
“Assalamu’alaikum. Ibu sama anak-anak pergi ke mana? Aku ada di ruko,” tanya Dayan saat panggilannya dijawab.
“Wa’alaikumussalam. Kami mau ke toko buku, Pak,” jawab Riri yang menjawab panggilan tersebut karena sang ibu sedang mengemudikan mobil.
“Setelah itu kalian pulang ‘kan? Bapak bawa makanan kesukaan kalian nih dari restoran XX,” ujar Dayan.
“Ya, kalau langsung dapat yang dicari, Pak. Kalau belum dapat, ya belum pulang. Cari di toko buku lainnya,” sahut Riri.
Dayan menghela napas panjang. “Jam berapa pun kalian pulang, bapak tunggu,” putusnya.
“Kami belum tahu pulang jam berapa. Nanti kalau toko tutup, sebaiknya Bapak juga pulang. Tidak perlu menunggu kami.” Bestari kali ini yang bersuara. Riri memang mengaktifkan mode pengeras suara hingga semua yang ada di mobil mendengar.
“Kalian di toko buku mana? Aku mau susul ke sana,” tanya Dayan.
“Tidak usah, Pak. Ya kalau nanti kami masih ada di sana pas Bapak datang, kalau kami sudah pergi apa malah tidak sia-sia,” jawab Bestari yang lagi-lagi menohok sang suami.
“Ya sudah kalau begitu, Bu. Aku tadi masak nasi, nanti kalau kalian mau makan. Semua makanan yang tadi aku beli sudah aku taruh di atas meja makan. Jangan lupa dipanaskan atau dimasukkan kulkas kalau nanti tidak dimakan,” pesan Dayan yang memilih menyerah dan pasrah dengan keadaan.
“Ya, Pak. Terima kasih.” Telepon kemudian terputus sebelum Dayan sempat bicara lagi.
“Apa aku memang tidak ada artinya lagi di mata kalian?” gumam Dayan dengan lesu.
Pria itu kemudian melangkah dengan gontai ke luar dari ruko sebelum sang karyawan menutup toko. Dia langsung memakai helm dan jaket, kemudian mengemudikan kuda besinya menuju ke sebuah warung bakmi Jawa langganan mereka. Dayan memang belum makan demi ingin makan bersama dengan keluarganya. Karena sudah dipastikan malam itu tidak jadi makan dengan istri dan anak-anaknya, jadi dengan terpaksa dia makan sendiri.
***
“Bagaimana perkembangan tanahmu?” tanya Dayan pada Royani melalui sambungan telepon.
“Masih dalam proses. Tolong dibantu biar bisa cepat selesai, Pak,” jawab Royani.
__ADS_1
“Kamu di mana sekarang?” tanya Dayan lagi.
“Baru pulang kampung. Aku dikejar-kejar sama orang, Pak. Aku sudah difitnah sama teman,” jelas Royani.
“Dikejar-kejar dan difitnah bagaimana?” Timbul rasa iba di hati Dayan.
“Aku ada bisnis dengan teman. Kami pinjam uang tapi atas namaku. Temanku itu kabur, terus aku yang dikeja-kejar sama debt collector,” curhat Royani untuk menarik simpati Dayan.
“Terus urusan tanahnya bagaimana?” Dayan kembali bertanya.
“Ini juga sedang diurus, Pak. Apa-apa kalau mau lancar ‘kan harus ada pelicinnya. Bapak tahu sendiri aku tidak ada uang,” jawab Royani lagi.
“Butuh berapa biar cepat selesai? Aku mau uangku kembali secepatnya,” ucap Dayan.
“Dari yang ngurus kemarin mintanya sepuluh juta, Pak,” ujar Royani.
“Orangnya janji begitu, Pak,” jawab Royani, meyakinkan Dayan.
“Aku mau bantu, tapi secepatnya tanah itu harus sudah selesai urusannya. Begitu tanah terjual, aku minta uangku balik,” tegas Dayan.
Royani yang ada di seberang telepon tersenyum. “Pasti aku kembalikan walau sudah dicerai, Pak. Aku ‘kan sudah janji mau mengembalikan. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Masa Bapak tidak percaya sama aku,” janjinya.
Dayan menghela napas panjang. “Oke, nanti aku transfer.”
“Terima kasih. Bapak, memang baik sekali. Paling mengerti aku.” Royani mengucapkan berbagai macam pujian pada Dayan. Membuat pria berusia 42 tahun itu menjadi besar kepala dan merasa sangat dibutuhkan oleh Royani.
Senyum Dayan mengembang di bibir begitu mendengar puja dan puji dari mantan istri sirinya itu. Di satu sisi, dia sudah tidak berarti di mata istri dan anak-anaknya. Namun, di sisi lain ada Royani yang membuatnya merasa masih punya arti. Membuatnya jadi sempat berpikir untuk kembali rujuk dengan Royani.
***
__ADS_1
Minggu pagi, Bestari, Riri, dan Ratna pulang ke rumah. Mereka hendak membereskan barang-barang yang ada di rumah tersebut. Tak lupa sebelumnya membeli sarapan, minuman, dan beberapa jajanan untuk bekal mereka bertiga. Karena bisa dipastikan di sana tidak ada makanan atau minuman. Tiba di sana, mereka malah melihat Dayan tiduran di sofa, bukannya mulai membereskan semua barang-barang di rumah tersebut.
Bestari diam saja melihat sang suami yang terlihat santai. Dia lelah berdebat dengan pria keras kepala itu. Lebih baik menjaga kewarasan dan hati daripada emosinya jadi tersulut karena bicara dengan Dayan.
“Riri, Ratna, ayo makan dulu. Setelah itu baru membereskan kamar kalian,” ajak Bestari pada kedua anaknya. Dia mengeluarkan tiga kotak makan sterofoam yang berisi opor ayam ke atas meja makan tanpa menawari Dayan.
“Iya, Bu,” sahut Riri dan Ratna serempak. Dengan kompak mereka menghampiri sang ibu. Masing-masing mengambil satu kotak makan sterofoam lalu duduk di kursi makan. Ketiga ibu dan dan anak itu kemudian menikmati sarapan mereka.
“Pertama nanti kalian bersihkan lemari pakaian. Pilih pakaian yang masih dipakai. Pisahkan yang sudah tidak pernah terpakai. Kalau masih bagus dipisah dengan yang sudah jelek. Yang masih bagus-bagus, bisa kita kasihkan ke saudara, kita sumbangkan atau kita jual. Yang jelek nanti kita buang atau bakar.” Bestari memberi instruksi pada kedua anaknya.
“Ya, Bu.” Lagi-lagi kedua kakak beradik itu menjawab dengan kompak.
“Jangan lupa plastik atau kardusnya diberi tulisan, yang masih dipakai, layak pakai, dan tidak layak pakai pakai spidol. Biar besok tidak bingung pas semua barang diangkut dan tidak salah angkut. Kalian bisa ‘kan?” Bestari memandang kedua putrinya bergantian.
“Bisa dong, Bu,” sahut Ratna penuh semangat. “Kalau pakaian sudah selesai, aku boleh pilih boneka dan mainan ‘kan, Bu?” tanyanya. Putri bungsu Dayan dan Bestari itu meskipun sudah kelas enam SD, tapi masih suka mainan.
Bestari menganggut. “Boleh, tapi jangan banyak-banyak yang dipilih. Yang paling kamu sukai saja. Nanti yang lain bisa dikasihkan ke sepupu-sepupu kalian yang masih kecil. Lagian kamu sebentar lag SMP, pasti juga tidak akan sempat bermain-main.”
“Siap, Bu.” Ratna memberi hormat pada sang ibu.
“Buku-buku juga dipilih ‘kan, Bu?” tanya Riri.
“Iya. Kalau memang penting dan masih dibutuhkan, tetap disimpan. Yang sudah tidak dipakai bisa diberikan ke adik kelas atau dijual,” jawab Bestari.
Usai menikmati sarapan, mereka bertiga masuk ke kamar masing-masing untuk memilah dan memilih barang-barang pribadi mereka.
Dayan yang tahu sang istri masuk ke kamar yang dahulu menjadi tempat peraduan mereka, kemudian menyusul. Dia melihat Bestari sedang membuka lemari pakaian mereka. “Bu, mulai berkemas hari ini?” tanyanya.
Bestari menghentikan kegiatannya lalu menatap pria yang sudah menikah dengannya selama 17 tahun itu dengan sengit. “Kalau tidak sekarang, kapan lagi, Pak? Aku cuma ada waktu banyak di Sabtu dan Minggu. Harusnya Bapak yang di sini mulai mencicil. Itu pun kalau Bapak peduli.”
__ADS_1