Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 28


__ADS_3

“Kalau tidak sekarang, kapan lagi, Pak? Aku cuma ada waktu banyak di Sabtu dan Minggu. Harusnya Bapak yang tinggal di sini mulai mencicil. Itu pun kalau Bapak peduli.”


Dayan terdiam setelah mendengar ucapan pedas dari sang istri. Memang selama ini dia tidak melakukan apa pun di rumah selain hanya tiduran, bermain ponsel, dan melakukan pekerjaan rumah. Menurutnya itu jadi tugas Bestari, dengan dalih dia tidak tahu mana yang akan istrinya bawa. Padahal pria itu bisa mengumpulkan barang-barang yang sudah tidak pernah dipakai, koran-koran atau buku bekas, nyatanya Dayan tak melakukan apa pun. Bahkan untuk memilih dan memilah pakaiannya sendiri saja, tidak dilakukan.


“Lebih baik Bapak keluar daripada hanya membuat kamar ini jadi semakin sempit dan sesak.” Bestari menurunkan tumpukan pakaiannya dari lemari ke atas tempat tidur.


Dayan menghela napas panjang lalu ke luar dari kamar itu. Bukannya membereskan gudang, dia malah mandi. Usai mandi, pria berusia 42 tahun itu berpakaian rapi. Berpamitan pada Bestari kalau akan pergi mengikuti pengajian kelompoknya.


Bestari hanya diam saat suaminya itu pergi. Dia sudah tak peduli apa yang Dayan lakukan, yang ada dalam pikirannya hanya ingin semuanya cepat beres. Memindahkan barang-barang dari rumah lama ke tempat yang akan disewa sambil menunggu rumahnya dibangun. Walaupun dana yang dipunya hanya terbatas. Yang penting ada tempat untuk menaruh perabot dan yang lainnya.


“Bapak ke mana, Bu?” tanya Riri yang mendengar ada suara motor meninggalkan rumah tersebut.


“Pengajian katanya,” jawab Bestari tanpa menghentikan kegiatannya memilih dan memilah pakaiannya. Ternyata banyak pakaian yang masih bagus di dalam lemari, tapi sudah tidak muat lagi di badannya. Jadi, dia menyisihkan pakaian-pakaian tersebut sesuai jenisnya. Setelan baju kerja dijadikan satu, begitu pula batik-batik dan juga gamis dijadikan satu berdasarkan jenisnya.


“Memangnya Bapak tidak mau ikut beres-beres, Bu?” tanya Riri yang merasa kesal dengan Dayan.


“Ibu juga tidak tahu, Ri. Sudah, tidak perlu pedulikan Bapak. Yang penting kita beres-beres barang-barang kita sendiri,” jawab Bestari yang tak mau ambil pusing.


“Iya, Bu.” Riri kembali ke kamarnya, meneruskan kegiatan yang tadi dia tinggalkan karena mendengar suara motor di halaman rumah tersebut.


Dayan pulang ke rumah selepas Zuhur. Waktu Bestari dan anak-anaknya sedang beristirahat makan siang. Memilah dan memilih pakaian ternyata cukup melelahkan. Karena pakaian mereka ternyata cukup banyak, apa lagi kepunyaan Bestari.


Melihat istri dan ketiga anaknya sedang makan, Dayan langsung masuk ke dalam kamar. Berganti pakaian kemudian mengeluarkan tumpukan pakaian miliknya dari dalam lemari dan meletakkannya di atas tempat tidur. Melakukan apa yang sebelumnya sang istri kerjakan, memilih pakaian yang masih dipakai dan tidak terpakai.

__ADS_1


Usai makan siang, Bestari kembali masuk ke dalam kamar. Dia tidak menutup pintu kamar, membiarkannya terbuka. Ibu dua anak itu sudah tidak merasa nyaman berada dalam satu ruangan berdua dengan Dayan. Meskipun pria itu masih menjadi suaminya. Membayangkan sang suami pernah menyentuh wanita lain, membuat Bestari merasa sangat jijik dan tidak mau disentuh lagi oleh Dayan.


"Aku besok mau tinggal di rumahnya Mbak Titik, Bu." Dayan membuka percakapan setelah mereka saling berdiam diri di kamar tersebut.


"Ya. monggo. Tinggal dibersihkan saja rumahnya. Lebih irit daripada mengontrak rumah," sahut Bestari tak acuh.


"Nanti aku minta lemari sama kasur yang di kamar ini, Bu. Kulkas, kompor, sama alat dapur," ujar Dayan.


"Ambil saja," timpal Bestari pendek.


"Inginku beli rumah, tapi uangku tinggal 100 juta," cerita Dayan. "Kemarin Mas Tejo bilang mau pinjam uang untuk beli armada baru begitu tahu rumah ini laku. Katanya setiap bulan dia akan membayar 1,5 juta sebagai jasanya meminjam uang. Daripada membayar bunga ke bank, lebih baik membayarku. Jadi kaya aku investasi ke travelnya," sambungnya.


"Bagus kalau begitu. Usaha travel Mas Tejo sudah berjalan lancar. Investasi di sana jelas. Yang penting ada perjanjian dan jaminannya. Aku dengar dia memang sering kekurangan armada. Banyak orang yang suka menyewa mobil akhir-akhir ini. Lumayan 'kan setiap bulan Bapak jadi ada pemasukan. Bisa buat makan dan ditabung," komentar Bestari. "Bapak, mau 'kan?" Dia menoleh pada sang suami.


Bestari mengernyit mendengar jawaban Dayan. Emosinya kembali naik begitu nama Royani disebut sang suami. "Urus Royani saja sana sekalian. Balik sama dia. Sudah diakali dan dimanfaatkan kok masih saja percaya. Terserah Bapak uang itu mau diapakan. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku sudah tidak mau tinggal satu atap lagi sama Bapak," tegasnya.


Bestari meletakkan pakaian yang tadi dia pegang. Memilih pergi ke luar dari kamar dan meninggalkan pekerjaannya. Kalau tetap di kamar bersama Dayan, dia takut lepas kendali dan pasti ribut dengan suaminya. Wanita itu tidak mau anak-anaknya sampai mendengar keributan mereka. Lebih baik menghindar dan melakukan hal lainnya.


***


"Mbak, aku mau rawat dan jaga rumahmu. Boleh ya," pinta Dayan pada kakak sulungnya yang tinggal di luar kota melalui sambungan telepon.


"Maksudmu apa, Yan? Aku enggak ngerti," sahut Titik dari seberang telepon.

__ADS_1


"Ya, rumahnya aku bersihin. Nanti aku tinggal di sana," terang Dayan.


"Apa? Kamu mau tinggal di sana? Memangnya kenapa?" tanya Titik yang belum mengetahui masalah antara sang adik dengan iparnya.


"Rumahku sudah laku dijual, Mbak," jawab Dayan.


"Apa? Dijual?" Titik lagi-lagi bertanya dengan nada keras karena terkejut.


"Iya. Mbak," jawab Dayan dengan suara pelan.


"Kenapa dijual?" Titik terus saja bertanya.


"Aku terjerat hutang sama rentenir ratusan juta, Mbak. Aku hutang memakai sertifikat tanah ini." Dayan kemudian menceritakan semua hal tanpa ada yang ditutupi, termasuk nikah sirinya dengan Royani.


"Ya, Allah. Astaghfirullah," kata yang Titik ucapkan berulang kali kala sang adik bercerita.


"Jadi, begitu ceritanya, Mbak. Bestari sama anak-anak tinggal di ruko sekarang. Aku di rumah sendiri. Kalau rumah ini sudah diambil yang beli, aku tidak punya tempat tinggal lagi. Makanya aku mau menempati rumah Mbak Titik." Dayan mengakhiri ceritanya.


"Dayan, Dayan. Kamu ini sudah hidup enak sama istri dan anakmu kenapa malah bikin ulah. Dulu kamu sudah hidup menderita, kenapa sekarang mau menderita lagi? Anak-anak sudah beranjak besar. Umurmu juga sudah semakin tua, harusnya kamu fokus ibadah saja tidak malah melakukan hal-hal bodoh seperti itu." Titik memarahi adiknya.


"Sekarang keadaan sudah seperti ini. Bestari dan anak-anakmu sakit hati sama kamu. Apa yang bisa kamu lakukan biar mereka memaafkanmu? Kalau aku jadi Bestari, aku pasti juga akan melakukan hal yang sama. Kamu ini kenapa jadi kurang bersyukur sih, Yan? Kurang apa Bestari sama kamu? Apa kamu sadar kalau kamu hanya dimanfaatkan sama istri mudamu itu? Dia itu hanya mau mengambil uangmu saja." Titik mengungkapkan kekesalannya pada Dayan. Dia tidak habis pikir kenapa adiknya bisa melakukan hal bodoh yang akhirnya malah menghancurkan rumah tangganya.


"Aku itu kasihan dan niatnya membantu Royani, Mbak." Dayan membela diri.

__ADS_1


"Kasihan dan membantu boleh, tapi jangan bodoh, Dayan!"


__ADS_2