
"Apa yang kamu ketahui tentang manusia?" satu pertanyaan awal yang membuat dharma langsung menyangga pelipis kepalanya dengan tangan. Dharma tertegun mendengar suatu ungkapan rasa yang harus ditelaah secara berlebih oleh jiwa, karena lontaran pertanyaan ini mencakup semua komponen tubuh termasuk Sukma.
"Manusia adalah saya," ucap dharma, menjawabnya sembari menunduk malu.
"Jangan terlalu tergesa dharma, ayo makan singkong ini," sang paman yang merangkap menjadi guru itu menyodorkan singkong rebus yang masih berasap pada dharma.
"AWWW!" Dharma kepanasan ketika langsung saja menerima tawaran gurunya.
"tiup dulu atuh, kan itu baru mateng," begitu juga paman yang langsung membawa singkong dan mempraktekkan agar tidak terlalu kepanasan dalam memakannya.
__ADS_1
"Emang sehat yah makanan ditiup dulu?" Baru juga hendak membuka mulut, paman menyudahi pergerakannya dalam memakan singkong tersebut, karena pertanyaan dharma berhubungan dengan kesehatan, lantas paman mengajukan pertanyaan yang kembali memiliki makna filosofis yang sangat dalam.
"Emang manusia selalu sehat?" tatap tajam mata dharma, sang paman membentuk eskpresi serius sembari terus memegang singkong di tangganya.
"Maksud paman apa?"
"Manusia, adalah makhluk suci! semua perbuatannya merupakan kehendak sang maha kuasa, tapi kenapa manusia malah menjadikan peperangan di mana-mana sehingga dampak daripada itu membuat kita sengsara pada akhirnya," mungkin dari sepenggal pertanyaan dharma membuat sayu-sayu khayalan bergejolak datang, terdapat penghubung antara pertanyaan paman pertama dengan balasan ketidaktahuan dharma dalam bertanya, ini merupakan sebuah kehebatan ritualistik masyarakat Sunda yang selalu saja menemukan senar penyambung antara setiap pertanyaannya.
"Cerdas. Dari sinilah kita tahu bahwa manusia menjadi istimewa karena keberanekaragaman pola pikir yang kaya. Kita bisa membahas tentang kehidupan sekarang, tapi apakah mereka masih acuh terhadap nilai-nilai kemanusiaan?"
__ADS_1
"yang berarti?" keningnya mengkerut. Dharma mulai mengunyah singkong rebus dengan segerombolan semut yang tengah berjalan.
"Yang berarti manusia mulai menunjukkan ritme sakit dharma! lalu di sini kita bisa menyimpulkan dengan seksama bahwa manusia adalah makhluk yang sering sakit karena nasib yang tengah menimpa kita," Diketahui zaman sekarang adalah masa di mana manusia sedang bertarung habis-habisan dengan keadaan. Pasok makanan tidak ada, ruang pendidikan dimusnahkan, kesejahteraan masyarakat kecil mulai dikesampingkan karena kerakusan manusia khususnya para petinggi dalam mengeruk keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi atau hanya sebatas ingin menyelamatkan diri.
"Jadi manusia pada dasarnya adalah mahluk rakus kalo begitu ya guru?" makin kesini obrolan semakin larut dalam keheningan.
"Bukan. Manusia adalah Homo Sapiens, sebagaimana kita sedang berdiskusi di sini. Karena tidak adanya sekolah maka pola pembelajaran seperti inilah yang merupakan salah satu cara untuk kita bisa belajar. Bukan hanya beladiri yang harus kau geluti secara matang, ketajaman dalam berpikir merupakan aspek penting dalam menyokong pergerakan yang akan kita lalui, sehingga kita tidak akan membuat keputusan yang gegabah dan menimbulkan kesalahpahaman bagi orang lain." Uraian penjelasan sang guru sangat absolut, dharma tidak bisa lagi menyangkal pernyataan gurunya itu, dirinya hanya bisa tersenyum lebar ketika menerima fakta bahwa sekarang dirinya sedikit tercerahkan oleh diskusi ini.
"Terimakasih telah memberikan ilmu yang bermanfaat guru, saya semakin yakin bahwa manusia itu adalah gelombang suara yang tidak akan terlihat oleh mata," jawaban dharma membuat gurunya kagum. Dharma kini dapat menjelaskan pikirannya dalam gaya bahasa yang berbeda, entah dari mana dharma belajar gaya bahasa itu.
__ADS_1
Semua pertanyaan dharma merupakan hasil dari pendidikan masa lampau, di mana sekolah masih berdiri kokoh dengan sistemnya yang sehat, bukan seperti sekarang yang dihiasi oleh suara tembakan AK-47.