GENERASI SANDWICH

GENERASI SANDWICH
Menuntut tanggung jawab


__ADS_3

Dani sedang memperhatikan sekelilingnya ketika Nely sedang mencoba testpack-nya di balik rerumputan.


Setelah selesai, Nely kembali duduk si kursi. Mereka berdua memandang testpack beberapa menit sampai muncul dua haris merah di testpack itu.


Dani memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing.


Dani tau benar dua garis merah adalah tanda bahwa Nely hamil.


" Kamu kenapa Sayang? Aku beneran hamil? " Perasaan Nely sudah tidak enak ketika muncul garis merah pudar yang lama kelamaan menjadi tegas.


" Iya Sayang " Ucap Dani sambil menunduk.


Mata Nely basah mengetahui dirinya benar-benar hamil.


Ia membayangkan masa depannya, Nely bahkan belum lulus SMA saat ini.


Jika sekolahnya tau bahwa Nely hamil, sudah dapat di pastikan bahwa Ia akan di keluarkan.


Dani yang melihat Nely menangis menjadi semakin kalut. Jangankan untuk menenangkan Nely, Ia bahkan tidak bisa menenangkan dirinya sendiri.


Jelas kehadiran anak tidak membuat mereka bahagia.


Nely mulai menyesali mengapa semudah itu menyerahkan sesuatu yang berharga kepada Dani? Sekarang Ia hanya bisa menagih janji Dani untuk menikahinya.


" Terus gimana sayang? " Tanya Nely sambil menangis.


" Bagaimana apanya? " Tanya Dani yang tidak senang mendengar pertanyaannya.


" Kamu bilang waktu itu mau bertanggung jawab, sekarang bagaimana? Aku udah pasti akan di keluarkan dari sekolah dan kedua orang tua kita pasti akan marah besar dengan kita Sayang "


" Kamu jangan nge-push aku kayak begitu dong. Bukan cuman kamu yang pusing di sini, aku juga pusing " Dani mengacak-ngacak rambutnya agar menjadi berantakan seperti pikirannya.


Dani tidak pernah bersungguh-sungguh ketika mengatakan akan bertanggung jawab jika sampai Nelly hamil.


Karena dia pikir nyali tidak akan semudah itu hamil, dan ia pun selalu membuangnya di luar.


Dani memang belum profesional dalam hal seperti itu, nafsunya lebih besar daripada pemikirannya saat itu.


Padahal, memakai pelindung saja masih ada kemungkinan hamil apalagi tidak memakai sama sekali.


Dani juga masih kuliah semester empat, bagaimana Ia bisa melanjutkan kuliahnya jika tiba-tiba menjadi seorang Ayah.


Dani tahu bahwa ini adalah hasil dari kebodohannya sendiri. Rasa penasaran yang sangat besar membuat Dani nekat melakukan hal itu bersama Nely.


Mendengar suara Neli yang masih menangis, membuat Dani sangat kesal dan tidak bisa berpikir.

__ADS_1


" Kamu jangan nangis terus dong, aku jadi nggak bisa mikir ngedenger kamu nangis "


Bagaimana Nely tidak menangis menghadapi ini semua, bukan hanya masalah sekolahnya saja yang Ia khawatirkan, tapi juga sangsi sosial.


Jika ada pasangan belum menikah melahirkan anak, maka pihak perempuan lah yang akan dipandang hina.


Masyarakat akan mencatat perempuan tersebut sebagai perempuan yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri atau parahnya lagi tidak punya harga diri.


Hidup bertahun-tahun dengan ayah yang seorang tukang mabuk dan penjudi membuat nilai paham benar bagaimana sangsi sosial itu bekerja.


Dani tentu tidak akan mengalami itu semua walaupun di posisi yang sama tapi karena Dani adalah seorang laki-laki masyarakat tidak akan menjatuhkan sanksi sosial yang sama dengan perempuan.


" Kita pulang dulu aja sekarang, biar aku pikirkan dulu gimana jalan keluarnya ya " Dani memegang tangan kekasihnya yang masih menangis.


Tidak ada gunanya mereka berada di tempat itu, karena Dani tidak bisa berpikir apa-apa saat ini.


Ia perlu bercerita dengan teman-temannya yang lebih profesional dibanding dirinya.


Dani kemudian mengantarkan Nelly pulang setelah itu ia lanjut menuju tongkrongannya.


Di tongkrongannya ia langsung mencari Awang, temannya yang terkenal seorang playboy dan entah sudah berapa banyak perempuan yang menemaninya tidur.


Dani menyapa teman temannya yang sedang menongkrong dan ikut nongkrong di samping Awang.


" Pantes muka Lo kusut bener, ada apaan Dan?"


" Pacar Gue hamil " Ujar Dani dengan suara yang kecil.


Awang tertawa mendengarnya " Gue belum diceritain Kapan kejadiannya udah hamil aja, pusing lo ya?"


" Gue baru berapa kali ngelakuinnya Wang, tapi cewek Gue udah hamil aja pusing banget Gue, Gue harus apa ya?"


" Lo ada niatan buat nikahin dia nggak? "


" Nggak ada Wang. Kan Lo tau sendiri Gue masih kuliah Wang. Tapi masalahnya di awal Gue udah bilang sama pacar Gue kalau akan tanggung jawab"


" Udah nggak usah pusing, kalo Lo nggak mau tanggung jawab Lo ilangin aja mumpung masih kecil "


" Gimana caranya? " Dani mulai serius mendengarkan Awang.


Awang membetulkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Dani.


" Besok Gue bawain obatnya, Gue jamin sekali minum udah langsung ilang deh "


Mendengar ucapan Awang membuat Dani sedikit lega.

__ADS_1


" Kalo pacar Gue nggak mau gimana Wang? "


" Ya Lo bujuk-lah, Lo bilang kalo ini nggak bahaya sama sekali atau apa kek biar dia mau telen tuh obat "


Keesokan harinya, berbekal saran dari Awang, Dani dan Nely sedang di dalam perjalanan menuju waduk.


Ia belum bercerita kepada Nely tentang menghilangkan calon bayi mereka, dan akan menceritakan semuanya ketika mereka sampai di Waduk nanti.


Iya sudah membawa obat yang diberikan Awang tadi siang beserta satu botol minum.


Mereka berdua jalan ke kursi taman tempat mereka bertemu semalam.


" Jadi gimana Kamu udah bilang sama orang tua kamu? " Tanya Nely begitu mereka duduk di bangku taman.


" Aku punya cara biar kita tetap bisa bersekolah dan tidak akan dimarahi oleh orang tua kita karena kehamilan ini "


" Menikahkan? " Hanya cara itu yang Nelly pikirkan beberapa hari ini.


Dani menggeleng " Bukan itu. Kalau kita menikah sekarang, yang ada kita akan dimarahi oleh kedua orang tua kita, ditambah lagi kita tidak akan bisa bersekolah "


" Emang kamu ada acara apa? "


Dani mengambil botol air mineral dan obat dari dalam tasnya.


" Dengan kamu minum obat ini, maka semua masalah kita selesai "


Nely masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Dani.


" Maksud kamu gimana? Obat apa itu? "


" Jadi Aku semalam ketemu sama temen Aku, dia udah jago banget dalam dunia seperti ini, lalu Dia memberikan saran kepadaku untuk memberikan obat ini agar kamu minum"


Melihat Nely yang masih tidak mengerti dengan ucapannya, Dani melanjutkan kalimatnya.


" Jadi ini obat bisa ngilangin apa yang ada di perut kamu "


Nely sangat terkejut mendengar ucapan Dani, semula Ia berfikir Dani mengajaknya bertemu untuk membahas rencana mereka memberitahukan masalah ini kepada kedua orang tua mereka.


Tapu tenyata Nely salah, Dani sedari awal memang tidak mau bertanggung jawab dengan semua Ini. .


Ia ingin lari dari tanggung jawab itu dengan menghilangkan apa yang ada di perut Nely.


Saat itu juga Ia merasa begitu bodoh, karena selama ini mempercayai semua omongan Dani.


" Nih kamu minum, Nggak ada efek sampingnya kok " Ujar Dani sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2