
Langit-langit sudah berhenti kumat-kamit, Dharma menggerayangi setiap tetes embun ketika bersorak gembira melihat perkembangan emosionalnya menyambung dengan sang paman yang juga menempuh perjalanan spritual agar dapat terikat bakti leluhur.
"Paman, sekarang sudah pagi! saatnya kita berlatih, seperti yang paman katakan tadi," seru dharma mengajak paman berlatih di luar rumah.
Paman menjawab ajakan Dharma, tapi sebelum itu dirinya tergesa mengambil sebilah pisau dari lemari yang tersimpan didekat jendela. "Ayo, tapi paman mau mengambil dulu pisau"
"Untuk apa pisau? apa paman ingin membunuhku,"
"Ini hanya sebatas ritual yang telah diturunkan dari guru ke muridnya setiap kali mengawali latihan pertama," Sontak itu membuat dharma mengkerutkan garis keningnya, ternyata menjadi seorang murid dari pendekar hebat harus melewati serupa rangkaian ritual untuk sah menjadi muridnya.
Sketsa pertarungan yang disuguhkan paman sangat berbeda dari biasanya, fondasi kuat dititikberatkan pada tumpuan kaki sebagai dasar pertahanan serta pengaturan pola serangan serangkai. Dharma mengamati dari kejauhan, pekarangan rumah yang tidak terlalu luas membuat Dharma sangat serius dalam memperhatikan setiap gerak dan jurus dari sang paman untuk kemudian dapat menuruti gerak tersebut.
Setiap manusia yang mendapatkan pengalaman baru pasti merasa mewah dan menekan rasa kagumnya pada struktur gerak yang tanpa disadari. Satu dua langkah kini dipraktekkan dharma, yang terus melihat ke arah paman.
"Kamu ngapain dharma?" tanya paman yang berhenti mengeluarkan jurus-jurus nya.
"Hehehe, maaf, gerak sendiri," Dharma nyerengeh ketika ditanya oleh paman.
__ADS_1
"Kamu maju kesini dharma," tangganya menunjuk arah yang dituju.
Dharma menuruti apa kata gurunya itu, dia lantas maju mendekati paman.
"buka kaki kamu yang lebar, sejajarkan!" Ucap paman sambil memegang salah satu kaki Dharma agar membuka kakinya.
Setelah kakinya terbuka, lantas sang paman maju berhadapan dengan Dharma dan langsung membuka kakinya juga, tapi bedanya sang paman langsung menyimpan kedua tangan dekat dengan tulang rusuk, bahunya melebar, tangganya mengepal, serta wajahnya sangat serius.
"Habis ini gimana paman," seru dharma
"Turuti posisi paman ini," Dharma langsung menyerupai kuda-kuda gurunya itu.
Kopi panas tersaji di bangku rumah, dengan santai sang paman malah Ngopi memperhatikan muridnya yang telah basah kuyup oleh keringat karena sudah hampir tiga jam bergerak di tempat. "Dia ternyata sungguh," kebahagiaan yang tak terbendung ketika sang paman malah asik ngaso menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terciprat rasa kagum terhadap tekad bulat Dharma.
Sebilah pisau yang diambil tadi tercengkram erat di tangan paman. "Sudah Dharma, kesini!" teriak paman.
"Siap guru," wajah yang dilumuri keringat keni bercucuran ke tanah cukup deras.
__ADS_1
"SSSTTTTTT" Suara sayatan pisau..... menyayat tangan dharma dekat bahu.
"Aaww!" apa apaan ini!
"hehe," tawa sang paman.
"Paman gila! jadi ini ritual yang turun temurun?" Dharma menutup luka yang mengeluarkan darah di tangannya.
"Nanti kamu akan tau kenapa paman melakukan ini, semua polah tingkah gurumu tidak serta-merta dilakukan tanpa maksud, berpikirlah dharma." paman menyimpan pisau yang dipenuhi darah dari dharma di meja, sebelah kopi panas yang masih mengeluarkan asap.
"tapi ini sakit, mungkin juga akan berbekas," keluh kesahnya tercampur perasaan yang berkabut takut.
"kenapa kamu memasang muka seperti itu?"
"paman gaakan ngebunuh saya kan"
"mungkin saja itu terjadi,"
__ADS_1
"hahh," dharma melongo mendengar pernyataan gurunya itu.