhianati sang bapak.

__ADS_1


“Riri, Ratna, ada yang mau ibu bicarakan,” ucap Bestari sesudah kedua anaknya selesai makan.


“Bicara apa, Bu? Kayanya serius banget,” sahut Riri seraya menumpuk piring yang kotor.


Bestari tersenyum. “Ini memang serius karena menyangkut kita semua.” Dia memandang kedua buah hatinya secara bergantian.


“Ibu, ada apa sih? Kok aku jadi takut.” Ratna ikut bersuara.


“Rumah kita sudah laku, yang beli dokter Rani,” ucap Bestari seraya melihat reaksi kedua anaknya.


Netra Riri membola begitu mendengar apa yang diucapkan sang ibu. Gadis berusia 15 tahun itu tentu saja sangat terkejut. Rumah yang sudah dia huni sejak masuk sekolah dasar dan punya banyak kenangan itu sebentar lagi akan segera berpindah kepemilikan.


Berbeda dengan Riri yang hanya diam saja, Ratna langsung menangis. Si bungsu memang lebih sensitif dan ekspresif dibandingkan sang kakak. Bestari kemudian mendekati Ratna. Dia memeluk anak bungsunya itu serasa mengelus punggungnya.


“Rumah itu berarti sudah bukan punya kita lagi, Bu? Terus barang-barang kita bagaimana? Apa juga diambil sama dokter Rani?” Ratna mencecar pertanyaan di sela tangisnya. Dada dan punggungnya bergetar karena sesenggukan.


“Iya, nantinya rumah itu akan jadi milik dokter Rani. Tentu saja kita ambil barang-barang kita semua di sana. Ibu nanti bilang sama Bapak biar Bapak ngomong sama dokter Rani kalau kita minta diberi waktu sebulan untuk beres-beres rumah. Kamu juga tidak mau ‘kan barang-barangmu diambil dokter Rani?” ujar Bestari.


Ratna menggelengkan kepalanya berulang kali. “Aku ambil semua barang-barangku, Bu.”


“Iya, Minggu pagi besok kita ke rumah. Membereskan semua barang-barang kita,” ucap Bestari seraya mengelus kepala Ratna.


Riri yang sejak tadi diam, beranjak dari duduk sambil membawa alat makan yang kotor ke dapur. Remaja itu tidak mau sang ibu melihatnya meneteskan air mata.


Jogja, 121022 20.12

__ADS_1


Beberapa bab lagi sebelum cerita ini berakhir.


__ADS_2