Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 21


__ADS_3

Bestari menatap tajam Dayan. “Ceraikan aku, Pak!”


Dayan menggelengkan kepala. “Aku tidak akan pernah menceraikan, Ibu. Aku masih cinta sama Ibu,” ucapnya.


“Cinta kok berkhianat dan menikah lagi. Cinta apa itu?” sinis Bestari.


“Pokoknya sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Ibu.” Dayah bersikukuh.


Bestari menghela napas panjang. “Terserah, Bapak! Aku pokoknya mau pisah. Aku sudah tidak bisa percaya lagi sama Bapak. Aku sakit hati sekali, Pak.”


Dayan memandang istrinya dengan tatapan memohon. “Semuanya sudah terlanjur, Bu. Mau bagaimana lagi? Aku juga sudah menceraikan Royani. Aku minta maaf karena menyakiti hati Ibu dan juga anak-anak. Aku benar-benar menyesal.”


“Bapak saja masih tetap berhubungan dengan Royani kok,” ketus Bestari.


“Itu karena aku memantau perkembangan penjualan tanahnya, Bu," sanggah Dayan.


“Mau kembali lagi sama Royani juga enggak apa-apa kok, Pak,” timpal Bestari. “Aku dan anak-anak bisa hidup tanpa Bapak,” imbuhnya.


Kalimat terakhir Bestari bagaikan sembilu yang menusuk jantung Dayan. Rasanya sakit dan pedih sekali. Istri dan kedua anaknya secara langsung sudah menyatakan tidak membutuhkan keberadaannya di sisi mereka. Harga dirinya sebagai lelaki dan suami seolah tak ada lagi. “Aku masih ingin hidup sama Ibu dan anak-anak,” ucapnya pelan.


“Aku tidak mau hidup lagi sama Bapak. Entah kalau anak-anak. Kalau nanti kita pisah, Bapak juga tetap bisa bertemu sama anak-anak. Meskipun Bapak tidak memberi nafkah pada mereka, tapi Bapak itu tetap bapaknya anak-anak,” ujar Bestari.

__ADS_1


“Bukannya aku tidak mau menafkahi anak-anak, Bu. Gajiku habis untuk bayar cicilan. Sisa sedikit untuk aku wira-wiri kerja.” Dayan beralasan.


“Buat wira-wiri apa buat Royani?” sindir Bestari. “Bukannya Bapak setiap bulan memberi dia nafkah? Malah istri sah sama anak sendiri tidak pernah dinafkahi. Bapak memang suami yang baik ya buat Royani, tapi tidak buatku,” sambungnya.


Sekali lagi Dayan tersentak dengan kata-kata yang Bestari ucapkan. Pedas, menyakitkan, tapi memang kenyataan. Begitu dalam luka yang sudah dia torehkan pada istrinya itu. Mungkin kata maaf saja tidak cukup untuk bisa menghapus semua luka itu.


“Aku pulang, Pak. Kasihan anak-anak di rumah tidak ada makanan.” Bestari beranjak pergi meninggalkan Dayan yang hanya bisa diam. Tidak bisa menahan kepergian sang istri.


...***...


Bestari akhirnya menceritakan masalah soal rumah pada Riri dan Ratna. Meskipun dia tidak memberi tahu Ratna soal bapaknya yang punya istri muda. Bestari tidak mau anaknya itu terluka. Biarlah nanti Ratna tahu dengan sendirinya setelah semua berlalu. Bestari harus menjaga mental kedua anaknya yang akan menghadapi ujian kelulusan sekolah.


Riri dan Ratna akhirnya merelakan rumah tersebut dijual setelah Bestari memberi pengertian. Mereka tidak mau rumah itu jatuh ke tangan sang rentenir. Bagaimanapun rumah tersebut mempunyai banyak kenangan untuk mereka berempat. Setelah semua anggota keluarganya setuju, Dayan semakin bersemangat menawarkan rumah tersebut.


Banyak orang yang tertarik datang melihat rumah Dayan, karena halaman dan rumahnya yang luas. Namun, mereka tidak cocok dengan harganya. Ada yang bilang sudah cocok, tapi ternyata hanya sekadar omongan. Padahal Dayan sudah sangat berharap rumah itu terjual. Dayan memang sangat mudah percaya pada orang lain.


Sambil menawarkan rumah, Dayan juga mengajukan pinjaman ke bank dengan jaminan rumah yang dalam sengketa tersebut. Rencananya bila nanti rumah laku, uangnya akan digunakan untuk melunasi utang di bank. Sedangkan uang dari bank untuk membayar Norman.


Banyak bank yang sudah Dayan datangi, tapi mereka tidak berani memberi pinjaman sebesar yang diminta pria berusia 42 tahun itu. Dayan meminta bantuan Bestari, menggunakan usaha tanamannya sebagai pendukung. Awalnya Bestari menolak, karena dia tidak mau ikut menanggung utang itu. Namun, akhirnya ibu dua anak itu bersedia asalkan dia tidak ikut bertanggung jawab menanggung utang. Karena itu akhirnya banyak pihak bank yang datang untuk melakukan survei ke toko dan meminta laporan keuangan usaha tanaman Bestari.


Erwin sebenarnya juga menawarkan bantuan. Mereka akan membantu proses penjualan rumah, tapi menetapkan fee yang tinggi.Tentu saja Dayan menolak. Kalau fee makelar terlalu tinggi nanti dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Sama saja dia kehilangan rumahnya.

__ADS_1


Waktu jatuh tempo pembayaran semakin mepet. Membuat Dayan semakin kebingungan. Dia terus mendesak Bestari agar membantunya.


“Bu, ayolah bantu aku biar rumah itu cepat laku,” bujuk Dayan.


“Minta bantuan Royani sana. Kenapa aku terus yang Bapak kejar? Harusnya Bapak kejar Royani. Kan dia yang pakai uangnya. Aku enggak pakai uangnya tapi ikut kena imbasnya,” tolak Bestari yang meradang. Dia sangat kesal karena Dayan sudah membuat hidupnya tidak tenang. Apalagi dengan kedatangan orang-orang dari pihak bank yang ingin survei tokonya. Entah dosa apa yang sudah dia buat sampai harus mengalami hal itu.


“Royani itu sekarang pergi, Bu. Dia ke luar kota karena banyak orang yang juga mencarinya menagih utang,” jelas Dayan.


Bestari tersenyum sinis. “Ck, kabur? Orang kebanyakan utang ya gitu, hidupnya tidak tenang. Selalu dikejar-kejar. Bisa jadi nanti uang yang dia pakai juga tidak akan dikembalikan.”


“Royani pasti akan mengembalikannya setelah tanahnya laku. Dia sudah janji. Aku yakin itu, Bu. Makanya Ibu kalau bisa pinjami dia uang buat ngurus tanahnya.” Dayan masih terus membela Royani.


Ucapan Dayan membuat Bestari semakin meradang. “Tidak sudi aku meminjami dia uang. Memangnya Bapak ada perjanjian tertulis sama Royani kalau dia akan mengembalikan uang? Yakin banget dikembalikan.”


“Aku yakin dia mengembalikan. Dia sudah janji. Aku akan terus tanya perkembangan tanahnya di sana,” jawab Dayan penuh keyakinan.


“Oalah, Pak, hari gini masih percaya sama orang hanya dengan ucapan? Yang pakai perjanjian saja bisa ingkar apalagi hanya omongan. Aku itu heran sama Bapak, sudah sering ditipu orang kenapa tidak pernah sadar sih. Royani itu sudah memanfaatkan Bapak. Harusnya Bapak bikin surat perjanjian di atas materai kalau dia akan mengembalikan. Apa dia bilang kapan akan mengembalikan?”


Dayan menggeleng. “Kan, tidak tahu proses tanahnya selesai kapan, Bu.”


“Nah, itu saja tanahnya masih dalam sengketa kok Bapak masih percaya saja. Tanahku yang jelas sertifikatnya saja juga belum terjual padahal sudah lama ditawarkan. Bapak itu mbok ya mikir pakai logika. Jangan cuma asal percaya. Mbok jadi orang itu yang cerdas sedikit, Pak.” Bestari tidak habis pikir dengan sikap suaminya yang masih saja percaya dengan Royani. Entah apa yang sudah dilakukan dan diberikan oleh Royani sampai Dayan seperti itu. Sejak menikah sampai saat ini saja, Dayan memang selalu lebih percaya pada orang lain daripada keluarganya sendiri.

__ADS_1


“Soal itu jangan dibahas lagi, Bu. Aku mohon dengan sangat. Tolong tawarkan rumah itu sama teman Ibu. Atau pinjam uang sama mereka dengan jaminan sertifikat rumahnya. Bisa ‘kan, Bu?”


Jogja, 061022 23.15


__ADS_2