GENERASI SANDWICH

GENERASI SANDWICH
Rumah baru


__ADS_3

Nely tidak mengerti apa hal yang membuat orang senang menonton kesulitan orang lain?


Padahal di banding menonton dan bergosip tentang keluarganya, lebih baik membantu memindahkan barang mereka ke mobil bak yang terparkir di depan rumahnya.


Bahkan si laki-laki kurang ajar itu hanya mematung saja dan tidak melakukan apa apa.


Rasanya menyesal sekali dulu Nely terlalu bodoh percaya dengan laki laki itu.


Rumah kontrakan Nely yang baru cukup jauh dari rumahnya yang lama.


Ibu sengaja mencari tempat yang jauh agar tidak ada yang mengenali mereka.


Di dalam mobil, Nely melihat ke arah luar jendela, Ia sedang berpikir sudah berapa kali Ia san keluarganya pindah rumah.


Nely menghitungnya dan ternyata sudah sepuluh kali Ia harus pindah rumah.


Kegiatan pindah rumah adalah kegiatan yang paling Nely benci.


Sudah terbayang akan secapek apa nanti harus memindahkan barang dan menyusunya kembali di rumah baru.


Tapi bagaimana lagi, selagi Ayah masih belum taubat Nely pasti akan terus berpindah pindah rumah.


Dulu Nely sampai berharap bertemu laki laki baik kemudian menikahinya dan bisa membawa Nely dan Ibu jauh dari Ayahnya.


Tapi bukannya laki laki baik yang Ia temui, Ia malah bertemu dengan Dani, sial sekali.


Karena bertemu dengan Dani Ia harus menjadi pembunuh.


Masih teringat jelas bagaimana hancurnya perasaan Nely ketika Dani menyodorkan obat untuk menghilangkan bayi mereka.


" Kamu gila ya nyuruh aku menjadi pembunuh? " Ucap Nely dengan suara tertahan.


Bukan solusi ini yang Nely harapkan dari Dani, Apa iya harus menghilangkan nyawa seseorang untuk konsekuensi kesalahan mereka.


" Bukan gitu sayang, aku pengen nikah sama kamu. Tapi kalo sekarang kita berdua kan masih sekolah, gimana nanti sekolah kita? " Dani mencoba meyakinkan Nely.


" Harusnya kamu mikirin itu sebelum ngelakuin semuanya sama aku "


Suara Nely bergetar karena menahan tangis dan amarah.


" Aku tau semua ini salahku, aku yang bodoh mengajak kamu melakukan hal itu. Tapi sekarang bukan waktunya kita mencari tau siapa yang salah dan benar sayang "


Dani mencoba memeluk Nely yang sedang menangis tapi Nely menepis tangannya.


Nely seperti tidak di berikan pilihan selain mengikuti perkataan Dani.

__ADS_1


Dengan berat hati Ia meminum pil yang Dani berikan.


Setelah Nely meminum pilnya, Dani terlihat tersenyum.


Ingin rasanya Nely menampar wajah Dani saat itu juga. Jelas sekali Dani merasa menang karena Nely mengikuti permintaanya, lagi.


" Makasih banyak ya sayang "


Nely tidak membalas ucapan Dani, Ia langsung beranjak jalan ke parkiran meninggalkan Dani yang merasa lega karena masalahnya sudah selesai.


Beberapa jam kemudian, Nely merasakan perutnya melilit tidak karuan dan keluar darah seperti sedang menstruasi.


Nely bahkan tidak bisa menguburkan anaknya sendiri.


Di dalam kamar mandi Nely menangis hebat, Ia menyesali semua yang sudah Ia lakukan bersama Dani.


Sejak hari itu Ia tidak pernah main lagi bersama Dewi, walaupun tidak ada kata putus di antara mereka tapi Mereka tidak pernah bertemu lagi.


Kejadian itu membuat Nely trauma dan membekas hingga sekarang.


Sampai saat ini Ia tidak pernah percaya dengan janji laki-laki.


Ia menganggap semua laki laki di dunia ini sama dengan Dani dan menjaga jarak dengan mereka.


Padahal kejadian itu sudah tujuh tahun berlalu , tapi ketika diingat kembali rasanya masih sangat menyakitkan.


Mereka sudah sampai di rumah kontrakan mereka yang jauh.


Rumahnya berwarna hijau dan lebih luas dari rumah mereka sebelumnya.


Tanpa menunggu lama, mereka langsung memindahkan semua barang dari mobil box kedalam rumah baru mereka.


Halo rumah baruku, semoga kamu bisa jadi rumah terakhir untuk kami, ucap Nely dalam hati sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.


Pindahan hari ini berlangsung lancar, Nely dan Ibu sedang menata kembali semua barang barang.


" Ayah tau kita pindah Bu? " Nely akhirnya bertanya pada Ibu, karena sedari tadi Ibu tidak berbicara apapun tentang Ayah.


" Entah dimana Ayahmu sekarang Ibu juga tidak tau Nel. Kali ini Ayahmu sudah keterlaluan karena harus membuat kita pindah rumah lagi, tidak ada kapoknya "


" Lalu gimana kalo Ayah mencari kita? " Kata Nely heran.


" Ya cari saja kalo ketemu, tapi lebih baik nggak usah ketemu "


Baru kali ini Nely mendengar Ibu berbicara seperti itu.

__ADS_1


Biasanya Ibu selalu sabar menghadapi semua yang Ayah lakukan, tapi mungkin saat ini Ibu sudah lelah dengan semuanya.


" Kasihan kamu, besok harus kerja tapi sampai jam segini masih sibuk karena kita harus tata ulang semua barang barang ini "


" Nggak apa apa Ibu, besok di kantor kan aku bisa istirahat kalo ngantuk Bu "


Ibu tersenyum mendengar ucapan Nely. Ia sangat beruntung mempunyai anak seperti Nely yang begitu pengertian.


Dulu ketika lulus SMA Nely hendak berkuliah di universitas negeri di jakarta.


" Tenang Ibu aku dapet beasiswa penuh dari kampus jadi Ibu nggak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun "


Waktu itu jangankan untuk menyekolahkan putrinya, untuk makan mereka sehari hari saja sudah berat.


Mempunyai suami yang pemalas membuatnya harus bekerja keras.


Di pagi hari Ia menjual nasi uduk di depan gang rumahnya, dan ketika sore Ia lanjut menjual gorengan di tempat yang sama.


Itu semua Ia lakukan agar bisa menyekolahkan putri semata wayangnya setinggi tingginya.


Tapi harapan itu pupus ketika Suaminya mencuri uang tabungannya untuk bermain judi.


Saat itu perasaanya begitu hancur, harapannya untuk menyekolahkan Nely hilanglah sudah.


Berbulan bulan Ia menangisi hal itu, sampai hari ini anaknya bilang jika Ia dapat beasiswa penuh dan bisa berkuliah secara gratis.


Ini seperti sebuah keajaiban dan jawaban atas doa-doanya selama ini.


Ia tidak menyangka Anaknya akan mendapatkan beasiswa.


Nely heran melihat Ibunya menangis, jelas sekali ini bukan tangisan haru karena terasa sangat menyedihkan.


Nely langsung memeluk Ibunya dan coba menenangkan, Ia tidak mengerti kenapa Ibunya tiba tiba menangis.


" Kalo Ibu nggak mau aku kuliah, aku nggak akan kuliah Bu " Ucap Nely sambil memeluk Ibu.


Buru buru Ia menyeka air matanya, Ia tidak ingin anaknya salah paham karena melihatnya menangis.


" Ibu menangis bahagia, Ibu seneng banget kamu akhirnya bisa berkuliah "


" Bener Bu? " Nely mencari cari kejujuran di mata Ibu, Ia tidak ingin Ibunya berbohong karena ingin menjaga perasaan Nely.


" Ia Nak, Ibu bahagia sekali Allah menjawab semua doa doa Ibu "


Atas doa Ibunya, Nely dapat berkuliah dan lulus tepat waktu dengan nilai cumlaude.

__ADS_1


Setelah lulus Nely seperti mempunyai semangat baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik bersama kedua orang tuanya.


Tapi ternyata, selagi Ayah belum taubat kehidupan yang lebih baik tidak akan pernah terjadi di hidup mereka.


__ADS_2