GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
TUMPUKAN MAYAT


__ADS_3

Tangis panca kian mengudara bak pesawat z yang terbang di angkasa, Ansel meratapi semua kerusakan benda disekitarnya. kejadian ini telah berulang hampir tiga bulan sekali, pada saat masyarakat yang lain tidak memasok kebutuhan biologis, maka upaya penjarahan dilakukan.


Ratusan orang tadi adalah para kelompok anarkis yang sering datang ke wilayah-wilayah subur, dan dipenuhi SDM yang masih sehat. hingga perbuatan mereka seringkali terdengar kepada warga, khususnya masyarakat di desa Ansel berada.


"ka dharma kemana?" panca menangis melihat bahwa kakaknya telah hilang entah di mana.


"Panca kamu harus kuat..... kakakmu nanti pasti pulang ko, jadi kamu tenang yah," Ansel mengusap-usap rambut panca sembari menenangkannya.


Banyak anak panah tertancap diretapan rumah warga, namun anehnya anak panah itu tidak ada yang mampu membakar benda di sekitar. alhasil rumah warga hanya mengalami kerusakan ringan saja, seperti bolong-bolong kecil pada dinding rumah mereka.


Resi itu masih bersemayam di raga dharma, beliau tidak langsung pergi, melainkan mengorak-arik bangkai musuh yang telah terkapar tanpa ruh. entah apa maksud dari resi itu, yang pasti warga desa sejak keluar rumah masih memperhatikan tingkat lakunya dari kejauhan.


"zaman apa ini, aku langsung tertarik ke dalam tubuh manusia lalu disuruh berperang. mereka mempunyai pasukan yang sangat banyak, akan tetapi mereka semua hanya sebatas semut saja!" ucap resi itu.


Ternyata masuknya resi ke dalam raga panca bukan karena kemauannya sendiri, melainkan ada frekuensi kuat yang menariknya dari dimensi berbeda. sehingga ketika resi itu tiba di zaman dharma, hasrat kehidupannya langsung muncul.


Tatkala melihat banyak sekali anak panah api berhamburan di atasnya. resi yang sudah lama tidak berbaur dengan peperangan mendadak antusias lagi. dan langsung membantai habis musuh di depannya.


satu jam ternyata telah berlalu, kebingungan resi melihat mayat musuhnya membuat dirinya tidak sadar bahwa, ada banyak orang dari kejauhan sedang melihat tindakannya.


menoleh lah resi itu ke arah masyarakat desa. pernak-pernik di tubuhnya sangat membuat warga desa kagum, ternyata apa yang dipakai resi di badannya merupakan emas murni yang sangat mahal nilainya.


Sehingga ketika emas murni terkena sinar matahari pagi, pantulan cahayanya akan menyeruak masuk ke dalam penglihatan setiap warga desa.


Karena sudah berlama-lama tinggal di zaman dharma, dan juga tenaganya sudah hampir habis, resi itu kemudian menancapkan pedang Ki mastak ke tanah. pancaran terang keluar dari pedang itu, sehingga tubuh resi seketika tertutupi.

__ADS_1


kini dharma sudah kembali. tubuhnya tidak menyerupai pakaian kerajaan, serta kesadarannya mulai datang secara jelas. namun semua tenaga dharma mendadak melemah, dirinya tidak kuasa berdiri.


dharma pada akhirnya ikut terbaring bersama ratusan mayat yang telah termutilasi oleh resi tadi.


"bau apa ini....... kenapa banyak darah di sini?" kata dharma di dalam hatinya, tengkurap lemas.


Orang-orang desa mulai mendatangi ratusan mayat itu, mereka masih terheran-heran kemana perginya seseorang yang dipenuhi oleh pernak-pernik perhiasan kerajaan.


karena rasa pertanyaan kian membeludak, akhirnya mereka berinisiatif mendekat, begitu juga Ansel dan panca.


insting panca menjerat keberadaan kakaknya. panca yakin bahwa kakaknya sedang berada di antara para mayat itu.


"ka Ansel.... ayo kita liat kesana! pasti ada kakak di sana," ujar panca, kini dia telah berhenti menangis.


"apa, kamu bilang apa panca........ gamungkin dharma ada di sana," Ansel adalah orang dewasa, ia memperkirakan bahwa dharma tidak ada di sekitaran sana, melainkan masih bersembunyi di area desa.


"tapi kamu jangan nangis yah, kalo udah ada di situ,"


karena panca sangat memaksa, Ansel sudah tidak mempunyai alasan untuk menolak. dan mereka pun berjalan seiringan dengan warga yang mau ke tempat tersebut.


seperti organ dalam yang ditarik keluar dengan paksa oleh rantai besi, mereka semua sangat tercengang melihat ratusan mayat yang sudah tak utuh raganya.


ada yang menghilang kepalanya, ada juga yang tubuhnya tersayat-sayat begitu dalam sampai tubuh mereka sudah tidak berbentuk lagi.


Ansel juga panca mengalami shock yang serupa, mereka terdayuh tergamang di dalam Mega mendung perasaan. namun anehnya panca tidak merasakan kaget yang berlarut, dirinya malah pergi diawasan Ansel yang tepat memegang tangannya.

__ADS_1


Ansel tidak mengira bahwa panca yang telah melepaskan genggamannya. hal itu merupakan sebuah konsentrasi dasar terhadap keadaan emosional yang berubah dalam sesaat.


celingak-celinguk mencari keberadaan Kaka tercinta, panca dengan tergesa menyusuri setiap mayat yang terdapat di hadapannya. ketika sudah beberapa puluh meter dari keberadaan Ansel, panca melihat ada seseorang yang tidak terluka sama sekali.


lantas dia mendekati tubuh itu yang terhalang oleh tiga mayat yang menumpuk. Sungguh apa yang dilihat panca sangat meleset, ternyata tubuh yang terlihat tidak memiliki luka di punggungnya dan mengira bahwa itu adalah dharma kakaknya merupakan orang yang berbeda.


"jangan-jangan ini kakak," panca membalikkan tubuh seseorang yang sedang terkurep.


Meledak semua prasangka panca. tubuh yang terlihat baik-baik saja memiliki luka yaitu lubang besar yang membodal-badel semua isi perut orang itu.


panca seketika ingin muntah melihat darah yang keluar dari perut seseorang itu, dan juga semua isi perut sudah tercampur dengan tanah.


Lama kelamaan Ansel menyadari panca tidak berada di sampingnya. semua orang yang menghalangi ruang Ansel untuk melihat keberadaan panca mulai ia tubruk dan singkirkan. Ansel berlari tak karuan, perasaannya sekarang tidak tentram.


pasalnya untuk saat ini banyak penculik yang sering memanfaatkan fenomena seperti ini untuk menculik anak kecil. yang kemudian semua organ anak kecil itu akan dijual ke kota dengan harga yang murah.


penjualan organ dalam anak kecil sangat marak sekarang, pemikiran manusia zaman ini sangat mengesampingkan moral mereka hanya untuk bertahan hidup dan kepentingan pribadi.


Di paling pojok hutan Ansel sudah mendeteksi keberadaan panca yang sedang muntah tak berhenti-henti. Lantas Ansel langsung berlari menghampiri panca yang tengah muntah.


"panca kamu kenapa?" memegang punggung panca.


panca masih saja muntah. "ini....ka...liat....orang ini....UUUUABABH" panca menunjuk tubuh yang membuat dirinya muntah.


Ansel terkejut, kini dirinya menyadari kenapa panca muntah. Ansel akhirnya ikut menahan muntah, sambil menutup mulut rapat-rapat.

__ADS_1


"panca liat, kamu ngapain mau ke sini. di daerah sini gaada kakak kamu," Ansel meyakinkan panca untuk pulang dan menunggu kakaknya di sana.


"gamau! panca masih mau cari kakak di sini. Kaka pasti ada di sini. ka Ansel kalo mau pulang, pulang aja sana. panca masih pengen cari Kaka!" intonasi panca sangat tinggi, sampai urat dikenangnya sedikit menjalar keluar.


__ADS_2