GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
MEDITASI


__ADS_3

"apa itu diri?...... Apakah diri merupakan bagian dari komponen tubuh, atau mungkin diri adalah sebuah dzat yang di luar kapasitas manusia?" Akhirnya dharma mulai membedah makna dari diri, agar bisa menjadi sebuah pintu untuk menjelaskan kepada sang tertua.


Hujan masih turun deras disertai kabut tebal yang menggulung semua benda disekitarnya. Sepenggal pertanyaan kini tercipta dari diri, bahkan ribuan ketidaktahuan bersemayam dalam benak dharma.


"kenapa ada JATI DIRI, sedangkan tidak ada JATI JIWA dan JATI BADAN. Apa bedanya antara MEMBERSIHKAN BADAN, MEMBERSIHKAN JIWA dan MEMBERSIHKAN DIRI?


Apa bedanya KEKUATAN BADAN, KEKUATAN JIWA dan KEKUATAN DIRI?


Kenapa ada istilah KESADARAN JIWA dan KESADARAN DIRI sedangkan istilah KESADARAN BADAN tidak ada?


Kenapa ada istilah SEORANG DIRI tetapi tidak ada istilah SEORANG BADAN dan SEORANG JIWA?


Kenapa ada istilah DIRI PRIBADI sedangkan istilah BADAN PRIBADI tidak ada, demikian pula istilah JIWA PRIBADI menjadi rancu?


Kenapa ada istilah KETETAPAN DIRI dan KETETAPAN JIWA tetapi tidak ada istilah KETETAPAN BADAN?


Kenapa ada istilah BERAT BADAN tetapi tidak ada istilah BERAT JIWA dan BERAT DIRI?


Kenapa ada istilah BELA DIRI sedangkan istilah BELA JIWA dan BELA BADAN tidak ada?


Kenapa ada istilah TAHU DIRI tetapi tidak ada istilah TAHU BADAN dan TAHU JIWA?


Kenapa ada istilah JATI DIRI sedangkan istilah JATI BADAN dan JATI JIWA tidak ada?


Apa bedanya antara kata BER~BADAN, BER~JIWA dan BER~DIRI?


Kenapa ada istilah BER~DIRI DENGAN SEN~DIRI~NYA tetapi tidak ada istilah BER~BADAN DENGAN SE~BADAN~NYA dan BER~JIWA DENGAN SE~JIWA~NYA?


Kenapa ada istilah ANGGOTA BADAN tetapi tidak ada istilah ANGGOTA JIWA dan ANGGOTA DIRI?" keresahan akan jawaban yang membeludak keras di kepala Dharma Sampai-sampai keningnya berubah menjadi memerah.


beribu pertanyaan belum sempat semuanya dikumandangkan, apalagi ketika dharma menyambungkan antara, Sukma, raga, hati, dan perasaan. Tentunya dharma akan pusing kepalang memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.


keberadaan diri membuat selewengan argumentatif liat bermunculan. ketika dharma mulai menyelami alam diri semakin dalam, lalu membuka tirai portal alam pikir, dharma menemukan seonggok kerancuan yang tidak bisa dijawabnya.


Suasana alam mendukung dharma untuk belajar dari tulisan-tulisan tuhan. hawa dingin yang menembus pori-pori kulit dijadikan alternatif media untuk dirinya bisa konsentrasi dalam memposisikan semua panca indera agar memaksimalkan fungsinya.


kedua mata dipejamkan, kakinya naik ke atas kursi lalu disilangkan, kedua tangan disodorkan di atas dengkul yang sudah dilipat. posisi tubuh seperti ini adalah meditasi.


Dan benar saja, semua panca indera mendadak hening, sekaligus dharma bisa dapat dengan mudah berkonsentrasi untuk menemukan titik terang yang tergamang megah di dalam fantasinya.


"jika benar diri itu bukan bagian dari tubuh manusia, lantas bagaimana dia bisa masuk menyeluruk hinggap di tubuh ini." proses dharma ketika sedang membuka portal alam diri.


Semakin dalam dharma mendobrak masuk, semakin dirinya bertanya-tanya dari manakah diri itu?


Cur pulung Mandala Agung,-


Mandala Sastrahing Jendra,-

__ADS_1


Mandala Hayuning Ratu,-


Mandala Pangruwating Diyu,-


Mandala jatining rasa


Geus ngucur jati rahayu,-


Jati Langit Lohing Mahpud,-


Nitis Bumi Loh Jinawi,-


Nitis sumereping ati,-


Ati kula ati Sunda,-


Matarema Insun – Dia,-


Ati rasa nu sajati,-


Nu ngancik na jero diri.


Pur ngempur cahyahing Mandalajati,


nu ngebrak gilang gumilang,


Nu hurung jero kurungan


Nu nyaangan Pawenangan


Sastrahing Jendra Hayuning Ratu Pangruwating Diyu


PANGGUMULUNG “keun upayakeun” Mandala Jati


kana “kun fayakuning” Mandala Agung.


Rep rerep sumerep-hing gumulung nyarungsum balung


Tis nitis tumitis-hing ngagetih ngaati


Jleg ngadeg Sastra-hing Jendra


Hayun-hing Ratu Pangruwat-hing Diyu


Nyurup ngamanusa Sunda


ada sesuar suara menyeringai lebar masuk di pendengaran dharma. dharma menyimpulkan bahwa itu adalah syair petunjuk baginya. Tapi bagaimana dharma bisa tahu arti dari syair itu, sedangkan bahasa yang diucapkan baru pertama kali dia dengar.

__ADS_1


"sebentar, ko ini mirip yah bahasanya kaya rajah uyut." sepenggal jawaban kini ditemukan. bahwasanya dharma harus mengetahui jenis bahasa mana yang uyut lontarkan ketika sedang menjalani prosesi rajah.


Tidak menyadari bahwa siang sudah berganti malam, dan hujan kini telah reda. meditasi dharma sangat sungguh sampai waktu bergerak cepat.


"PUKPUKPUK....." suara tepukan tangan orang lain, yang ingin membangunkan dharma dari meditasi nya.


Seketika dharma membuka matanya, sorot mata langsung tajam mengarah kepada seseorang yang membangunkan nya. Tidak disangka seseorang yang telah membawa dharma kembali ke dalam kesadaran dunia adalah adiknya sendiri yang risau karena kakaknya belum juga kembali ke tempat Ansel.


"Kaka kenapa?" panca sangat kaget, dirinya langsung dipelototi oleh dharma.


"ehhh, maap panca.... gaaada apa-apa ko." jawab dharma.


"Kaka belum pulang, panca dari tadi nyariin Kaka. kata ka ansel, Kaka lagi di rumah kosong deket lapang,"


"ka Ansel tau dari mana emang?" dharma bangkit dari posisi meditasi nya.


"gatau. ka Ansel tau dari mana."


"ya udah, sekarang kita pulang aja yah ke rumah ka Ansel. udah malem tuh," dharma merangkul pundak panca dan membawanya pergi untuk pulang.


sesampainya mereka di rumah Ansel, dharma bertanya langsung ke Ansel yang pada saat itu Ansel sedang membereskan wadah obat-obatan yang sudah dipakainya tadi.


"kamu habis ngobatin orang?" tanya dharma.


"Kamu kemana aja? panca nanyain terus loh dari tadi."


"neduh tadi di rumah orang."


"ko ga ngabarin sih,"


"gimana ngabarinnya!"


"jangan ngegas dong,"


"ya udah atuh, ko kita jadi berantem gini," dharma beranjak duduk di kursi yang ada di rumah Ansel.


"kamu udah dibolehin tidur di sini sementara, tapi kamu paling tidur kursi." ujar Ansel.


"gapapa deh yang penting bisa tidur," dharma langsung saja memposisikan tubuhnya untuk tidur di kursi.


"nah kalo kamu panca, tidur sama Kaka yah!" melihat wajah panca.


"kebagean enak Mulu anak jigong," seru dharma di dalam hatinya.


ketetapan tertua desa sangat bijaksana. pasalnya semua hal yang dilalui oleh dharma sejak ia dan adiknya tiba di desa ini, tidak lepas dari jangkauan tertua desa.


Dari mulai perayaan tahunan pun, tertua desa sudah menyadari keberadaan orang asing di desanya. sehingga keputusan yang bertahap dikemukakan oleh dirinya agar melihat keseriusan dari dharma yang sedang mencari makna hidup.

__ADS_1


Senandung ayam berkokok lantang menghiasi pendaran sinar matahari yang timbul. namun suara itu tidak cukup untuk membangunkan dharma dari tidur lelapnya.


sedangkan Ansel sudah beraktifitas di luar rumah. setiap shubuh Ansel sering membawa air dari sumur di dekat rumahnya. dia memburu kosong, karena ketika pagi datang, ibu-ibu tetangganya akan segera pergi mengambil air untuk persediaan di rumah.


__ADS_2