
Tekan terus saja menekan, urat hijau itu menggeliat keluar dari tangan menutur Dharma merintih kesakitan. "Aaaaaahhhhhhh......." teriak seorang lelaki tengah menghadapi ujian tingkat akhir. Semua ujian telah terlewati, dari mulai tahap awal yaitu pengumpulan materi sampai pengaplikasian hasil dari belajar, semua sudah menyarang di tubuh gempal penuh otot. Raga Dharma kini lebih besar, anatomi tubuhnya sudah melebihi kapasitas manusia normal, ajaran dari pa Dalang sangat susah dicerna, tapi dengan tekad paripurna semuanya hanya setipis kertas saja.
Kini dirinya sangat terpojokkan, sembari menahan sakit atas cabikan di bawah tanah, Dharma menggeleng-gelengkan kepalanya, gigi berkereketan musuh menghiasi pendengaran Dharma, mahluk dibawahnya sudah memimpikan daging penuh kalori jika disantap mentah itu merupakan hidangan spesial. Dharma semakin tertekan seraya bersikukuh keluar mengerahkan semua energinya
"Untuk apapun aku harus tetap hidup!" ucap Dharma mengeluarkan jurus "Teundeut Bumi" jurus ini merupakan jurus penerapan dari pernapasan lanjut, dimulai dari diri lalu beralih pada alam. Teundeut Bumi sebenernya masuk ke dalam jurus serang, dengan berpola tangan menghentakkan ke tanah, mendorongnya menggunakan pernapasan angin.
__ADS_1
Akhirnya Dharma dapat melambung tinggi ke langit, walau kakinya tercabik cukup dalam di bagian betis dan keluar darah menetes dari luka itu, Dharma kali ini dapat menghiraukan rasa sakitnya. Semangat membara membentuk karakter kuat!
Hinggap lah lelaki dewasa itu di cabang pohon jati, dirinya berpijak dan berdelik tajam ke bawah, mengamati menunggu mahluk jahanam keluar dari persembunyiannya. "Atur nafasmu Dharma! Tenang, dan berpikir," seuntai kata untuk menyemangati diri sendiri.
Dari lubang bekas kaki Dharma menancap, keluar tangan dan seolah-olah ingin menggapai keberadaan Dharma di atas, pada saat itu Dharma terdiam dan desisnya tidak akan tergapai ke tempatnya, namun dirinya terkaget-kaget ketika tangan hitam pekat itu mulai memanjang dan elastis ingin menerkam Dharma.
__ADS_1
Dari belakang Dharma berdiam, terasa hawa berhembus pekat terbawa semilir angin mengalir mahluk mendekati, dengan sigap pendekar muda itu menengok ke belakang secara tergesa, seketika mata melotot keluar tak kuasa menahan pikir bahwa mahluk lawannya itu sudah berada di belakang dan siap membogem Dharma.
Karena tidak ada waktu menghindari serangan, Akhirnya Dharma terkena pukulan serius di bagian wajah dan terpental jauh ke bawah. Di depan pohon bambu ternyata ada mahluk lain sedang menunggu Dharma terlempar kearahnya sambil membuka lebar kedua tangan ingin menangkap tubuh Dharma sekaligus berniat meremukkannya.
Diseperkian detik Dharma terhempas, dirinya melihat ke arah depan, dan mendapati musuh ada di depan, tanpa banyak pertimbangan lagi Dharma mengeluarkan jurus dalam kondisi terkena serangan. Serangan Dharma ini adalah jurus "balimbing buruk". Nama jurus itu terinspirasi dari fenomena alam, yaitu buah belimbing tengah terjatuh ke tanah karena busuk.
__ADS_1
Menyerupai bentuk belimbing yang memiliki sudut runcing, dan berputar ketika terkulai ke tanah, jurus ini juga seperti itu. Memposisikan golok sejajar dengan kepala lalu memutar mengikuti arah tembakan yang dikeluarkan musuh, jurus ini mirip torpedo menghantam benda keras.
"DUUUAAGGGGG......." suara hentakan jurus Dharma ke raga musuh didepannya diikuti asap mengempal mengelilingi tubuh musuh sampai memburamkan jarak pandang lawan di atas. tadi.