Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 8


__ADS_3

“Aku itu sebenarnya punya tanah warisan di kota asalku, Mas. Tapi masih belum beres urusan sertifikatnya. Masih belum dipecah karena ada keluarga yang tidak setuju. Aku mau jual tanah itu, tapi belum laku. Kalau laku ‘kan bisa untuk membayar, Mas.”


“Ya tunggu saja sampai laku,” sahut Dayan.


“Tapi sampai kapan, Mas. Waktu dari leasing hanya tinggal sebulan lagi. Mas Dayan masih punya tanah ‘kan untuk dijadikan jaminan?”


“Apa?” teriak Dayan yang terkejut dengan ucapan istri mudanya.


“Aduh! Kenapa teriak, Mas? Bikin kaget saja.” Royani mengerutkan kening sambil menatap sang suami dengan kesal.


“Aku kaget tadi, Yan. Jadi refleks teriak,” terang Dayan. "Maaf ya sudah membuatmu kaget," ucapnya lembut.


“Iya, tapi jawab pertanyaanku tadi, Mas,” pinta Royani dengan nada manja.


Dayan mengembuskan napas panjang. “Aku pikirkan dulu alasan menjual tanah itu sama sama istri dan anakku.”


Royani tersenyum lebar. Suaminya itu memang selalu mengabulkan semua keinginannya. “Aku janji akan mengembalikan uangnya kalau tanahku sudah laku, Mas.”


“Benar ya? Sekarang cuma itu yang aku punya. Aku tidak punya apa-apa lagi, Yan,” jujur Dayan.


"Iya, benar. Mana mungkin aku bohong, Mas. Apa Mas Dayan tidak percaya sama aku?"


"Aku percaya kok. Masa sama istri sendiri tidak percaya," ujar Dayan yang membuat Bestari memeluknya.


Beberapa hari Dayan memikirkan alasan untuk menjual rumah yang selama ini ditinggali dengan Bestari dan kedua anaknya. Rumah yang dulu begitu sederhana hingga sekarang bisa dibilang tidak sederhana lagi. Ada penambahan beberapa ruangan, furnitur, dan lain sebagainya. Menjadikan keluarga mereka bisa jadi lebih dipandang oleh masyarakat sekitar. Bahkan Dayan pun diangkat menjadi ketua RT di lingkungannya.

__ADS_1


Setelah memikirkan berbagai hal akhirnya dia menemukan alasan yang menurutnya tepat. Selama ini Bestari sering mengeluh capek membersihkan rumah sebesar itu. Ya, meskipun kadang-kadang anak mereka membantu, tapi tetap saja dia sering turun tangan sendiri.


"Bu, kita pindah ke ruko saja ya. Rumah ini dijual buat membangun rumah yang kemarin aku beli," ucap Dayan saat mereka sedang berbaring di atas ranjang.


"Bukannya Bapak sudah setuju untuk memikirkan lagi soal itu." Bestari menoleh ke samping kiri di mana suaminya berbaring.


"Iya, tapi aku benar-benar tidak suka tinggal di sini, Bu. Aku ingin tinggal di tempat yang lebih nyaman. Rumah sana 'kan juga lebih dekat sama kantor Ibu." Dayan coba membujuk istrinya. "Rumahnya juga tidak terlalu besar, jadi Ibu tidak butuh banyak tenaga untuk membersihkan. Ibu suka mengeluh capek 'kan habis bersih-bersih karena rumah ini besar," tambahnya.


"Bapak masih menganggap aku dan anak-anak apa tidak sih?" tanya Bestari dengan nada kesal.


Dayan mengernyit. "Maksudnya apa, Bu? Aku enggak ngerti."


"Apa Bapak masih menghargai keberadaanku dan anak-anak?"


"Ya, tentu saja. Ibu dan anak-anak 'kan keluargaku. Mana mungkin aku tidak menghargai kalian," sahut Dayan.


"Itu karena kalian saja selalu menentang apa yang aku inginkan," balas Dayan tak mau kalah.


"Selama keinginannya baik, bukankah selalu kami dukung, Pak. Sudahlah aku malas berdebat lagi sama Bapak. Pokoknya aku sama anak-anak tidak mau rumah ini dijual. Titik! Aku mau tidur, Pak, jangan dibahas lagi." Bestari kemudian memiringkan badan, membelakangi sang suami.


Dayan hanya bisa menghela napas panjang. Keputusannya sudah bulat untuk menjual rumah itu dengan atau tanpa persetujuan istri dan anak-anaknya. Dia tidak bisa melihat istri sirinya bingung karena harus membayar leasing mobil.


Royani, sang istri siri sudah banyak hutang. Tidak mungkin istrinya itu bisa meminjam uang pada teman atau saudaranya yang sudah dia hutangi. Dayan sendiri juga sebenarnya diam-diam suka berhutang demi memenuhi permintaan Royani tanpa Bestari ketahui.


Suatu hari Dayan mengambil sertifikat rumah yang disimpan di dalam lemari. Tentu saja Bestari tidak tahu karena memang dia tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti itu. Pria itu mengambil dan membawanya tanpa seorang pun yang tahu sebab dimasukkan ke dalam tas kerja.

__ADS_1


Sepulang kerja, Dayan datang ke salon Royani baru kemudian mereka bersama pulang ke kontrakan. Royani menyediakan minuman untuk suaminya seperti layaknya seorang istri pada umumnya. Dayan duduk di sofa ruang tamu sembari menyandarkan punggung. Dia mengirim pesan pada Bestari kalau pulang telat karena lembur di kantor. Setelah mendapat balasan dari istri sahnya, Dayan menaruh gawai di atas meja.


“Ini diminum dulu, Mas.” Royani meletakkan gelas berisi minuman berenergi kesukaan Dayan di samping gawai milik sang suami.


“Alhamdulillah. Terima kasih, Yan.” Dayan mengambil gelas itu lalu meminumnya seperempat, kemudian menempatkan kembali gelas ke atas meja.


“Kok tumben enggak ngabari dulu kalau mau datang, Mas?” tanya Royani yang merapat pada Dayan.


“Memangnya tidak boleh? Ya sudah, aku pulang saja kalau begitu.” Dayan berpura-pura akan pergi.


“Ya boleh, masa suami enggak boleh datang sih,” sahut Royani dengan manja.


Dayan mengambil sesuatu dari dalam tas kantor. Mengeluarkan sertifikat tanahnya lalu menyerahkan pada Royani. “Ini sertifikat rumahku. Kamu bawa saja dulu biar aku tidak perlu membawanya setiap hari. Aku akan mengajukan cuti selama tiga hari. Pas aku cuti itu, kita cari pinjaman di bank.”


“Benar tidak apa-apa kalau sertifikat aku yang bawa, Mas? Bagaimana kalau Ibu mencari dan tanya kok sertifikatnya tidak ada?” Royani tampak ragu.


“Tidak apa-apa. Bestari tidak pernah mengecek kaya gitu. Dia itu baru akan mengecek kalau sedang butuh. Lagian istriku juga tidak pernah menggubris sertifikat atas namaku. Kamu tenang saja. Dia tidak akan tahu. Percaya sama aku,” jelas Dayan.


Royani menganggut, memilih percaya dengan suami sirinya itu. “Terus nanti kita pinjamnya bilang untuk apa, Mas?” tanyanya.


“Ya bilang saja buat usaha atau untuk membangun rumah. Nanti aku yang atur semua,” jawab Dayan. “Oh ya, kira-kira berapa lama itu mengurus sertifikat tanahmu dan proses jual belinya?”


Royani diam sebelum menjawab. “Mungkin sekitar tiga atau empat bulan, Mas. Aku akan terus menawarkan tanah itu. Aku juga sudah memercayakan orang untuk mengurus sertifikat di sana.”


Dayan menganggut. “Baguslah kalau begitu.”

__ADS_1


Seperti janjinya pada Royani, Dayan mengajukan cuti selama tiga hari dengan alasan pergi keluar kota karena ada urusan keluarga. Kantor pun mengabulkan pengajuan cutinya. Pria itu lalu memberi kabar pada Royani kalau dia bisa cuti dan meminta sang  istri siri untuk menyiapkan berkas-berkas yang sekiranya diperlukan.


Royani tersenyum lebar saat menerima pesan dari Dayan. Suaminya itu memang selalu bisa diandalkan di saat-saat genting seperti sekarang. Sungguh sosok suami idaman untuknya. Namun, tidak untuk Bestari.


__ADS_2