
BAB 18
Sepertinya Aku
Harapan Nely dengan beberapa hari bersama mereka akan saling bercerita apapun ataupun melakukan kegiatan bersama.
Dan kebersamaan mereka akan membuat mereka semakin saling mencintai.
Tapi Harapan itu berbanding terbalik dengan apa yang dilalui beberapa hari ini.
Perlakuan Dani yang di luar batas membuat Nelly menjadi muak bersama dengan Dani.
Untungnya di hari ketiga keluarga Dewi mengabarkan jika mereka akan pulang lebih awal daei Semarang.
Nely langsung membereskan baju-bajunya dan diantarkan pulang oleh Dani.
Di dalam kamarnya Ia menangis dalam diam, meratapi rasa sakit di daerah sensitive-nya akibat perbuatan Dani yang tiada henti.
Tentu sepenuhnya Ia tidak bisa menyalahkan Dani karena Nely juga tidak pernah tegas menolak perlakuan Dani.
Setelah kejadian itu, Dani dan Nely masih tetap menjalani hubungan, namun Nely menjadi takut jika berpapasan dengan Dani di rumah Dewi.
Kejadian beberapa hari itu membuat trauma tersendiri untuk Nely.
Tapi sebisa mungkin Nely bersikap tenang walaupun di dalam hatinya berkecamuk.
Satu bulan setelah itu ketika Nely ingin pergi berangkat sekolah, Ia merasakan mual yang luar biasa.
Berkali-kali Nely ke kamar mandi memuntahkan makan paginya.
" Kamu masuk angin kali Nel "
Ibu terlihat khawatir melihat anak gadisnya yang sudah muntah beberapa kali.
Ayah terbangun karena mendengar suara kehebohan ini di pagi hari.
" Berisik banget sih kalian pagi pagi begini "
" Ini Yah kasian anaknya lagi sakit, muntah muntah terus dari tadi "
Ayah menengok ke arah kamar mandi, melihat Nely yang sedang muntah-muntah
" Jangan jangan hamil Kamu ya "
Ibu langsung menepuk lengan Ayah.
" Ya Allah Ayah kok bisa sih ngomong begitu sama anaknya, nggak usah di dengerin Nel omongan Ayah "
" Ya kali saja " Ayah berlalu berjalan menuju dapur untuk membuat kopi.
Rasanya ada petir yang menyambar tubuhnya ketika mendengar ucapan Ayah tentang kemungkinan Nely hamil.
Bagaimana jika itu benar? Bagaimana jika Nely muntah bukan karena masuk angin seperti kata Ibu?
__ADS_1
Pertanyaan pertanyaan itu berputar putar di kepala Nely yang sudah pusing karena muntah sedari tadi.
Setelah muntah Nely langsung mengambil ponselnya di kamar, mulai browsing ciri ciri wanita hamil.
Dan semua ciri ciri itu sedang Nely rasakan. Tangannya mendadak dingin, Nely sungguh ketakutan dengan kemungkinan kehamilannya.
Dengan menahan rasa mualnya, Nely berangkat ke sekolah agar bisa menelpon Dani untuk mengabarkan tentang kehamilannya.
" Kamu yakin mau berangkat sekolah? " Tanya Ibu yang tidak tega melihat wajah anaknya yang pucat tapi masih memaksakan untuk bersekolah.
" Iya Bu, aku baru inget hari ini ada ujian kimia di sekolah "
" Ya sudah hati hati di jalan kalo begitu, kalau badannya tidak kuat jangan di paksakan ya Nel "
" Iya Bu " Nely mencium tangan Ibunya untuk berpamitan.
Setelah berada di jalan raya, sambil menunggu angkot Ia menelpon Dani.
" Halo sayang " Dani mengangkat telponnya.
" Kamu dimana? "
" Di rumah nih "
" Nanti sore bisa ketemu berdua nggak sayang? Ada yang aku mau omongin "
" Bisa dong, sore aku jemput ke rumah kamu ya "
" Iya sayang, angkot aku udah dateng aku berangkat dulu ya " Nely langsung menutup telponnya dan naik angkot nomor 07 untuk menuju sekolahnya.
" Lo ada salah makan nggak?"
" Seingat Gue nggak ada makan yang aneh aneh "
Nely masih menahan rasa mualnya, Ia bahkan sampai memakai plastik untuk menampung muntahnya, Ia capek jika harus bolak-balik ke kamar mandi.
Dewi membalurkan minyak angin ke punggung Nely, memijitnya sesekali berharap bisa meredakan mual sahabatnya itu.
Dewi pasti tidak akan menyangka jika Nely mual karena sedang mengandung, bukan karena keracunan kerang ataupun masuk angin.
Nely sendiri ingin cepat cepat pulang dan bertemu dengan Dani untuk membicarakan ini semua.
Nely dan Dewi sedang menuju parkiran motor, Dewi menawarkan untuk mengantarkan Nely pulang.
Kasihan jika Nely pulang sendiri dalam kondisi sakit seperti ini.
Sesampainya di rumah, Nely langsung beristirahat di kamarnya, tubuhnya terasa lemas sekali.
Entah sudah berapa kali Ia muntah hari ini, bahkan tidak ada makanan yang dapat masuk ke dalam tubuhnya.
Ia mengirimkan chat kepada Dani bahwa Ia sudah sampai rumah dan Dani bisa menjemputnya kapan saja.
Satu jam kemudian Dani datang dengan senyumnya yang sangat lebar.
__ADS_1
Ia senang karena Nely minta jalan berduaan, padahal beberapa hari ini Nely seperti menghindarinya.
Dani tidak tau bahwa Nely ingin bertemu berdua bukan untuk bermesraan tapi untuk merundingkan sesuatu yang akan membuat mereka pusing tujuh keliling.
" Kita mau kemana sayang? "
" Kemana aja yang penting sepi "
Dani yang pikirannya sudah kotor terlihat senang mendengar ucapan Nely.
Dipacunya motor beat hitam itu ke arah waduk yang tidak jauh dari rumah Nely.
Banyak motor terparkir malam itu, tapi tidak banyak orang yang terlihat.
Sudah jadi rahasia umum jika waduk ini sering di pakai pasangan muda mudi untuk berpacaran.
Dani memegang tangan Nely erat, sambil mencari tempat yang aman ia bersenandung kecil.
Terlihat sekali Ia begitu senang dengan kencan mereka hari ini.
Dani mengajak Nely duduk di sebuah kursi taman di bawah pohon.
" Seneng ya sayang kita bisa jalan berdua lagi kaya begini "
Nely bahkan tidak bisa merasakan senang di kondisi sekarang, bagaimana bisa senang jika Ia benar benar hamil.
" Sayang aku mau ngomong sesuatu " Akhirnya Nely mulai membuka pembicaraan.
" Apa sayang? " Dani memandang Nely dengan hangat.
" Hmm..kayanya aku hamil " Nely menatap Dani dengan takut.
Terlihat sekali perubahan ekspresi di wajah Dani. Yang semula senang sekarang terlihat terkejut.
Dani diam beberapa saat sambil memandang wajah Nely.
" K..Kamu nggak bercanda kan? " Dani masih coba berfikir positif kalau semua ini hanya bercanda saja, padahal hari ini bukan tanggal satu april.
" Aku sih belum test pack, tapi kalau aku browsing katanya aku hamil "
Terlihat sekali Dani sangat gemas mendengar ucapan Nely, Ia belum mengecek rapi sudah bisa menyimpulkan bahwa dirinya hamil.
" Kamu nggak bisa percaya begitu aja sama internet, aku beli test pack dulu kamu tunggu di sini "
Dani langsung berlari meninggalkan Nely sendirian di waduk ini.
Jelas Dani tidak siap jika harus menjadi Bapak di usianya yang sangat muda dan Ia sudah bisa membayangkan ekspresi Ayah dan Ibunya jika tau Dani menghamili Nely, sahabat adiknya.
Dengan cepat Ia memacu motornya menuju apotek tersekat untuk membeli beberapa test pack.
Dengan beberapa buah testpack di tangannya, Ia berlari ke arah Nely yang masih duduk di kursi taman.
" Ini kamu coba pake dulu " Dengan nafas yang masih kencang Dani memberikan testpack kepada pacarnya.
__ADS_1
" Aku pipis dimana? "