
kemungkaran manusia memiliki sifat seperti angin, menerka bagaikan singa, menerjang mirip ombak di laut. Dharma hampir sepenuh malam hanya manggut-manggut saja, semua pertanyaan telah dilontarkan Dharma dalam kebisingan malam. Tidak terasa waktu berputar tanpa sadar, ayam sudah berkokok menutur kata "Usai" menjadikan sebuah patok perhentian diskusi kedua mahluk suci, yaitu dharma dan sang guru yang belum memperkenalkan dirinya sendiri.
"Kungkuruyukkk" suara ayam kampung menggelegar kencang.
"Nah sudah subuh, ayo kita tidur guru!" ajak dharma. Bangkit dari duduknya.
"eahhhhh! mau kemana kamu?"
"Mau tidur guru," menunjuk arah kamar dengan jempolnya itu. Kesopanan sangat tergambar ketika dharma memilih menunjuk arah tujuan pergi tidak dengan telunjuknya, melainkan mengacungkan jempol sambil menahan sikunya dengan tangan sebelah kiri.
"Tunggu dulu, sebelum tidur baiknya kita olah pernafasan dulu. Mari sini lalu duduk bersila," titah guru. Sang paman mengajak Dharma melakukan ritual sebelum tidur untuk merekatkan tubuhnya dalam menyambut sinar matahari.
__ADS_1
"Bagaimana pola nafasnya guru?" setelah dharma duduk bersila ketika gurunya menyuruh pernapasan, Dharma sedikit bingung bagaimana memproses energi alam, sehingga secara langsung pertanyaan terucap seketika.
"Dasar dari pernapasan cuman dua, yaitu; tarik, dan buang. Maka harus bisa dibedakan pernapasan ke dalam beberapa kelompok. Yang kita lakukan sekarang hanya sebatas meditasi saja, tidak memiliki tujuan apapun selain kesehatan." mereka sudah duduk saling berhadapan.
Dharma kembali bertanya karena hasratnya mendadak menggila, kepuasan dalam belajar seharian ini belum juga tuntas di batinnya. "Hanya untuk tenang saja guru, bagaimana kalo disambung pernapasan yang lain, contohnya kaya kuat dibacok" Langsung saja si paman bergelak tawa, perutnya serasa tergelitik oleh pertanyaan Dharma. "Hahahaha, kamu ingin kuat dibacok?....... hahahahaha..... sejatinya kuat dibacok merupakan kehampaan dalam berandai-andai, kamu hanya akan menemukan kekecewaan ketika mengejarnya, jadi lupakanlah, ada hal yang lebih penting untuk dikuasai"
"Ohh iya maaf guru, mari ajarkan meditasi pada saya!" ucap dharma.
Suara kekerusuk terdengar di kuping Dharma, dirinya tertidur dalam duduk ketika tengah bermeditasi hening. Fajar telah berotasi ke tengah langit juga menyengat kulit kecoklatan terus masuk melalui lubang jendela dekat dengan Dharma sedang mengistirahatkan tubuh malangnya itu diposisi tegap dan siap.
Mata berkedip-kedip, kelopaknya masih tertutup rapat bersikukuh ingin membukakan selaput luar, namun apa daya rasa lelah secara berlebih seolah menyuruh Dharma untuk tetap merapatkan matanya agar bisa mengisi tenaga melanjutkan aktivitas dan latihan di sore hari bersama sang guru.
__ADS_1
"Dharma........ ayo bangun nak!" seru guru.
"Hmmm," jawaban dharma seperti khalayak ramai ketika dipanggil jawabannya hanya itu-itu saja.
Sang guru tidak mau muridnya bermalas-malasan, langsung menghampiri dharma lalu menepuk-nepuk pundaknya itu. "Ayo bangun, sekarang adalah tes terakhirmu!"
sontak itu membuat Dharma langsung terbangun dengan tergesa. Dirinya teringat akan ujian akhir, hari inilah menjadi tonggak ukur kemampuan Dharma dalam berlatih. "Ayo guru! saya siap menjalani ujian akhir," Dharma berucap di kondisi wajah mengantuk, rasa kantuknya itu akan ia hadapi dengan penuh rasa semangat.
Ternyata Dharma setiap hari melakukan meditasi sebelum tidur, sudah enam bulan waktu berlalu cepat Dharma berlatih, kini ketangkasan, kecerdasan, serta kepiawaian akan diuji guna melihat apakah Dharma layak dan bisa menghadapi dunia luar demi mencapai cita-citanya yaitu mengubah tatanan dunia baru di sistem Sunda.
"kamu siap-siap, habis itu makan, setelahnya ayo ikut paman menghantarkan mu menuju tahap akhir dari latihan ini," Sang paman tersenyum lebar, diiringi mata yang terpejam, seolah-olah itu merupakan kalimat perpisahan.
__ADS_1