
Berbicara tentang perayaan tradisi memang sangat kental dengan keharmonisan setiap individu. Mereka melantunkan ayat-ayat Tuhan yang terkandung di dalam alam.
Ketika pertunjukan tari telah usai. Dan senandung tarawangsa jua kecapi mulai dimainkan, maka saat itulah rajah dikumandangkan.
Tertua desa memakai kain hitam yang terbelit di kepalanya berwarna hitam. Kain tersebut dinamakan 'iket' atau totopong. Tubuhnya terselimuti pakaian serba hitam, serta di pinggulnya tertanam ornament yang sangat indah. yaitu kain batik yang mengambai sampai lutut dinamakan sebagai 'dodot'.
Dia duduk bersila, raganya tertunduk pasrah di depan bongkahan kemenyan yang menyala. Kemenyan yang jumlahnya banyak disebut 'parupuyan'.
Akhirnya rajah pun dimulai........
"Sampurasun kersa Kawasa ning Gusti, nu muhit di satungkebing langit, anu
murba di satangkaraking jagat
di luhur anu kacatur, di handap anu kakocap, di hareup anu kateuteup
kasampeur, di tukang anu kasawang kasorang, pagilinggisik di sisi di gigir
anu dumuk di lembutna, anu ngancik di leutikna
nu lungguh di wawatuan, nu lenggah na tatangkalan, nu geugeuh puseur
dayeuh, ngajaga puseur sagara
nu manggung di kuwung-kuwung, sidéngdang na méga mayang
méga bodas méga kayas, méga jingga, méga beureum, méga hideung, méga
paul, méga mendung
nu aya dina Serangéngé, dina lintang dina wulan, nu linggah dina cahaya... Anu ngancik dina Seuneu nu jadi panyeukeut Deuleu
Anu ngancik dina Angin nu jadi pangusap Sukma
Anu ngancik dina Cai nu jadi panyaring Hurip
Anu ngancik dina Lemah nu jadi panghudang Rasa
Lemah Cikal Lemah Bakal, Lemah pangindungan Raga
Sunda pangancikan kula . . .
AsyHadu syahadat panumbal jagat
AsyHadu panghayu lembur
__ADS_1
Syahadat pangruwat jagat
tulah sumpah karma raga
lebur dibalungbang timur
lubar ku sang aji balabar jagat
Batara Tungtang Buana
nu nitis di lemah putih
lumingga di jagat tunggal
Puh puah ! Jurig nyingkir Riwan nyingkah ! Aki Gimbung Nini Gimbung ulah
ngagarimbung teuing, ti girang Karacak Hérang, ti hilir Keresik manik
Curulung Cai ti Manggung, ngemplang di Talaga Hyang, kiruh ti hilir ti girang, ti tengah Canémbrang hérang.... puah ! puah ! puah !
Sangkan sae
Sangkan sae
Sangkan sae
tengkuk lehernya tergelitik seolah bait-bait syair di atas ******* hatinya. Dharma terdengar getir semua bulu kudu berdiri. Senandung tarawangsa membawanya menerawang angkasa.
Malam semakin larut. Satu demi satu pertunjukan dipertontonkan, tepatnya setelah ayam berkokok melambangkan sinar sendu Astra jingga akan merambat alam bumi. akhirnya tradisi tahunan selesai, semua warga kembali ke rumah masing-masing. tak terkecuali dharma yang menggeleng pasrah.
ia dan panca tidak tahu pulang kemana, sementara itu orang-orang berhamburan kesana-kemari membersihkan area bekas tradisi. Setelah itu semuanya pulang tak tersisa.
"Panca ayo nginap di rumah aku." Ajakan Ansel kepada panca sambil memegang tangannya.
"kakakku gimana?" jawab panca kebingungan melihat kakaknya yang diam memandangi sinar matahari yang akan timbul.
"kalo boleh, Kaka juga ikut nginap di rumah ka Ansel yah!" ucap panca, meraba-raba kakaknya yang bergumam tanpa henti.
Jelas Ansel sangat kebingungan. Jikalau dharma juga ikut menginap di rumahnya tentu ini akan menjadi perdebatan dan bahan kontroversi bagi orang yang tidak menyukainya. Ansel memalingkan pandangan dari mereka berdua, berpikir sejenak.
Ketika solusi tidak dapat dipecahkan oleh Ansel sendiri. Dharma langsung berbicara mengarah pada Ansel yang sedang menggenggam tangan panca.
"gapapa.... kamu pulang aja sama panca, aku mau main dulu ke sungai Deket sini,"
"Kaka bener mau main dulu ke sungai?" panca sepertinya tidak tega melihat Kakaknya tidak tidur malam ini.
__ADS_1
Dharma menghampiri panca. Merunduk lalu menatap muka adiknya itu, Ia meyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa jika ditinggal di sini sendiri. "Kamu harus tidur yah," kata dharma sambil mengulum senyum.
Ansel dan panca kini pulang meninggalkan dharma di luar sendirian, ditemani bayang-bayang kelelawar yang hendak kembali ke pohon yang menjadi tempat peristirahatannya.
keremangan kunang-kunang menghiasi shubuh dengan dharma yang masih terenyak duduk di tepian sungai. mendengar gemuruh air mengalir, merasakan energi alam yang masuk ke dalam sukmanya.
"Aku harus bagaimana ini...... Tidak tahu tujuan." Kesendirian dharma malah dijadikan bahan renungan untuk dirinya bisa berkembang.
Ringkasan memori perlahan muncul. Ia langsung teringat dengan mimpinya itu, mimpi yang menyadarkan bahwa ia diberikan tanggung jawab untuk memperbaiki dunia dari kehancuran. namun simbol yang tertera di dalam mimpi masih belum bisa dipecahkan.
Alat kecil yang terbuat dari kayu, Dan seorang resi yang memakai baju serba putih. Gelombang otak dharma sedang berada pada tahap Alfa. Jejaring pengetahuannya saling disambungkan, hingga kemudian muncul sebuah gagasan baru serta tujuan mutlak.
Ia dihantarkan kesini pasti mempunyai maksud tertentu. sebelumnya dharma tidak mengingat apa-apa, namun ia sadar bahwa dirinya telah dirasuki roh leluhur, yang telah membawanya ke tempat ini.
Sambungan kejadian kini dirangkai dharma dalam kekuatan cipta. tertua desa yang menggunakan pakaian serba hitam pasti mengetahui orang yang menggunakan pakaian serba putih. Pada dasarnya dharma belum mengetahui bahwa seseorang yang memberikan mandat kepadanya adalah seorang resi.
dalam mimpinya kala itu, ia dibawa ke tiga dimensi yang berbeda sekaligus. Diantaranya adalah hulu sungai yang tenang. Sontak dharma langsung bergedik. Karena menyadari bahwa apa yang telah dimimpikan jadi kenyataan.
Buktinya dharma sudah berada pada hulu sungai yang tenang. Suara melengking datang tiba-tiba. Merasuki Indera pendengarannya.
"Kau sudah paham apa maksudku." suara yang entah datang dari mana muncul lagi.
gemerisik air terciprat padanya. Dharma sedikit menghela nafas untuk terus fokus mendengarkan suara itu.
"ini adalah jalan yang sudah aku berikan padamu. Carilah petunjuk agar kau tahu arah, dharma......." Seusai mengucapkannya tidak ada kata lain yang terdengar oleh dharma.
"Aku paham!" berdiri lalu pergi meninggalkan hulu sungai itu.
Pagi telah tiba. Sebagian warga sudah mulai beraktivitas kembali. sedangkan itu dharma memacu kakinya menuju rumah Ansel untuk menanyakan sesuatu hal.
Tidak dipungkiri bahwa dharma adalah manusia biasa, kebutuhan biologis perlu dilakukan setiap hari. Salah-satunya adalah tidur. Ia berjalan sambil tertegun-tengun, kepalanya seakan ditimpa batu besar yang membuat dharma sampai kewalahan berjalan.
Kerikil batu berhamburan di jalanan. Terkadang ketika dharma berjalan pergi menuju rumah Ansel, kakinya terbentur batu, yang membuat ia jatuh berkali-kali.
warga yang memperhatikan dari samping dan belakang hanya bergeleng takjub melihat ketekunan dharma yang masih kokoh berjalan walaupun kondisinya mengantuk.
Tepat di depan rumah Ansel ia jatuh pingsan.
Sinar matahari mulai menyengat. Ansel dan panca baru bangun dari tidurnya yang nyenyak. Kebiasaan Ansel ketika bangun tidur adalah membuka jendela rumah, dan menyiram tanaman yang berjejer rapih di belakang rumahnya.
Ember berisikan air sudah siap untuk menyiram tanaman. Pintu rumah Ansel hanya terdapat satu saja, sehingga ketika dirinya ingin pergi ke belakang harus melewati pintu depan terlebih dahulu.
Pintu pun dibuka. Ansel langsung melongo melihat dharma yang terbaring lemas di hadapannya. ember yang ia pegang sampai jatuh dan air di dalamnya tumpah ke segala arah.
TUNGGU PART BERIKUTNYA<3
__ADS_1