GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
ABAH


__ADS_3

"DHARMA!" teriak Ansel dengan langsung menghampiri dharma yang sudah tergeletak tak berdaya.


Ansel berdenging pasrah. Raut wajahnya mendadak berubah, melihat kondisi dharma yang pada saat ia membuka baju kumuhnya, terdapat bekas sayatan cukup dalam juga besar di area dada.


Dharma masih tak sadarkan diri. panca hanya terpasung memandangi kondisi tubuh kakaknya. Lantas Ansel tergesa membawa kotak peralatan medis, yang di dalamnya terdapat obat-obatan herbal.


ketika Ansel mulai menyusuri bagian tubuh mana saja yang mendapati luka lain dengan teliti, seketika hatinya berguncang hebat. Diikuti panca yang juga bergedik melihat kondisi raga kakaknya yang seperti sudah melakukan peperangan.


Punggung dharma banyak bekas luka kecil. Praduga Ansel mengira bahwa dirinya terkena ranjau paku ketika terjatuh.


Denyut nadi dharma mendadak berdetak pelan. panca dari belakang tubuh dharma yang terbaring di lantai hanya memperhatikan Ansel sedang mengobati kakaknya. tanpa tahu bahwa kakaknya sedang mengalami kondisi koma.


Di luar itu, ternyata dharma tengah dibawa ke dimensi yang berbeda. Suatu ruang yang tidak akan terjamah oleh manusia di zamannya.


Ketika mata masih terlelap, dharma mendengar orang yang bercakap-cakap ramai, sehingga ia penasaran dan langsung membuka matanya. Tak disangka dharma bangun di tempat yang berbeda, seingatnya dia sedang menuju rumah Ansel untuk mengecek adiknya.


Namun kini dharma malah tersesat dan tidak mengetahui di mana sedang berpijak. Cengkerik tak pernah terpampang sebelumnya, angin semilir terasa sangat sejuk di tempat ini.


hiruk-pikuknya alam membuat dharma menyeringai lebar ketika sesaat ia memandangi kondisi alam di sekitarnya. Terpikirkan bahwa tadi dharma mendengar orang sedang berbincang seru, tapi ketika ia membuka matanya malah dharma merasa tidak ada siapapun di sekelilingnya.


Pohon-pohon menjulang tinggi membatasi jarak pandang dharma, Keremangan sinar matahari membuat ia harus bergegas pergi dari tempat itu.


sederet langkah tercipta, dharma berjalan celingukan mencari seseorang untuk ditanyai di manakah ia berada.


Ada sebuah jalan yang tampak lenggang di depan tapi terhalangi oleh belukar yang sangat lebat. Sedikit terpaku,dan berpikir sejenak. Dharma melihat bahwa belukar itu dipenuhi banyak duri tajam.


Sorot matanya memandang akar kayu yang tergantung di atas. Sekolebat ide mulai berhamburan dibenak dharma. untuk menuju jalan itu ia harus berayun mengikuti alur akar kayu agar bisa melewati belukar.


Upaya dharma akhirnya berhasil, ia mampu dengan mudah melarapkan apa yang telah terpikir.


Ruas jalan yang dipenuhi jejak kaki manusia mulai merangsang dharma untuk mengikuti kemana jejak itu akan berakhir.


Dharma cukup terkesima tatkala melihat sebuah jalan yang rapih, yang kini sedang ia susur untuk menemukan titik akhir dari tapak kaki yang membekas di jalan itu.


Langkah demi langkah mengantarkan dharma menuju gerbang pemukiman warga. Gerbang terbuat dari batu hitam yang membentuk sebuah bangunan kecil mirip seperti pura yang dia lihat di desa Ansel.

__ADS_1


pantulan cahaya menyoroti wajah dharma dari balik rumah. Itu seperti kode yang ingin agar dharma menghampirinya. Kode itu berhasil membuat dharma beranjak mendekati asal-muasal pantulan cahaya itu muncul.


Ada selinting gurauan terdengar ketika dharma berhasil mendekati pantulan cahaya itu.


"Akhirnya kau kesini," berbicara dengan nada seperti seorang komedian.


Dharma langsung menjawab gurauan itu walaupun terbata.


"Siapa di sana?" ucap dharma.


"Kesini..... cu! Abah mau ngomong."


"Abah?........ Abah siapa?" mengkerutkan jidatnya.


"kesini cuuuuuu!" kembali memanggil dharma.


Karena dharma adalah tipekal orang yang penasaran, ia lantas menghampiri suara itu dengan buru-buru.


Suara itu berasal dari rumah kecil, atau bisa dibilang sebagai gubuk. Dindingnya dianyam sangat rapih. Bahan dasar anyaman itu terbuat dari bambu kuning yang sudah tua. hingga menghasilkan sebuah seni di dalamnya.


Ada seseorang tengah duduk di atas kursi kayu. Seseorang itu berperawakan gempal, di kepalanya terhiasi topi bundar atau yang lebih dikenal dengan 'dudukuy'. Dudukuy sering dipakai petani untuk pergi ke kebun, guna melindungi kepala dari sengatan matahari.


Jenggot panjang yang penuh dengan uban memperkuat bahwa seseorang itu sudah tua. Dia langsung berseru pada dharma yang baru saja masuk ke gubuk kecilnya.


"Kesini, silahkan duduk," mempersilahkan dharma untuk duduk di kursi yang telah disediakan.


Dharma pun duduk tegap, ia langsung ringkuh dan menundukkan kepala.


"Iyah bah." jawab dharma.


"Akhirnya kamu datang..... Abah hanya ingin berpesan ke kamu, tolong pelajari kitab yang sudah terkubur di bawah pohon jati di dekat lapang. Jika kamu tidak paham apa isinya coba tanyakan pada si Kasmin!"


"Kenapa Abah tiba-tiba nyuruh saya belajar kitab itu? Dan siapa Kasmin. dharma tidak mengenalnya."


"Itu..... Yang semalam mimpin hajat lembur!" suara Abah itu sedikit mengeram.

__ADS_1


"Hajat lembur?…..." Sungguh dharma sangat kebingungan dengan perintah Abah di depannya. Dia tidak mengenal Kasmin, Dan juga belum melihat pohon jati di dekat lapang. Karena masih penasaran dharma kini bertanya.


"Abah siapa?" memandang sorot mata Abah.


"Tidak usah tahu siapa Abah. Yang penting kamu bisa belajar. Kamu dipilih oleh Karuhun kita untuk meneruskan tekad mereka juga memperbaiki zamanmu yang sedang kacau-balau."


"Apa yang harus saya pelajari bah?"


"pertama, pahami inti kitab itu. Selanjutnya baru belajar usik!"


"Usikk itu apa," dharma menggeleng pasrah dengan istilah-istilah yang Abah itu ungkapan. ia sangat melongo ketika mendengar kata 'usik' yang dimaksud.


"Tanya ke si Kasman. Pengen belajar usik..... nanti juga kamu tau,"


Selepas mengatakan itu Abah mengucapkan rasa terimakasih sudah mampir ke alamnya.


"Terimakasih, kamu sudah datang kesini. Ingat pesan Abah. Jangan pernah berhenti menurunkan semangat kamu untuk bisa merubah tatanan negara ini."


Nasihat yang beruntun sedikit membuat dharma meraung-raung karena tidak paham. Tapi ia mengingat nasib yang menimpa. sebagaimana bahwa perang sangat mempengaruhi dampak ekonomi sosial masyarakat.


Dharma peka terhadap keresahan masyarakat. juga menangis meratapi umat manusia yang mengalami degradasi berpikir sehingga berani memakan sesama.


Panca berteriak lantang memanggil nama kakaknya. "DHARMA....." Sampai-sampai suara teriakan itu terdengar tetangga sebelah.


seruan adiknya memanggil dharma ternyata masuk ke dalam dimensi dimana dharma berada. Dharma langsung menoleh ke samping dan memejamkan mata.


perbawa di rumah Ansel ternyata dapat menarik dharma dari dimensi itu, dengan pemetriknya yaitu teriak Dharma barusan.


"HHHHHHH...." Suara nafas dharma. dia sudah bangun dan kembali ke ruang dan waktu yang sama dengan Ansel dan panca.


Ansel tersontak kaget. Dharma bangun dari komanya. seraut wajah dharma terlihat bingung. Dan hal itu sangat membuat Ansel tidak bisa membedah pikirnya.


kalap yang menyiratkan fenomena itu akan mengantarkan dharma untuk terus belajar dan bertumbuh agar bisa memperbaiki tatanan negara yang kini sedang hancur.


TUNGGU PART BERIKUTNYA<3

__ADS_1


__ADS_2