GENERASI SANDWICH

GENERASI SANDWICH
Ayah yang terkejut


__ADS_3

BAB 23


Ayah Yang Terkejut


Pertemuannya dengan teman sekolahnya Norman yang tidak sengaja membawa berkah tersendiri.


Karena Norman bisa membantu Nely untuk membawa makanan untuk Ayahnya.


Mereka berduapun masuk dan di minta untuk menunggu di ruang tunggu yang tidak terlalu besar, hanya ada satu meja dan tiga kursi.


Ibu terlihat cemas menunggu kedatangan Ayah, Ia memegang rantang makanan yang berisi makanan kesukaannya.


Ibu masih memikirkan perkataan polisi di poa jaga, ternyata Ayah ditangkap bukan hanya karena judi tapi juga karena kepemilikan zat terlarang.


Tidak berapa lama, seorang polisi datang bersama Ayah yang terlihat sangat kurus.


Kurang sari seminggu mereka tidak bertemu dan Ayah terlihat sangat kurus seperti orang sakit.


Melihat kedatangan Kami raut wajah Ayah terlihat datar-datar saja seolah tidak ada yang terjadi.


" Ini makanan untuk Ayah, nanti di makan ya Yah " Ibu memberikan rantang makanan kepada Ayah.


" Iya makasih " Jawab Ayah singkat.

__ADS_1


Ayah tidak menatap mata kami sama sekali, matanya sibuk melihat sekeliling.


" Gimana kabarnya Yah? " Tanya Ibu.


" Ya seperti yang kamu lihat, gini-gini saja "


Nely gemas sekali melihat perlakuan Ayah kepada Ibu.


Bukankah seharusnya Ayah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?


Tapi mengapa Ayah masih saja bersikap angkuh seperti ini? Seolah-olah tidak ada yang terjadi dan tidak ada yang perlu dijelaskan kepada kami keluarganya.


Jika bukan karena Ibu, milih rasanya ingin sekali keluar dari ruangan ini.


Dari gaya Ayah duduk saja sudah membuat Nely kesal, Ayah duduk dengan melipat kakinya dan tangan yang Ayah ditaruh di sandaran bangku.


Belum lagi mata Ayah yang tidak mau melihat kami, terlihat sangat acuh tak acuh.


Tapi Ibu tetap saja masih sabar menghadapi sikap Ayah. Ibu masih bertanya kabar Ayah? Bagaimana makanan di sini? Dan Kenapa Ayah bisa sampai berakhir di sini?


" Kenapa kamu nanya-nanya begitu? Kamu senang jika suamimu masuk ke dalam kantor polisi?" Ucap Ayah dengan nada tinggi.


Senang? Padahal Ayah berakhir di sini karena perbuatannya sendiri.

__ADS_1


Tapi Nely tidak ingin ikut campur dan membiarkan Ibu menghadapi Ayah sendirian.


" Saya nanya baik-baik loh, Jika Kamu tidak ingin ditanya ya Saya tidak perlu datang lagi kalau begitu "


Nely sampai menengok ke arah Ibu, baru kali ini Ibu berkata tegas kepada Ayah. Biasanya jika Ayah marah Ibu hanya diam saja tanpa sepatah kata pun.


Bukan hanya Nilai saja yang terkejut tapi ayah juga terlihat seperti itu.


" Maksud kamu apa berkata seperti itu? "


" Harusnya Kamu menjelaskan kenapa kamu berakhir di sini? Sudah hak Kami untuk tahu karena kami keluargamu. Tapi kalau semua bentuk perhatian Kami tidak Kamu anggap ya lebih baik kita tidak usah bertemu saja "


" Baru beberapa hari tidak bertemu sudah hebat gayamu ya? Sejak kapan perempuan bisa berkata seperti itu kepada laki-laki? " Ujar Ayah terlihat menahan emosinya.


" Sejak Kamu yang selalu bersikap seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan keluargamu dan tidak pernah menghargai keluargamu "


Mungkin ini adalah puncak kekesalan Ibu, terlihat sekali Ibu sangat berani menghadapi Ayah yang jelas-jelas tidak terima dengan perkataan ibu.


Dengan berbisik Ayah berkata " Sepertinya kamu sudah lupa rasa pukulanku ya? "


Ibu langsung beranjak dari kursinya " Tidak usah repot-repot untuk memukulku, kita tidak akan pernah bertemu lagi "


Ibu berjalan menuju pintu dan keluar meninggalkan Ayah yang masih terkejut melihat sikap Ibu.

__ADS_1


__ADS_2