
Setelah mendengar penjelasan Marcell, perasaan Novi menjadi campur aduk.
Ia marah karena ternyata Adi kecelakaan bukan di tabrak oleh kendaraan lain, tetapi Karena mengikuti balapan liar.
“ Dia ngelakuin itu karena mau ikut study tour “ Ucap Marcell takut takut
“ Kok Adi nggak cerita kalo ada study tour di sekolah? “
“ Karena Adi nggak mau ngebebanin Kakak untuk membayar uang study tour yang lumayan nominalnya “
“ Berapa? “ Tanya Novi menyelidik.
“ Tiga juta rupiah ”
Pantas saja Adi tidak bercerita tentang study tournya kepada Novi, uang tiga juta bisa di pakai untuk biaya hidup keluarga mereka dalam sebulan.
“ Tolong jangan bilang Adi kalo aku yang cerita ya Kak “
“Iya tenang, Lo pulang aja udah malem nanti nyokap Lo nyariin lagi. Thank you ya udah ngebawa Adi ke Rumah Sakit “
“Iya sama-sama Kak, aku pamit dulu ya Kak “
Marcell adalah teman kecil Adi. Dari SD sampai SMA mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama.
Hanya Marcell yang mau berteman dengan Adi. Walaupun Ia berasal dari keluarga berada namun Ia selalu peduli dengan Adi.
Novi ingat sekali ketika ayahnya meninggal, dan Ibu mulai menjual satu persatu rumah yang mereka miliki, satu persatu teman dan saudara mulai menjauhi mereka.
Mereka seolah-olah takut akan tertular menjadi miskin seperti keluarganya. Bahkan teman dekat Novi di sekolah tidak mau lagi berteman dengannya.
Ternyata kematian Ayah tidak hanya membuat mereka kehilangan sosok Ayah akan tetapi juga kehilangan teman dan saudara.
Mulai sejak itu Novi tidak pernah menjalin pertemanan dengan siapapun, Ia sudah tidak mau dipandang bagaikan penyakit menular oleh orang lain.
Namun Marcell berbeda, semenjak Ayah meninggal otomatis kami sudah tidak bisa bersekolah di sekolah swasta lagi, Ibu kemudian memindahkan kami ke sekolah negeri yang dekat dengan rumah.
Marcell yang memang dekat dengan Adi merengek kepada kedua orang tuanya meminta untuk pindah ke sekolah negeri bersama Adi.
Jelas saja orang tua Marcell menolak, Ayah Marcell adalah salah satu pejabat di Pertamina bahkan untuk menyekolahkan Marcell di luar negeri mereka sanggup, mana mungkin mereka mau jika putra semata wayangnya bersekolah di sekolah negeri.
Semakin di larang Marcell semakin tidak ingin bersekolah, Ia bahkan mogok sekolah sampai sebulan lamanya.
Kedua orang tua Marcell akhirnya mengalah dan memindahkan Marcell ke sekolah negeri yang sama dengan Adi.
__ADS_1
“ Marcell mana Nov? “ Tanya Ibu ketika melihat aku datang seorang diri.
“ Aku suruh pulang Bu, kasihan besok harus sekolah. Belum ada panggilan dari dalam Bu? “
Ibu menghela nafas panjang “ Belum Nov “
Terlihat sekali Ibu sangat khawatir dengan keadaan Adi, sudah hampir dua jam mereka menunggu di IGD namun belum ada kabar tentang Adi.
Novi menggenggam tangan Ibunya untuk saling menguatkan.
Tidak berapa lama, seorang perawat memanggil mereka.
“ Keluarga Adi Wijaya?”
” Iya Kami keluarganya Sus, bagaimana kondisi Adi? “ Tanya Ibu.
“ Kami sudah menjahit tangan dan kaki pasien yang mengalami luka robek, tapi luka robek di dahinya terlalu besar jadi harus dilakukan operasi untuk menambal luka robek dengan mengambil bagian lain “
" Tapi Adi sudah sadar Sus? "
" Pasien sudah sadar dan sekarang masih dalam observasi sebelum dilakukan tindakan operasi "
“ Baik Sus, apa operasinya bisa menggunakan BPJS? “
“ Baik Sus terima kasih banyak “
“ Ibu pulang dulu saja biar Novi yang nungguin Adi mumpung besok Aku libur ”
Novi tidak tega melihat wajah Ibu yang sudah lelah dan mengantuk dan Ia langsung memesankan taksi online untuk mengantar pulang Ibunya.
Dulu semasa Ayahnya masih hidup, jika ada salah satu diantara mereka yang sakit maka Ayah akan menemani kami di Rumah Sakit sampai kami sembuh.
Setelah sembuh Beliau akan menuruti apapun permintaan kami.
Waktu itu Adi terkena demam berdarah, trombositnya terjun bebas, dokter bahkan tidak memperbolehkan Adi untuk turun dari tempat tidur agar pembuluh darahnya tidak pecah.
Ayah menemani Adi dua puluh empat jam, beliau cuti dari kantor demi merawat Adi sampai sembuh.
Dan ketika Adi sembuh Ia meminta untuk di ajak berlibur ke Taman Safari Puncak.
Tanpa berfikir panjang Ayah mengiyakan permintaan Adi.
Jadilah hari minggu kami berempat pergi ke taman safari dan itu merupakan salah satu kenangan indah bersama Ayah.
__ADS_1
Bagi keluarganya Ayah adalah sosok yang sempurna. Ayah seorang pekerja keras, sayang keluarga dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Sedari kecil kami sudah di ajarkan untuk berbagi rezeki ke panti asuhan.
Bahkan Ayah merupakan donatur tetap di panti Asuhan Sayap Bunda.
Pada saat Ayah meninggal dunia, bukan hanya keluarga mereka saja yang sedih namun semua anak di panti asuhan Sayap Bunda pun bersedih dengan kepergian Ayah.
Novi masih ingat, di minggu pagi yang cerah. Ia dan Adi sedang menonton Doraemon di TV.
Ayahnya berpamitan untuk bermain tenis dengan teman kantornya.
Wajah Ayah terlihat segar hari itu, rambutnya yang basah tersisir rapih kebelakang. Ayah mengenakan setelan tenis berwarna putih.
" Ayah pergi main tenis dulu ya sayang, kalian baik baik ya sama Ibu nggak boleh melawan, Ok "
" Iya Ayah " Jawab Adi sambil memeluk Ayah manja.
" Anak laki laki Ayah, nanti kalo sudah besar harus kuat ya agar bisa melindungi Kakak dan Ibu "
" Iya dong Ayah, Adi kan anak Ayah "
Setelah itu Ayah pergi dengan di antar Ibu sampai depan rumah, kemudian mobil mercedes hitam membawa Ayah pergi.
Mereka tidak menyangka jika pertemuan pagi itu bersama Ayah adalah pertemuan terakhir mereka.
Ketika mereka sedang tidur siang, Ibu mendapatkan telpon dari rumah sakit.
Dengan wajah panik ibu pergi ke rumah sakit ditemani dengan pak Anton sopir keluarga mereka.
Ibu tidak membiarkan Novi dan Adi untuk ikut ke rumah sakit " Kalian tunggu di rumah saja dan doakan Ayah baik-baik saja "
Dengan cemas Novi dan Andi menunggu ayah dan ibunya pulang.
Namun bukan mobil Mercedes hitam yang masuk ke dalam pekarangan rumahnya, mereka berdua melihat mobil ambulans berwarna putih yang membawa jasad Ayah.
Terlihat Ibu tidak henti-hentinya menangis, tante Irene adik dari papa mencoba menenangkan ibu.
Aku dan adik pun ikut menangis ketika melihat jenazah ayah ditanduk masuk ke dalam rumah.
Ayah sudah dikafani, wajahnya terlihat seperti orang yang sedang tidur terlihat sangat damai sekali.
Adi Novi dan Ibu tidak diperbolehkan untuk mendekati Ayah jika masih menangis, karena jika sudah dimandikan jenazah tidak boleh terkena air mata.
__ADS_1
Hari itu seakan dunia mereka runtuh, suami yang baik dan ayah yang hebat meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.