
“Saya sebenarnya sudah tahu kalau Pak Dayan meminjam uang pada rentenir dan punya istri muda,” ucap Wildan.
“Apa?” teriak Bestari yang terkejut. “Maaf, Mas,” ucapnya kemudian setelah sadar kalau suaranya sangat keras.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya maklum kok.” Pria itu tersenyum.
“Bagaimana Mas Wildan malah tahu lebih dulu daripada saya?” tanya Bestari setelah keadaannya lebih tenang.
“Seminggu yang lalu Pak Dayan datang ke sini, minta tolong sama saya pura-pura jadi pembeli rumah Ibu. Bapak ke sini bersama Royani, istri mudanya.”
“Jadi, Mas Wildan sudah ketemu sama Royani?” tukas Bestari.
Wildan menganggut. “Iya, sudah. Saya bahkan punya fotonya. Saya ambil diam-diam saat mereka di sini. Ya posisinya duduknya di tempat Ibu duduk sekarang. Nanti saya kirim ke Ibu fotonya. Apa Ibu sudah pernah bertemu wanita itu?”
Bestari menggeleng. “Belum pernah, Mas. Tapi saya sudah melihat video-videonya yang menangis karena tidak mau diceraikan suami saya. Terus bagaimana kelanjutan cerita Mas Wildan tadi?”
“Ya, saya tanya untuk apa pinjam uang sebanyak itu. Katanya untuk bayar leasing mobil yang hampir jatuh tempo. Saya sempat tanya juga berapa lama kenal sama Pak Dayan, katanya sudah delapan tahun. Ke Ibu ngaku juga tidak?” tanya Wildan.
“Iya, ngaku ke saya juga delapan tahun kenal. Tapi menurut suami saya, mereka menikahnya baru tiga tahun. Entah siapa yang benar. Ya Allah, Mas, ternyata selama ini saya dibohongi sama suami saya. Tega sekali dia, kelihatannya kalem tapi tingkah lakunya, astaghfirullah.” Bestari mengelus dadanya.
"Maaf ya, Bu, saya itu kesal sekali sama Pak Dayan. Saya bilang Pak Dayan itu bodoh. Mau saja sama wanita kaya gitu. Royani itu 'kan hanya memanfaatkan Pak Dayan saja. Dia selalu bilang Pak Dayan baik. Ya, iya baik soalnya dikasih apa saja sama Pak Dayan." Wildan pun jadi sedikit emosional.
"Iya, Mas. Kalau ditanya kenapa nikahi Royani? Jawabnya kasihan. Saya bilang saja tidak mungkin karena kasihan pasti dia juga suka, tapi katanya tidak. Kalau tidak suka 'kan harusnya dia bisa menolak. Dasar suami saya juga mau wanita itu," geram Bestari.
__ADS_1
"Iya, benar, Bu."
"Suami saya kapan ke sini sama wanita itu?" tanya Bestari yang mulai fokus lagi.
Wildan diam sebentar, mencoba mengingat. "Jumat kemarin, Bu."
Netra Bestari membola. "Jumat kemarin?"
"Iya, Bu. Soalnya saya ingat itu buru-buru pulang karena mau salat Jumat. Jadi waktu itu saya ke kantor notaris pura-pura jadi pembeli biar bisa melihat surat perjanjiannya."
"Isi surat perjanjiannya bagaimana, Mas?"
“Ya, seperti perjanjian jual beli tanah dan rumah pada umumnya, Bu.”
“Kok perjanjian jual beli sih, Mas. Mereka ‘kan urusannya hutang piutang?” Kening Bestari mengerut.
“Mereka ini sudah jaringan, baik yang mengajak, yang punya dana dan juga pihak notaris. Yang mengajak itu akan mencari mangsa di bank-bank. Mereka akan mendekati orang-orang yang tidak bisa berhutang di bank dan sekiranya bisa dimainkan. Berkedok meminjamkan uang, tapi nanti akhirnya ya mengambil tanah atau rumah orang jauh di bawah harga normal,” imbuh pria berkacamata itu.
“Ya Allah, jahat sekali ya mereka, Mas.”
“Ya begitulah cara kerja mereka yang penting dapat uang dengan segala cara. Oh ya, Bu, ada satu lagi yang belum saya sampaikan.”
“Apa, Mas?”
__ADS_1
“Saat saya melihat surat perjanjian jual beli itu saya melihat ada tanda tangan Ibu di sana.”
“Apa? Tanda tangan saya? Tidak mungkin, Mas. Itu pasti sudah dipalsukan,” tukas Bestari yang mulai emosi kembali.
“Iya, memang begitu, Bu. Setelah saya lihat tanda tangan itu saya tanya ke mereka apa ini tanda tangan wanita yang bersama Pak Dayan? Dan mereka menjawab iya. Langsung saya bilang, ini tanda tangan sudah dipalsukan. Saya tahu betul siapa istri sah Pak Dayan dan bukan wanita ini. Perjanjian ini tidak sah. Terus saya mengajak Pak Dayan untuk keluar.”
“Karena saya tunggu Pak Dayan tidak juga keluar, langsung saya telepon di depan kantor notaris itu. Setelah itu Pak Dayan baru keluar. Ayo Pak, kita pulang saja. Enggak benar ini, kata saya. Pak Dayan bilang iya nanti akan menyusul. Terus saya pesan jangan sampai Pak Dayan mau menandatangani apa pun. Katanya iya. Ya sudah, saya percaya, Bu.”
“Karena sudah mepet waktu salat Jumat, saya segera pergi dari sana dengan harapan Pak Dayan menyusul. Saya berulang kali melihat dari kaca spion, tapi sama sekali tidak terlihat Pak Dayan mengikuti. Saya masih berusaha menghubungi Bapak berkali-kali, tapi tidak diangkat. Akhirnya saya langsung ke masjid saja untuk salat Jumat.” Wildan menjeda sejenak untuk mengambil napas.
“Saya kembali ke sini setelah salat Jumat, ternyata Bapak dan Royani sudah menunggu saya di sini. Saya tanya pada Royani kenapa memalsukan tanda tangan Ibu, katanya itu sudah kehendak Allah. Dan dia hanya menuruti saja apa yang disuruh suaminya. Bu, rasanya saya marah sekali waktu itu. Saya bilang itu pemalsuan, sudah masuk ranah pidana. Kalau sampai Bu Bestari menuntut, nanti mereka bisa dipenjara.”
“Setelah saya mencerca mereka, akhirnya Royani pulang terlebih dahulu karena katanya ada perlu. Jadi Pak Dayan dan Royani ke sini bawa motor sendiri-sendiri, tapi pas ke notaris mereka berboncengan. Setelah Royani pergi , saya memarahi Pak Dayan karena mau tanda tangan kalau sudah memalsukan tanda tangan. Tahu tidak Bu, jawaban Bapak apa?”
“Karena kasihan sama Royani?” tebak Bestari.
“Betul. Pak Dayan bilang kasihan istrinya sendirian di dalam ruangan dikeliling orang-orang berbadan besar. Saya bilang, Bapak itu goblok, kenapa mau tanda tangan. Biar Royani saja yang tanda tangan karena dia yang memalsukan. Berulang kali Bapak terus bilang kasihan. Saya sampai bilang seperti ini, l*nte kaya gitu saja dibelani, Pak. Dia itu hanya memanfaatkan kebaikan Bapak.”
“Terus katanya Royani janji akan mengembalikan uang yang dibayar sama rentenir itu. Apa Ibu tahu uangnya itu sebenarnya dipakai siapa?” tanya Wildan.
Bestari menggeleng. “Setahu saya ya untuk ikut bisnis sama orang keraton, Mas. Memangnya uangnya dipakai sama Royani?”
Wildan menganggut. “Iya, mereka pinjam tiga ratus juta rupiah, bayar ke makelar tujuh setengah juta, sisanya ya Royani yang pegang.”
__ADS_1
“Astaghfirullah hal adzim.” Bestari mengucap istigfar berkali-kali begitu mendengar kenyataan yang begitu menyesakkan dadanya. Pikirannya masih coba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana bisa suaminya rela mengorbankan apa pun demi istri sirinya sementara Dayan selalu bergantung padanya. Dada Bestari naik turun dengan cepat karena emosi yang dia rasakan.
Wildan yang melihat hal itu jadi merasa prihatin. “Saya punya solusi yang mungkin bisa membantu, apa Ibu mau?”