
"Coba ke sini dharma!" seru paman yang merupakan guru dari dharma.
"Eahhhhh......eeeahhhhh.....eeeeahhhh," Suara nafas dharma yang mirip seperti cengkerik ayam sedang sakit tenggorokan. Dharma menengok setelahnya, kunci keyakinan meraba Sukma yang suci, keringat bercucuran sangat deras, terkadang matanya sering kelilipan air yang begitu asin sehingga membuat mata yang putih pekat berubah memerah macam apel yang menjatuhi kepala Isaac Newton, tak kuasa menahan perih dan letih ketika berlatih, dharma akhirnya membalas seruan kasian dari sang guru dengan langsung berdiri tegak mengganti posisi tubuhnya.
kepala menatap ke langit, rongga mulut terbuka lebar, ditutur kerja paru-paru yang berdebar kencang mirip bom di timur tengah buatan Amerika. "Apakah latihan hari ini beres guru?" menatap lelah dengan memasang muka melas pada paman yang tengah sumbringah ditemani kunang-kunang cantik di sekitar lampu cempor.
"kalo kamu merasa cukup ya beres, kalo belum merasa cukup ya latihan lagi sampe subuh,"
__ADS_1
"cukup guru... Ha!" pantas saja dharma tertawa terpaksa, pernyataan gurunya itu membuat matahari enggan untuk bersinar esok hari. Lantas dharma dengan ringkig kaki pelan mulai menghampiri gurunya itu.
Pernyataan paman yang mengatakan sampe subuh menunjukkan bahwasanya keadaan hari sudah sangat larut sore, ditambah kunang-kunang yang mulai bertebaran kini menjadikan dekorasi alam semakin indah, sinar yang tertutup rapat oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi mempertanyakan unsur hara disekitar tanah masih sehat atau tidak? penyerapan oksigen yang dilakukan secara besar-besaran oleh para pohon membuat dharma pusing tujuh keliling, derap langkahnya dipenuhi keremangan hitam yang seolah-olah tertegun diam di penglihatannya.
Sedikit demi sedikit posisi tubuh dharma semakin tertarik ke bawah, tumpuan kakinya bergetar, dan sepertinya dharma sudah kehabisan energi untuk melangkah ke depan. Buram lah matanya, habislah tenaganya, dan akhirnya dharma tergeletak di tanah untuk pertama kalinya dalam keadaan menjadi seorang pria sejati. Tapi hal itu dapat dibantah seketika, dengan kesaktian sang guru, dirinya dapat berpindah tempat dalam seperkian detik yang langsung merangkul erat murid satu-satunya itu.
Dharma tidak membalas, dirinya hanya kuat untuk menyodorkan tubuh yang sedikit berotot itu pada gurunya.
__ADS_1
Malam yang dingin akhirnya singgah. Dharma sudah bugar, otot-otot yang tadi telah dirobek dengan kesengajaan sekarang sudah kembali seperti semula kala, karena air hangat itu membuat peredaran darahnya kembali normal, masa otot kembali menyembuhkan diri, dan tentunya dharma sudah siap diajak berbincang tengah malam dengan diselimuti kejenakaan sang guru.
Ada salah satu kebiasaan masyarakat Sunda dahulu ketika bulan sedang bersinar terang, ketika malam tengah meniupkan angin rindu pada setiap insan yang memiliki asmara. Ketika itu pribumi Sunda lebih senang untuk bergadang, tapi ini bukan tentang lagu Rhoma Irama yang bergadang tidak ada gunanya, melainkan suatu proses peningkatan daya pikir dengan melibatkan psikologis, biologis, emosional, serta memori inteligen untuk menjaring semua diskusi yang tengah terjadi.
Menyangkut psikologis para tokoh itu sering berdiskusi sambil merokok, karena kebanyakan orang-orang yang melakukan proses ini adalah lelaki, sehingga merokok sudah termasuk ke dalam kebutuhan psikologis. Biologis adalah ketika mereka sedang berembuk membicarakan sesuatu hal, selalu saja tersuguh rapih makanan di tengah tempat mereka duduk, maka untuk ini makanan tersebut masuk ke dalam biologis manusia.
berbicara tentang emosional sudah pasti ketika para mahluk pemikir ini telah satu frekuensi maka pada saat itu juga emosional mereka telah terikat dalam satu batang tubuh yang sama, yaitu; cinta dan kasih. Yang terakhir adalah memori inteligen, elemen ini sangat penting dibawa, karena setiap individu saling melempar pertanyaan, nah maka memori inteligen sangat penting untuk mengindentifikasi sesuatu perkara yang sedang mereka kemukakan.
__ADS_1
Proses atau ritual ini disebut "Ngabungbang"