
Setelah adzan ashar, ibu datang dengan langkahnya yang cepat.
Nely yang mendengar suara langkah ibunya itu, langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri ibu.
" Gimana Bu? "
" Ibu sudah dapat kontrakannya Nel, Tadi juga udah minta bantuan Pak Yusuf yang punya dokter untuk membantu kita pindahan"
" Alhamdulillah kalau begitu, Aku sudah packing beberapa barang Bu, tinggal beberapa barang pecah belah saja "
" Dua jam lagi Pak Yusuf akan datang membantu kita, semuanya harus sudah beres. Yang sudah kamu packing langsung di taro di luar saja Nel "
Ibu langsung menuju dapur untuk memasukan semua barang pecah belah ke dalam kardus.
Semua mereka kerjakan berdua, Ayahnya yang biang onar itu bahkan tidak ada disini untuk membantu.
Biasanya Ayah akan pulang ke rumah jika masalahnya sudah Ibu selesaikan.
Semuanya sudah selesai di packing, Nely sudah mengikat semua pintu lemari agar tidak terbuka pada saat memindahkannya.
" Nel mobil Pak Yusuf udah sampe di depan, biar barang yang gede-gede dulu aja yang dibawa, baru yang kardus-kardus ya " Ujar Ibu yang berbicara dari depan pintu masuk.
Nely yang berada di kamar berjalan ke pintu depan, dan di depan pintunya sudah banyak tetangga yang menonton kepindahan mereka.
Dan di antaranya Ia melihat sosok laki laki yang pernah jadi masa lalunya.
Laki-laki itu bernama Dani, orang yang pernah memberi harapan sangat tinggi untuk Nely tapi tiba-tiba menjatuhkannya sampai ke dasar.
Dani adalah Kakak dari teman sekolahnya. Mereka bertemu ketika Nely sering main dengan adiknya yaitu Dewi.
Dewi dan Nely cukup dekat pada saat sekolah, karena Nely tidak betah di rumah karena ada Ayahnya, jadilah Ia setelah pulang sekolah main ke rumah Dewi dan baru pulang sore hari.
Dulu Nely belum tinggal di lingkungan ini tapi ironisnya ketika mereka sudah putus rumah kontrakan Nely malah dekat dengan rumah Dani.
Dani sudah menikah tahun lalu, tentu saja Nely tidak di undang padahal rumah mereka hanya beda satu gang.
Dani tipe laki-laki yang tidak banyak bicara dan terkesan cool.
Setiap Nely main ke rumah Dewi, Ia selalu mencuri-curi pandang ke Dani tapi Dani tidak pernah mempedulikannya.
Sampai akhirnya mereka menjadi dekat ketika Nely menginap di tempat Dewi saat kedua orang tua mereka pergi ke luar kota.
Ajakan untuk menginap di terima dengan senang hati oleh Nely.
Ia dan Dewi berencana untuk memanggang daging di belakang rumahnya.
" Memang kamu punya dagingnya Wi? "
__ADS_1
" Tenang, aku sudah minta Ibu membelikannya untuk kita bakar-bakaran. Nanti Kak Dani juga ikutan kok jadi ada yang bantuin "
Nely makin bersemangat ketika Dewi bilang bahwa Kakaknya akan ikut di acara mereka.
Dari sore Dewi dan Nely sudah marinasi semua daging yang mereka punya.
Saat sekolah kehidupan ekonomi Nely sangat hancur-hancuran, jangankan makan daging untuk makan ayam saja mereka tidak mampu membeli.
Jadi ketika melihat daging setengah kilo yang ada di depan matanya, Nely sangat bersemangat.
Entah sudah berapa lama Ia sudah tidak pernah memakan daging.
Kak Dani sudah membawa kompor dan peralatan lainnya ke halaman belakang.
Sengaja kami ingin memasak di area terbuka agar terasa sedang camping.
Dewi bahkan meminta Dani untuk memasangkan tenda di halaman belakang.
" Nanti abis makan kita langsung tidur di tenda Nel, asik kan berasa lagi liburan "
" Wah iya seru "
" Nanti kalo tendanya udah berdiri, kita pindahin bantal, guling dan selimut " Mereka berdua sangat bersemangat sekali.
Malam hari pun tiba Dewi dan Nely sedang memasak daging di atas teflon, sedangkan Dani sudah siap dengan piring berisi nasi.
" Enak Kak? " Tanya Dewi melihat ke arah Kakaknya yang sedang makan dengan lahap.
" Mantep, ayo masak lagi "
" Sisain kita loh, nanti yang ada kita cuma masakin aja lagi "
" Tenang masih banyak kok "
" Kakak makan terus sih, aku jadi takut nggak kebagian "
" Ya ampun nih anak bener-bener deh "
Dewi dan Dani memang sering bertengkar-bertengkar lucu, Mereka selalu meributkan apa saja
Dani selalu menjahili Dewi sehingga Dewi yang memiliki kesabaran setipis tisu selalu marah kepadanya.
Sebagai anak tunggal, Nely selalu senang melihat kedekatan Dewi dengan Kakaknya.
Jika mereka sudah berantem, Nely akan memperhatikan mereka dengan tersenyum.
Tapi walaupun begitu, jika ada orang yang menggangu adiknya, Dani tidak segan-segan untuk membelanya.
__ADS_1
Dulu Dani pernah berantem dengan anak gang depan karena Dewi pernah pulang ke rumah dengan keadaan takut karena digoda olah anak-anak itu.
Padahal ketika Dewi bercerita Dani seperti tidak menanggapinya.
" Aku di siul siulin begitu, aku jalan dia ngikutin terus. Aku takut banget Kak "
" Ah cuma di gituin aja nangis, emang siapa anak gang depannya? " Dani masih menatap layar ponselnya seolah tidak mendengarkan ucapan Dewi.
" Itu Si Asep anaknya Bu Komar, yang rumahnya samping rumah Pak RT "
Dani tertawa terbahak bahak, membuat Dewi menjadi semakin kencang.
" Jahat banget sih malah ngetawain " Dewi cemberut melihat Kakaknya yang tertawa.
" Ya kan si Asep badannya kecil, Lo tendang juga mental tuh anak "
" Ih Kakak nggak tau rasanya sih, takut tau " Melihat Dani yang tidak merespon ceritanya dengan baik membuat Dewi kesal dan Ia berjalan menuju kamarnya.
Memang Kakak nggak bisa di andelin, rutuk Dewi dalam hati.
Yang Dewi tidak tau, Dani sangat marah mendengar adik perempuannya di buat tidak nyaman oleh Asep.
Setelah Adiknya masuk kedalam kamar, Dani pergi keluar rumah untuk menghampiri Asep.
Dani akan memberikannya pelajaran, berani-beraninya Asep menggangu adik kesayangannya.
Ketika sampai di gang depan, Asep sedang nongkrong dengan beberapa temannya.
" Lo apin ade Gue? " Tanpa tedeng aling-aling Dani langsung bertanya dengan keras kepada Asep.
Bukannya takut, Asep yang melihat kedatangan Dani hanya tersenyum saja " Yaelah Bang Gue cuma bercanda kali, serius amat"
" Bercanda Lo nggak lucu, Gue nggak seneng ya Lo becandain Adik Gue kayak begitu "
Asep masih saja cengar-cengir melihat Dani yang sudah marah. Dani tidak terima dengan perlakuan Asep.
Ia mendekati Asep,menarik badannya dan melayangkan tinju tepat di wajah Asep.
Asep yang tidak siap dengan serangan Dani langsung terhuyung ke tanah.
Teman-teman Asep yang lain tidak terima Dani memukul Asep, mereka sudah mau memukuli David tapi dilarang oleh Asep.
" Nggak usah biar Gue selesaiin sendiri"
Dan perkelahian pun tidak bisa terelakkan. Mereka saling memukul, Asep yang memiliki badan lebih kecil daripada Dani tidak membuat nyalinya ciut.
Ia berusaha beberapa kali melumpuhkan Dani walaupun tidak berhasil.
__ADS_1
Perkelahian itu berlangsung beberapa lama sampai ada Bapak-bapak yang melintasi Gang tersebut dan meminta mereka untuk berhenti.