
Kekuatan alam menghentak-hentakan atmosfer sekeliling, riuhnya angin berpusar cepat juga berwarna hitam membelit area pertarungan Dharma. Kini sang pendekar muda kukuh dalam keyakinannya, mesti hati sucinya bergedig malu terhadap alam yang telah membesarkannya dalam kekuatan diri, namun apalah daya tangannya hanya bisa mengelusi dada ditutur ucapan-ucapan pasrah.
"Maap alam..... aku merusak mu, lagi: dari banyaknya fenomena yang terjadi selama ini, kau tetap meniupkan kebermanfaatan bagi kami." raga tertunduk diam serta garis mulut melengkung ke bawah membuat Dharma hanya bisa melihat gempa bumi hasil dari ajian nya sendiri yaitu; Puseur Waruga Jagat.
Astra jingga mulai menampakkan diri, memancarkan sinar kuning yang menggoda mata, Dharma terbelenggu lagi. Tak hentinya semesta memberikan rasa bahagia dalam sanubari hatinya untuk merasakan kebahagiaan itu, yang tidak bisa didefinisikan ke dalam sebuah kata maupun ucapan.
Ketika hutan lebat termakan api membara, angin kencang berhembus pelan dan semuanya sudah hilang jadi abu, Dharma meloncat ke bawah bergegas pergi dan tak acuh terhadap para monster lawannya.
Di perjalanan pulang, anak muda berperawakan tinggi memandangi mawar merah tengah hinggap di balik batu-batuan dia mengendus semerbak wangi yang membuatnya tersenyum tipis. Dua sampai tiga jam telah lewat, gunung cekung telah dituruni dan tibalah dia ke rumah sederhana milik gurunya itu: akhirnya sampai juga. Dharma melangkah dilumuri perasaan bahagia.
"Dia menang! Walau sedikit merusak," Gemulai senyum sang guru meratapi Dharma datang ke arahnya.
Lambaian tangan Dharma mengalirkan energi positif bagi sekitar, sekaligus pa Dalang memberhentikan kegiatannya bercocok tanam di pekarangan rumah.
"Guru........." Dharma berlari memeluk erat gurunya itu. Sudah tiga hari berlalu akhirnya kepulangan sang murid membuahkan hasil maksimal, dekapan hangat pa Dalang membuat si pendekar muda meneteskan air mata haru. "Kamu berhasil, tugas saya selesai...." Yang juga pa Dalang hanyut dalam suasana, tepat pada matahari sedang memberikan vitamin penguatan tulang.
__ADS_1
Dinding rumah pa Dalang serasa markas paling aman, gantungan baju kumuh membuatnya teringat akan latihan yang selalu keras diberikan. Seonggok makan malam pun tiba, walau itu-itu saja, tak ada perbaikan gizi, Dharma tetap melahap ubi rebus hasil dari kebunnya sendiri, yang dirinya tanam seusai latihan untuk mengisi waktu luang. Akhirnya siap panen dan Dharma ceria.
"Kamu tidak bisa merubah dunia dengan kekuatan seorang. Tapi, dunia akan berubah demi kesepakatan," ucap pa Dalang di malam itu.
"Kesepakatan apa maksudnya guru?" Tanya Dharma, tampak bingung karena ucapan gurunya ambiguitas.
"Kesepakatan berubah membentuk tatanan baru,"
Tak lama kemudian gurunya bangkit dari kursi rotan dan mulai menutupi semua sudut rumah yang terbuka, Dharma ikut membantunya agar bisa tidur dengan pulas. Diketahui ujian tingkat akhir tidak membiarkan Dharma untuk terlelap, dan mengharuskan berjaga dan bertarung selama hampir tiga hari lamanya.
"Baik guru," juga Dharma langsung saja merebahkan tubuhnya di kursi panjang buatan pa Dalang yang khusus diperuntukkan pada muridnya satu-satunya.
Hiruk-pikuknya kalap menyiratkan sebuah makna alam. Pendekar muda masih terdiam di dimensi fana, walaupun ayam berkokok bergelegar sepertinya tak mampu membangunkan telinga seorang yang lelah raganya.
Berbeda dengan Dharma yang tengah tertidur pulas, pak Dalang malah sudah menyompang golok terlilit kain sutra halus, dirinya bersiap seperti biasa dengan sepatu bot untuk membeladah kebun rimbun jauh di sana.
__ADS_1
Pagi hari tiba. Dharma terbangun, menggeliat macam cacing diberi garam, matanya terganggu oleh sinar kuning mendobrak kelopak matanya. Suara lunglai terdengar masuk ke rumah, ternyata gurunya baru beres bertani juga memperbesar wilayah kebunnya. "Dharma...." sapa guru, membuka penutup kepala yang dinamakan "dudukuy".
"Iyaa guru, maap saya baru bangun," jawab Dharma terbangun terbelit oleh rasa kantuknya.
"Mau sampai kapan kamu di sini?" guru itu duduk bersebelahan dengan Dharma.
"Saya gatau guru, jika memang ada hal lain untuk dikerjakan, saya siap melakukannya,"
"Latihan kamu sudah cukup, ilmu yang saya berikan telah tercerna dengan baik olehmu. Sekarang waktunya untuk pulang dan bertemu adik semata wayang kesayanganmu. Dia sudah lama merindukan kepulangan kakaknya itu'"
"Jika memang ini perintah guru, saya akan pulang ke desa,"
"Jangan lupa, pergunakan ilmu sebaik-baiknya. Jangan kamu sengaja berkuasa agar ditakuti, tapi manfaatkanlah kepiawaian mu dalam berbuat kebaikan dan meluruskan cita-cita mu itu,"
"Terimakasih telah mendidik serta melatih saya menjadi seorang pendekar guru," simpuh Dharma berlekuk lutut menangis dalam jepitan kaki gurunya.
__ADS_1
"Tidak ada kata yang lebih pahit dari perpisahan, enam bulan ini sudah menjadikanmu kuat dan satu pesan saya; tetap bacalah kode-kode alam, karena dari itu dapat menguak tabir semesta. Manusia adalah alam." wejangan guru terkahir kalinya membuat air mata jatuh tanpa henti, membasahi ubun-ubun Dharma.