
Di kamar perawatan, Novi menunggu Adi yang belum siuman pasca operasi.
Dahinya masih di tutupi perban dan bibirnya masih bengkak pasca kecelakaan.
Bagaimana Ia bisa marah melihat kondisi adik satu satunya ini.
Kalau Novi bisa memenuhi semua kebutuhan keluarganya tentu hal ini tidak perlu terjadi.
Novi merasa payah karena tidak sehebat Ayahnya. Ia merasa tidak bisa menjaga adiknya sendiri.
Novi menggenggam tangan adiknya. Ia tau diam diam adiknya bekerja di bengkel sepulang sekolah karena ingin meringankan beban kakaknya.
Beberapa kali diam-diam Adi membantu membayar listrik di rumah, dan ketika Novi tanya Ia tidak mengaku.
Adi terlihat cuek namun sebenarnya Ia sangat menyayangi keluarganya.
Ini pertama kalinya Adi ingin ikut study tour dari sekolah.
Semenjak Ayah meninggal Novi dan Adi sama-sama sadar diri untuk tidak pernah mengikuti kegiatan apapun dari sekolah yang memungut bayaran.
Melihat cerita teman teman sekolah setelah ikut kegiatan, sedangkan mereka hanya bisa diam karena tidak ikut adalah situasi yang selalu mereka alami.
Di tahun tahun pertama hal seperti itu audah bisa membuat mereka kesal, namun setelah hal itu terjadi beberapa kali mereka akhirnya bisa berdamai dengan itu.
Bayangkan anak remaja harus dipaksa menahan kesenangan dan egonya sendiri, itu adalah sesuatu yang sulit.
Belum lagi mereka sudah tidak bisa berkumpul di mall bersama teman teman sebayanya.
Sekalipun ikut mereka pasti tidak bisa membeli apapun.
Begitulah kehidupan mereka setelah kehilangan Ayah.
Tidak ada lagi keluarga yang datang untuk bersilaturahmi ke rumah kami seperti dulu, pun jika kami bersilaturahmi kepada keluarga, mereka beranggapan kami sedang ingin meminjam uang.
Ternyata duka akibat kehilangan masih belum cukup, mereka juga harus merasakan kesepian dan di kucilkan karena ekonomi keluarga yang sudah terjun bebas.
Padahal ketika Ayah masih hidup, saudara saudara kami rutin datang tiap bulannya.
Ada yang mengadukan anaknya kurang biaya sekolah, keluarganya sakit, terlilit hutang atau sekedar minta oleh oleh karena kami habis pulang berlibur.
Ayah selalu menerima semua keluarga dengan baik, selalu membantu kesulitan mereka dan tidak pernah memandang rendah.
Namun mereka seolah olah lupa akan kebaikan Ayah. Jangankan dipinjami uang, kami hanya bersilaturahmi saja mereka sudah ketakutan akan dipinjami uang.
Betapa uang terkadang begitu menakutkan sehingga bisa merubah seseorang.
Novi sering menyaksikan Ibunya menangis setiap shalat karena merasa kesepian dan tidak sanggup menjalani ini semua.
__ADS_1
Beberapa keluarga bahkan menyalahkan Ibu karena menjual peninggalan peninggalan Ayah.
" Si Abdi salah milih istri ya, masa baru di tinggal beberapa tahun saja semua harta bendanya sudah habis terjual "
" Jangan jangan dia punya pacar baru sehingga uangnya habis untuk itu semua "
Itu adalah kalimat yang pernah mereka dengar ketika mereka bersilaturahmi ke keluarga Ayah.
Padahal mereka tidak meminta uang sepeserpun tapi Ibu sudah di fitnah luar biasa.
Sepulangnya dari sana Ibu yang sudah menahan tangis menumpahkan semua kesedihannya ketika shalat.
Mereka tidak membantu namun malah memfitnah Ibu.
Di awal Ayah meninggalkan kami semua, Ibu yang terbiasa di perlakukan bak ratu oleh Ayah tidak tau harus berbuat apa.
Seakan jiwanya ikut pergi bersama Ayah, Ibu sangat sulit di ajak bicara.
Novi sudah khawatir dengan kondisi ibunya, tidak ada yang sapat menghibur Ibu kala itu. Ibu terlalu larut dalam kesedihan.
Sepanjang hari Ibu hanya menangis dan memeluk pakaian Ayah.
Tidak mau makan dan minum, Novi remaja harus menyuapi Ibu agar Ibu mau makan.
Novi selalu mendampingi Ibu, menghiburnya, membawa Ibu pergi ke tempat yang Ibu suka dan menyarankan untuk bersilahturahmi ke saudara dengan harapan dapat penghiburan.
Namun bukan penghiburan yang mereka terima tapi sebuah penghinaan.
Ibu yang merupakan anak tunggal dan sudah tidak memiliki orang tua, tidak punya tempat mengadu saat itu.
Rasa sedih masih Novi rasakan jika mengingat kejadian itu. Saat itu Novi takut jika Ibu mengalami gangguan kejiwaan karena kehilangan Ayah.
Sebagai anak pertama, Novi merasa harus merubah ini semua.
Ia tidak pernah membiarkan Ibunya sendirian, Ia selalu menemani Ibu mengobrol dan melakukan kegiatan.
Selalu menguatkan hati Ibu walaupun saat itu hati Novi juga rapuh, mendengarkan semua kesedihan Ibu yang sebenarnya sama sama mereka rasakan.
Begitulah hari hari yang mereka lalu sampai akhirnya Ibu bangun dari kesedihannya, mulai kembali hidup dan mengurus semuanya.
Walaupun Ibu tetap tidak bisa bekerja dan hanya mengandalkan peninggalan Ayah untuk bertahan hidup, Namun Novi merasa bersyukur setidaknya Ibunya bisa hidup kembali, itu suda cukup untuknya.
Lamunan Novi terhenti tatkala tangan Adi yang sedang di genggamnya bergerak.
Adi mulai tersadar dari efek obat bius pasca operasi.
Matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit dan Ia seperti sedang mencerna apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
" Haus Kak "
Buru-buru Novi mengambil air mineral yang sudah Ia beli tadi di minimarket.
" Gimana badannya Di? Apa yang dirasa? "
" Pusing aja Kak, Marcell mana Kak? "
" Semalem Kakak suruh pulang, kasian takut di cariin Bapaknya "
" Ini jam berapa? "
" Delapan pagi "
" Kakak nungguin dari malem? Bukannya harusnya Kakak kerja hari ini? "
" Ini hari minggu Di, Kakak libur "
" Oh iya "
Selama Adi belum tersadar Novi menimbang nimbang untuk memberikan uang tabungannya untuk biaya study tour Adi.
Ini adalah study tour terakhir sebelum kelulusan, moment yang nggak akan kembali.
Novi sepertinya harus merelakan tabungan yang hanya tiga juta itu untuk di berikan kepada Adi.
" Di, segitunya ya mau ikut study tour? Kenapa nggak bilang sama Kakak "
Dasar Marcell, Adi sudah mewanti wanti untuk tidak cerita kepada Kakaknya, tapi tetap saja bocor.
" Engga Kak biasa saja "
" Bener? Kok sampe mau ikut balapan liar begini kalau kamu nggak kepengen "
Tentu saja Adi ingin ikut study tour itu, karena Aurelie gebetannya ikut juga, tapi Ia tidak tega untuk bicara kepada Kakaknya yang sudah berjuang mati matian untuk keluarga ini.
" Kakak kebetulan ada tabungan, kamu pake dulu aja buat ikut study tour "
Adi memalingkan wajahnya " Nggak usah Kak "
" Kamu nggak usah seneng dulu, itu kakak pinjemin. Kamu harus cicil buat balikin nya, Kakak nggak ngasih cuma cuma "
Ia tau Adi adalah adik yang tidak mau menyusahkan Kakaknya, Ia pasti akan menolak jika dibilang uang ini diberikan cuma cuma.
" Bener Kak? Ini bukan uang pinjaman kan Kak? "
Novi tersenyum " Nggak, itu uang tabungan Kakak sendiri. Kamu pake dulu aja, tapi inget jangan lupa balikin "
__ADS_1
Adi sangat senang sekali pagi itu, walaupun tubuhnya penuh dengan luka tapi akhirnya Ia bisa ikut study tour.
" Makasih ya Kak ",,