GENERASI SANDWICH

GENERASI SANDWICH
Pertemuan kedua dengan Novi


__ADS_3

Ibu terbangun dari tidurnya merasakan ada yang bergerak di sampingnya. Ara sedang berusaha untuk bangkit dari kasur.


" Mau ke mana teh? " Tanya Ibu yang menemani Ara semalaman dan tidur di samping Ara.


" Mau berangkat kerja Bu" Ucap Ara lemah.


" Apa tidak sebaiknya istirahat dulu Ra, kamu saja masih tidak kuat berdiri seperti itu"


Jika mengikuti badannya yang Masih terasa sakit, Ara ingin sekali libur hari ini.


Tapi Ia ingat akan target baru di kantornya. Jika Ara tidak masuk satu hari saja maka Ia akan kesulitan untuk mengejar targetnya itu.


Jadilah ia memaksakan tubuhnya untuk bergerak dan berangkat ke kantor.


" Tidak apa-apa Ibu, Aku udah baik-baik aja kok, Ara mandi dulu ya Bu"


Ibu membantu Ara untuk beranjak ke kamar mandi.


Dengan langkahnya yang lemas Ia memaksakan diri sampai tiba di kamar mandi.


" Kamu bisa mandi sendiri Ra? "


"Bisa Bu"


" Ya udah Ibu tunggu di luar ya nanti kalau dirasa tidak kuat panggil Ibu saja"


" iya Bu "


Selama mandi, Ara memikirkan bagaimana kelangsungan hidupnya bersama Bapak.


Jelas Ara sudah tidak mau melihat wajah Bapaknya lagi di rumah ini.


Tapi ia juga tidak bisa egois dan harus memikirkan ibunya juga.


Setelah mandi di depan cermin Ara melihat ujung bibirnya yang masih lebam akibat tamparan Bapak tadi malam.


Ia Mencoba menutupnya dengan make up agar tidak terlihat oleh orang lain.


Ara yang tidak pernah menjadi pusat perhatian tidak terbiasa jika tiba-tiba ada orang yang menanyakan tentang lebamnya itu.


" Sudah Ibu lanjut tidur saja, kasihan Ibu sudah semalaman menemani Ara pasti capek " Ujar Ara kepada ibunya yang sedang duduk di atas kasur dengan mata yang masih merah.


"Ibu mau lihat kamu berangkat kerja dulu Ra, nggak tenang rasanya melepas kamu pergi disaat kondisi begini "


" Tenang saja Ibu, Ara nggak apa-apa kok"


Ketika hendak keluar rumah, ia melewati kamar ibunya.

__ADS_1


Sepertinya Bapak masih tidur karena lampu kamar masih dalam keadaan mati.


Untungnya kereta hari ini tidak terlalu padat seperti hari Biasanya, Ara mendapatkan duduk di dekat pintu sehingga ia bisa menyender di pembatas pintu.


Sepanjang perjalanan Ia mencoba untuk tidur, tapi Ara Masih memikirkan tentang rumah.


Ia berharap Bapaknya tidak kasar dengan ibu selama Ara tidak di rumah, Ia tidak akan menerima jika Ibu diperlakukan kasar oleh Bapak.


Sesampainya di kantor, Ara yang sudah yakin bahwa luka lebamnya sudah tidak terlihat karena make up, berjalan seperti biasanya menuju mejanya.


Tapi karena Ara tidak mahir dalam make up, luka lebam yang iya coba tutupi masih terlihat oleh orang lain.


Iin temannya yang duduk di sebelah Ara terkejut ketika melihat arah datang dengan luka lebam di ujung bibirnya.


" Lu kenapa Ra? "


" Kenapa apanya? " Tanya Ara heran.


" Itu" Iin menunjuk ke arah ujung bibir Ara.


" Oh ini tadi gue kepentok meja rias pas mau pergi ke kamar mandi, maklum aja masih ngantuk "


" Beneran? "


"Iya benar, bukan apa-apa kok In " Ara bersikap sewajar mungkin agar Iin tidak curiga atau setidaknya tidak bertanya kembali.


Jam sembilan malam Ara berpamitan ke beberapa temannya yang masih stand by di kantor.


Keluar dari gedung Ara melihat langit yang mendung tanda akan hujan.


Ara mempercepat langkahnya berjalan menuju Stasiun.


Tanpa direncanakan Ara bertemu lagi dengan Novi di Stasiun Manggarai.


Untungnya kereta malam ini tidak terlalu ramai, Ara masih bisa duduk di sebelah Novi.


" Wah kita ketemu lagi ya " Ujar Ara.


Novi memandang Ara dengan tatapan serius


" Wajahmu kenapa Ra? " Dan untuk pertama kalinya Ara menceritakan tentang masalah keluarganya kepada orang lain yang baru saja bertemu dua kali.


Selama ini ia memilih untuk tidak membicarakan masalahnya dengan siapapun, karena ia tidak mau itu menjadi kelemahannya kelak.


Tapi Ia memutuskan bercerita dengan Novi karena Ara berpikir Novi adalah Stranger dan mungkin ceritanya tidak penting untuknya.


Apa yang terjadi kemarin malam Ara ceritakan semua kepada Novi.

__ADS_1


" Heran aku Kok ada Bapak yang tega seperti itu"


Terlihat sekali wajah Novi marah mendengar cerita Ara.


" Maka dari itu Aku tidak tahu harus bersikap apa jika nanti pulang Bapak masih ada di rumah "


" Pasti bingung ya bagaimana harus bersikap sebagai anak, karena di satu sisi Bapakmu sudah keterlaluan dan di sisi lain bagaimanapun ia masih keluargamu."


" Bukan hanya itu, rumah yang aku tempati sekarang adalah rumah nenekku, Ibu dari Bapakku, tidak mungkin juga aku mengusirnya sedangkan itu adalah rumahnya"


" Kamu yang sabar ya, menghadapi keluarga sendiri pastinya susah karena harus banyak hal yang kita pikirkan"


Ara teringat sesuatu, terakhir kali ia bertemu Novi malam itu adiknya mengalami kecelakaan motor.


" Oh iya Nov gimana kondisi adikmu? "


" Haduh namanya anak laki-laki ya Ra, aku pikir dia kecelakaan motor gara-gara apa ternyata dia balapan motor sama teman-teman SMA-nya padahal bilangnya habis beli makan untuk orang rumah"


" Ketika aku sampai di rumah sakit, Ibuku sudah ketakutan jika aku akan marah melihat kondisi adikku yang ternyata ikut balapan motor"


" Tapi bagaimana aku tega jika dia mengalami beberapa sobekan sampai harus di operasi"


" Ya Allah kasihan sekali, memang di Cilebut banyak ya balapan motor seperti itu? "


" Ya biasanya anak-anak usia nanggung yang masih sekolah, mereka memanfaatkan momen jalan yang sepi sehingga menggelar balap motor liar"


" Bahaya sekali kalau begitu ya"


" Begitulah jika punya adik laki-laki, sedari kecil kami di rumah sudah terbiasa mendengar dia jatuh dari dari pohon, tercebur di got atau berantem dengan teman-temannya"


" Adikku perempuan semua dan masih kecil, aku belum merasakan hal-hal itu"


" Aduh Ra punya adik laki-laki itu benar-benar, aku yang hanya tinggal dengan Ibu sering kepayahan karenanya, dan mereka tidak bisa diatur" Novi terlihat gemas menceritakan kelakukan adiknya.


Pengeras suara memberitahukan jika sebentar lagi kereta mereka memasuki stasiun cilebut.


" Nggak kerasa sudah sampai Cilebut, nanti kita sambung lagi obrolannya ya "


Ara mengganggu ke arah Novi yang sudah berdiri.


Anehnya Selama perjalanan mereka berdua tidak menanyakan nomor handphone satu sama lain, mereka percaya jika besok mereka akan dipertemukan kembali di gerbong ini.


Ara bersyukur mendapatkan teman ngobrol seperti Novi karena Ia bisa bebas menceritakan apa saja dan tidak takut untuk dihakimi.


Hujan deras menyambut kedatangan Ara di stasiun Bogor.


Ia mengambil payung hitamnya dan menerobos hujan dengan berlari kecil.

__ADS_1


Walaupun payung itu tidak membantu karena angin lumayan kencang di malam itu tapi setidaknya kepala Ara tidak basah karena air hujan.


__ADS_2