Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 15


__ADS_3

“Aku mengizinkan Ibu dan anak-anak tinggal di ruko. Nanti bagaimana Riri berangkat ke sekolah?” tanya Dayan yang masih memikirkan anak sulungnya.


“Kalau Bapak mau menjemput Riri ya silakan, aku berterima kasih. Tapi kalau Bapak tidak mau, biar Riri naik bis atau ojol. Kami bisa kok hidup bertiga tanpa Bapak,” jawab Bestari.


Hati Dayan seperti diremas dengan kencang. Sangat nyeri, saat mendengar ucapan sang istri yang mengatakan mereka sanggup hidup bertiga tanpanya. Kesalahannya memang fatal dan entah apa akan termaafkan. Menyesal pun kini juga sudah tidak ada gunanya.


“Apa anak-anak sudah tahu soal kita, Bu?” Dayan menoleh pada istrinya yang menatap lurus ke layar televisi di depan mereka.


“Aku baru cerita sama Riri. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu Ratna,” sahut Bestari tanpa mengalihkan pandangannya.


“Anak-anak kita masih kecil, Bu. Apa Ibu tidak mau memikirkan lagi dampaknya untuk anak-anak kalau kita hidup terpisah.”


Bestari menghela napas panjang lagi. “Aku sudah memikirkan baik-baik soal ini, Pak. Menurutku lebih baik kita tinggal terpisah daripada anak-anak melihat kita selalu bertengkar. Aku tahu hati mereka sakit kalau melihat atau mendengar kita bertengkar. Lama-kelamaan pasti akan berpengaruh pada mental mereka juga. Apalagi mereka sudah kelas 6 SD dan 3 SMP. Harusnya mereka bisa fokus belajar menghadapi ujian kelulusan, tapi karena perbuatan bodoh Bapak, membuat mereka jadi tidak bisa fokus lagi.”


“Aku tahu, aku salah, Bu. Aku memang bodoh.”


“Iya. Sangat-sangat bodoh karena terpikat rayuan wanita lain. Seandainya Bapak ini orang kaya, mungkin Bapak akan punya istri banyak karena pasti banyak wanita yang minta dinikahi. Pak Dayan yang baik hati dan merasa kasihan pada mereka, tentu saja tidak akan tega menolaknya,” sindir Bestari.


“Untung saja ya, Bapak hanya punya satu istri siri, jadi dosanya tidak terlalu banyak karena sudah tidak adil pada dua istrinya,” imbuh wanita berusia empat puluh tahun itu.


"Aku tidak bisa membayangkan kalau Bapak itu kaya dan punya jabatan tinggi. Entah bagaimana nasib rumah tangga kita. Mungkin aku tidak akan bertahan selama ini. Atau mungkin kita memang tidak akan pernah berjodoh karena selera Bapak 'kan wanita yang centil dan suka berpakaian seksi." Bestari masih terus mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


"Tidak usah berpikiran yang macam-macam, Bu. Toh itu juga tidak nyata."


Bestari tertawa mengejek. "Kalau nyata juga kejadiannya pasti tidak seperti ini. Bapak mungkin malah yang jadi rentenirnya." Dia lalu pergi, meninggalkan sang suami sendirian di ruang keluarga. Masuk ke kamar putri sulungnya dan tidur di sana.


***


Bestari mengajukan cuti selama satu hari untuk mencari pinjaman di bank pada kepala bagiannya. Untung saja, pimpinannya itu mengerti setelah dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


Pada saat cuti, Bestari pergi dari satu bank ke bank lain untuk mencari informasi pengajuan pinjaman. Namun, hanya bank plat merah dan bank swasta besar yang dia datangi karena kredibilitasnya. Tidak seperti Dayan yang asal mencari bank.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Bestari mengajukan hutang pada bank yang bisa memberi pinjaman paling besar dengan bunga yang paling rendah. Bermodal sertifikat ruko, slip gaji, dan juga pemasukan tambahan dari usaha tanaman, wanita itu mengajukan pinjaman paling maksimal yang bisa dia peroleh dengan jangka waktu lima belas tahun.


Beberapa hari kemudian, saat pencairan dana, Bestari masuk kerja setengah hari. Dia meminta Dayan datang ke bank untuk melakukan tanda tangan dengan pihak bank. Karena masih terikat sebagai suami istri maka bank membutuhkan tanda tangan mereka berdua. Setelah proses penandatanganan, uang sebesar tiga ratus juta rupiah langsung masuk ke rekening Bestari. Wanita itu sekarang bisa sedikit menghela napas lega karena uang sudah ada di tangan.


Bestari lalu menghubungi Wildan untuk melakukan koordinasi. Mereka berencana bertemu dengan pihak rentenir tanpa ada Dayan. Mencoba bernegosiasi agar mencapai kesepakatan.


“Mas Wildan, alhamdulillah saya sudah dapat uang, tapi hanya tiga ratus juta. Bagaimana ya?” ucap Bestari saat bertemu dengan Wildan.


“Insya Allah semoga bisa kita nego untuk membayar pokoknya saja,” sahut Wildan.


“Nanti saat pertemuan bisa ‘kan Mas Wildan yang bantu saya untuk ngomong?” mohon Bestari.


“Insya Allah saya bantu, Bu. Besok saya yang akan ngomong dengan mereka.”


“Saya membantu karena kita sesama muslim. Dan juga, saya juga tidak terima Ibu diperlakukan Pak Dayan seperti ini.”


“Terus rencana kita ketemu sama Norman kapan, Mas?”


“Bagaimana kalau Senin depan? Soalnya minggu ini saya tidak bisa.”


“Oke, Mas. Saya akan hubungi Erwin. Oh ya, Mas, mulai Minggu besok saya dan anak-anak akan tinggal di ruko. Saya tidak bisa hidup di rumah yang sama dengan suami saya. Setiap hari kami lebih sering bertengkar karena rumah itu. Saya kasihan dengan mental anak-anak,” cerita Bestari.


“Kalau menurut Ibu itu hal yang terbaik ya silakan saja.”


***


Minggu pagi, kesibukan mengepak baju dan buku mulai dilakukan setelah salat Subuh. Riri mengepak buku-buku yang diperlukan sampai menjelang ujian nanti, begitu pula Ratna. Sementara Bestari menyiapkan sarapan sebelum mengepak baju dan beberapa peralatan rumah tangga selama tinggal di sana.

__ADS_1


Dayan hanya diam saja melihat kesibukan anggota keluarganya.  Dia lebih sibuk dengan gawainya. Entah ada apa di benda pipih berbentuk persegi panjang itu, yang membuatnya tak pernah melepas kecuali sedang ke kamar mandi atau sedang salat.


Setelah sarapan siap, Bestari, Riri, dan Ratna makan bersama tanpa Dayan yang pergi kerja bakti setelah mendapat pengumuman dari Ketua RW.


“Bu, aku boleh bawa bantal dan bonekaku ya?” tanya Ratna yang baru saja mengambil perkedel lagi.


“Iya, boleh, tapi jangan semuanya ya. Di sana kamarnya cuma ada satu buat kita bertiga.”


“Iya, Bu. Aku cuma bawa satu boneka saja kok. Aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk bonekaku itu.”


“Iya, tidak apa-apa.”


“Bu, berarti kita bawa alat mandi, selimut, bantal, dan kasur lipat ya?” Kali ini Riri yang bertanya.


“Iya, kasurnya ‘kan kalau untuk tidur bertiga terlalu mepet. Biar nanti Ibu yang tidur di kasur lipat.”


“Aku saja yang tidur di kasur lipat, Bu,” tukas si sulung. “Aku lebih suka tidur di bawah,” imbuhnya.


“Iya, terserah kamu. Nanti kalau kamu sudah selesai, bantu Ibu mengumpulkan piring, sendok, dan gelas ya.” Bestari menatap si sulung.


“Siap, Bu. Aku tinggal sedikit lagi selesai kok. Habis cuci piring aku lanjutin mengepak baju terus bantu Ibu.”


“Terima kasih, Ri.”


“Aku juga mau bantu Ibu, tapi aku belum selesai,” keluh Ratna dengan cemberut.


“Kamu sih kebanyakan bermain, makanya enggak selesai-selesai. Habis ini jangan main-main lagi biar kita bisa selesai cepat terus kita ke ruko dan menata barang-barang di sana,” sahut Riri.


“Iya—iya, Mbak.”

__ADS_1


__ADS_2