Gelas Pecah

Gelas Pecah
Bab 13


__ADS_3

“Saya punya solusi yang mungkin bisa membantu, apa Ibu mau?” tawar Wildan.


“Kalau memang itu bagus, ya sama mau saja, Mas,” ucap Bestari dengan harapan bisa menyelesaikan masalahnya.


“Saran saya, Ibu mencari uang dulu sebanyak tiga ratus juta untuk menutup hutang Bapak. Dikembalikan pokoknya saja. Toh sebenarnya perjanjian mereka juga cacat hukum karena ada pemalsuan tanda tangan. Saya rasa mereka mau kalau kita sedikit mengancam akan melaporkan pada polisi,” ujar Wildan.


“Dari mana saya dapat uang sebanyak itu, Mas. Terus nanti kalau mereka minta bunganya bagaimana?”


“Pinjam saudara atau bank ‘kan bisa, Bu. Nanti setelah tanah Ibu laku, bisa langsung ditutup pinjamannya. Kalau Ibu memang ingin menyelamatkan rumah itu. Terus kalau mereka minta bunga, kita bilang saja, minta sama Royani karena dia yang memakai uangnya. Bagaimana?” Wildan memandang wanita berusia empat puluh tahun itu.


“Ya nanti saya coba mencari pinjaman dulu, Mas. Semoga saja bisa dapat sejumlah itu.”


“Aamiin. Kalau misal nanti mereka mengancam akan memenjarakan Bapak dan Royani, ya kita bilang silakan saja. Katakan kalau Ibu tidak peduli. Ibu malah berterima kasih karena sudah melaporkan orang-orang yang sudah menipu mereka. Di sini Ibu ‘kan juga pihak yang dirugikan.”


“Iya, Mas. Terus terang saya tidak terima tanda tangan saya dipalsukan. Seumur hidup baru kali ini ada yang berani memalsukan. Biar saja suami saya dan Royani dipenjara. Biar mereka tahu rasa.”


“Iya, Bu. Biar ada efek jera. Kalau tidak begitu nanti suatu saat mereka akan mengulanginya lagi.”


“Benar, Mas. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab.”


Wildan banyak memberikan masukan pada Bestari karena merasa kasihan pada wanita tersebut. Walaupun Dayan yang meminta bantuannya terlebih dahulu, tapi dia lebih memilih menolong Bestari. Kalau dipikir untuk apa dia mendukung pria yang sudah melakukan kesalahan fatal, suka berbohong, dan mengkhianati istrinya. Lebih baik dia menolong wanita yang sudah dizalimi itu.


***


“Pak, aku mau bicara,” ucap Bestari saat kedua anaknya sudah berada di kamar masing-masing untuk belajar.


“Ya, bicara saja, Bu,” sahut Dayan sambil tetap sibuk dengan ponselnya.


“Bapak jujur saja uang yang dipinjam dari rentenir itu dipakai sama Bapak apa Royani?” tanya Bestari tanpa basa-basi.

__ADS_1


Dayan langsung mendongak dan menghentikan kegiatannya bermain ponsel. Dia terkejut mendengar pertanyaan dari istri sahnya. “Kenapa Ibu tanya begitu?” keningnya terlihat mengerut.


“Bapak, jawab saja. Tidak usah balik bertanya,” tegas Bestari. “Uang itu dipakai siapa, Pak?” tanyanya lagi.


“Sebenarnya uang itu dipakai sama Royani, tapi dia janji mau mengembalikan kok kalau tanahnya sudah laku, Bu,” jawab Dayan.


Bestari tersenyum sinis. “Oh begitu ya, dan Bapak percaya sama pelakor itu?”


“Iya, Bu. Dia sudah janji kok mau mengembalikan,” ujar Dayan lagi.


“Kenapa Bapak begitu yakin? Aku sih tidak yakin kalau dia mau mengembalikan. Bapak itu sudah banyak dibohongi sama orang masih saja percaya saja. Ah, iya dia kan istri Bapak yang selalu Bapak turuti,” sinis Bestari.


“Sekarang ini tanahnya sedang diurus sertifikatnya, nanti kalau sudah jadi dan terjual akan dikembalikan empat ratus lima puluh juta, Bu.”


“Buktinya apa kalau pelakor itu bisa menepati janji?”


“Pokoknya aku percaya sama dia kalau dia tidak akan mengingkari janjinya.” Dayan masih bersikeras dengan keyakinannya.


“Tidak perlu, Bu. Aku percaya sama dia. Lagian dia juga tidak punya apa-apa. Kasihan dia hutangnya sudah banyak,” sahut Dayan.


Bestari melipat tangan di depan dada. “Oh, jadi begitu. Bapak lebih kasihan sama pelakor itu dan tidak kasihan sama aku? Aku di sini berusaha mencari cara biar rumah ini bisa kembali. Kepalaku rasanya mau pecah, Pak.”


“Iya, aku tahu, Bu.”


“Bapak sebenarnya sudah kasih apa saja sama pelakor itu? Jangan-jangan uang sisa hasil penjualan tanah Bapak itu juga dikasih sama dia? Harusnya uang Bapak masih bersisa paling tidak seratus juta, tapi sekarang sudah habihs.” Bestari menatap curiga suaminya.


Dayan menggeleng. “Enggak kok.”


“Ya sudah kalau Bapak tidak mau jujur. Memang Bapak lebih membela pelakor itu daripada aku. Apa selama ini Bapak juga memberi dia uang setiap bulan?” Ibu dua anak itu masih terus mendesak suaminya agar mengaku.

__ADS_1


“Iya, tapi cuma sedikit kok, Bu,” aku Dayan.


“Sedikit itu berapa? Kan ada jumlahnya,” desak Bestari lagi.


“Tiga ratus ribu, Bu.”


Bestari tertawa miris. “Aku istri sah Bapak saja tidak pernah sekali pun diberi uang bulanan loh. Dia yang istri siri malah dikasih. Hebat sekali kamu, Pak. Jadi suami yang bertanggung jawab sama dia, tapi sama aku nol besar.”


“Cuma tiga ratus ribu, Bu. Uang kecil itu.” Dayan beralasan.


“Bukan masalah nominal uangnya, Pak. Tapi di mana bentuk tanggung jawab Bapak sebagai suami sama aku nselama ini. Apa pernah Bapak memberiku uang bulanan?” Bestari menatap tajam suaminya. Namun, Dayan hanya diam menunduk sambil melihat layar gawainya.


“Jawab, Pak! Tidak pernah ‘kan. Malah Bapak yang selalu meminta uang sama aku. Jangan-jangan uang yang dari aku juga Bapak kasih ke pelakor itu! Demi Allah, aku tidak ikhlas lahir batin.” Bestari benar-benar meradang. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh wanita yang statusnya jelas lebih rendah dari dia. Ingin rasanya melempar


apa saja yang ada di dekatnya ke arah Dayan, pria yang sudah menikahinya tujuh belas tahun yang lalu. Namun, dia wanita berpendidikan yang tentu saja tak akan melakukan hal yang rendah seperti itu. Dia harus meluapkan kemarahannya dengan elegan. Tidak dengan bersikap brutal dan kasar. Itu sama sekali bukan gayanya.


“Sudah jangan dipermasalahkan lagi, Bu. Lagian aku juga sudah menceraikan Royani,” ucap Dayan dengan santai.


“Tapi Bapak masih berhubungan sama dia ‘kan?”


“Iya, karena aku memantau perkembangan penjualan tanahnya. Tidak lebih.”


Bestari menarik napas panjang lalu mengembuskan dengan pelan selama beberapa kali agar dia jadi lebih


tenang. Kalau terus saja emosi, tidak akan ada titik terang nantinya.


“Aku tadi ketemu Mas Wildan, Pak. Katanya dia pernah ikut Bapak ke notaris, apa benar?”


Dayan kembali terkesiap mendengar pertanyaan sang istri. “I—iya benar, Bu. Mas Wildan bilang apa saja?”

__ADS_1


“Dia cerita kalau pura-pura jadi pembeli dan melihat isi surat perjanjian itu, ternyata itu perjanjian jual beli dan bukan perjanjian hutang. Mas Wildan juga cerita kalau tanda tanganku dipalsukan. Apa benar, Pak?” Tatapan tajam Bestari bisa dirasakan oleh Dayan yang memang sengaja menghindari bertatapan dengan sang istri sah.


“Iya, Bu. Aku terpaksa melakukannya.”


__ADS_2