
Pohon-pohon nyiur melambai-lambai risau, menapaki kaula muda angkat kaki dari hutan hijau nan sejuk, seolah sering berpapasan dan bercengkrama, pohon di sekitaran rumah pa Dalang menggugurkan daun-daun hijau seiring langkah semakin jauh dari jangkauannya.
Dharma mengendong hadiah terakhir perpisahan dari sang guru, tergulung kain hitam membungkusnya tetap terambang di sela-sela tangan. Cuaca sore begitu terik membuat bayangan indah menghiasi jalan setapak, di belakang mendapati pa Dalang masih tak kuasa menahan tangis merelakan muridnya itu menggapai cita-cita.
Sudah beberapa KM Dharma berjalan menyusuri gunung dan lembah ia menapaki rumah kosong dari sudut pandangannya, dirinya melirik dan sedikit tercengang bahwa ada aroma busuk berasal dari rumah tak berpenghuni itu. Sedikit bergeming memperhatikan rumah kosong dari kejauhan dia berpikir bagaimana jika sejenak beristirahat di sana; tapi karena bangunan tua itu mengeluarkan bau menyengat membuat dirinya berpikir dua kali.
"Sepertinya aku harus menginap di sana, hari sudah malam.... Tapi bau apa ini! bau ini berasal dari sana ternyata," Dharma menutup hidungnya erat-erat sembari tertuju pada bangunan kosong itu.
Tidak lama kemudian ada bayangan keluar mengolebat cepat dari pintu rumah, mata pendekar muda ini sudah sangat awas, waspada terhadap segala hal, bukan hanya bayangan aneh, bahkan Dharma dapat melihat semut jatuh dari pohon ketika dirinya menerapkan sikap kewaspadaan. Sikap kewaspadaan ini diberi nama "Waspada Permana Tinggal" setiap pendekar pasti menerapkan ini.
Siulan aneh berdegung kencang, rumah kosong tadi semakin mengguar bau sehingga Dharma hampir tidak kuat menahannya lagi. Pada saat dirinya berbalik dan hendak pergi, Dharma lupa bahwa ada sesosok bayangan keluar dari balik rumah.
Baru saja satu kali melangkah, benda aneh melesat mengarah padanya, Dharma seketika mengetahui dari nada suara, dan langsung mengelak! sedetik sebelum benda aneh mengenai kepalanya
"Bajingan!!! dari mana itu?" ucap Dharma membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Hai pendekar muda! Dagingmu amat bernutrisi...... Hahahaha," intonasinya sangat berat. Suara itu keluar di atas pohon beringin dekat dengan rumah kosong.
"Keluar kau! seorang lelaki tidak pernah bersembunyi di balik dinding," seru Dharma, matanya kini melotot.
"DUAGG......" hentakan kaki menginjak tanah.
Sosok di balik pohon melompat ke bawah, seperti mempunyai bobot tubuh gempal, hentakan kakinya pada saat menggebrak tanah menimbulkan efek cukup besar, tanah pun berguncang sampai Dharma sedikit terjungkal ke belakang.
"Hahahaha....... dasar anak muda! Semangatmu terlalu berapi-api," ucap sosok itu.
"Kau cukup gesit dapat menghindari serangan ku,"
Ucapan sosok itu tidak cukup dari sana, semua perkataan Dharma sudah terbiasa terdengar di telinganya. "inilah aku anak muda! Setengah mukaku terbakar, pakaian lesuh ini adalah karakterku, apa yang kau bilang barusan hanyalah angin belaka, hinaan mahluk sepertimu telah merusuk padaku ribuan kali,"
Jika dilihat persis, sosok di depan Dharma memiliki aroma busuk, inilah asal-muasal bau di rumah tua itu. Perawakannya tidak jauh seperti Dharma, namun dirinya buta sebelah karena luka bakar yang menyeluruh hampir memenuhi semua kepalanya, sampai ia tidak memiliki rambut sehelai pun alias botak. Bajunya mirip gamis berwarna merah, dengan sobek-sobek dibagian bawah mirip kuntilanak merah. Tidak lupa di tangan kanannya memegang tongkat sepinggang terbuat dari kayu jati tua.
__ADS_1
"kita mulai saja langsung permainannya anak MUDA!...." teriak sosok misterius itu sembari melempar tajam tongkatnya ke arah Dharma.
"Hah?" gumam Dharma. Ia mengerutkan keningnya tak percaya bahwa sosok itu dapat melempar tongkatnya dengan kuat.
"DEAGGGG......" Dharma menahan laju tongkat musuh dengan posisi menyilangkan kedua tangannya sebagai bentuk pertahanan. dari pertahanan itu mengakibatkan Dharma terpental jauh ke belakang atas daya serang musuh.
Pijakan kaki menjadi alas pembendungan agar Dharma dapat memberhentikan efek serangan tadi. Tiga meter sudah posisinya sekarang dari garis awal berdiri, ketika lirikan mata menatap bagian dada, ada bekas luka lebam merah menyebar karena hentakan tangannya sendiri terdorong tongkat musuh.
"Apa!" pupil matanya membesar, ia memperkirakan jika serangan tadi tidak ditahan maka mungkin dirinya akan mati dan tongkat musuh dapat menembus dadanya.
Langsung saja Dharma meraba-raba bagian tangan, dan benar saja! lebam di dadanya juga terdapat pada tangan, membuat si pendekar muda ini semakin tertantang untuk bertarung.
"Aku tidak bisa meremehkan mu wahai bangkai hidup!" Ucap Dharma memasang kuda-kuda.
"AAAAAAA......." Akhirnya Dharma berlari terlebih dahulu.
__ADS_1
"Dasar anak muda," juga ditutur sosok misterius memasang kuda-kudanya.