GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
SAYATAN PISAU


__ADS_3

"jangan kaya gitu PANCA!....." Ansel sedikit menyentak panca karena keinginan panca yang menggebu akan kehilangan kakaknya yaitu dharma.


"Ka Ansel ko malah marahin panca....." Panca menangis sekencangnya, sampai orang-orang yang tadi hendak pulang mendadak meleret ke arah panca yang tengah menangis menggaur.


Seperti rongga perut yang terbelit, Ansel langsung mengutuki dirinya karena telah memarahi panca atas sikapnya.


Di luar itu Ansel merenung sejenak, sesuatu hal yang bisa menyakiti hati orang lain, akan terus ia sesali sampai lawan bicaranya memaafkan.


"maap panca, ka Ansel ga sengaja..... yaudah kalo kamu masih pengen cari ka dharma, Kaka temenin yah." ucap Ansel sembari menunduk sejajar dengan tinggi badan panca.


tangan yang dipenuhi tanah basah mulai bergerak, bahu-bahu bergeser ke kiri dan kanan, kelopak mata berkedip kencang tapi apa daya, kuasa hukum wujud tak bisa menahan sakit.


Dharma kini sedikit sadar, tangannya digerakkan memegang sebangku tanah. namun dirinya meringis merasakan sakit di seluruh badannya. seingatnya dia sedang berada di kawasan mayat, namun kali ini dharma malah diikat di pohon dekat sungai yang mengalir.


Sorot matahari terik menyinari dharma, matanya sangat kesilauan memandang langsung ke arah atas.


Di belakang pohon terdengar seseorang tengah mengasah pisau di atas batu sungai.


"SSST.....SSSST....SSSTTT" suara pisau yang sedang diasah agar tajam.


Telinga dharma masih berfungsi dengan normal, sontak ia melirik ke arah belakang, akan tetapi karena pohonnya terlalu besar, dharma hanya bisa melihat kulit kayu yang lembab.


entah siapa dan apa maksudnya, seseorang itu masih saja mengasah pisaunya. Dharma berteriak lantang memanggil pria di belakangnya.


"tolong saya! kamu orang yang di belakang." teriak Dharma.


Namun teriakan dharma seolah bukan pertolongan, tidak ada satupun kata yang terlontar keluar dari mulut pria itu. Lantas dharma berteriak untuk kedua kalinya, berharap kali ini dia menyaut seruannya.


"HEYY...... TOLONG SAYA! SAYA TERIKAT DI POHON INI." intonasi dharma sangat dinaikkan sampai urat lehernya menjulur keluar.


Rimbun pohon serta kicauan burung sedikit menyayat hati dharma, dalam posisi yang bisa dibilang tersekap, dirinya masih merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan ke dalam sebuah kalimat. Hanya perasaan tentram mengerucut keluar dengan mengeluarkan senyuman tipis yang begitu menggoda.

__ADS_1


"Ini di belakang tuh orang bukan sih?" ucap dharma di dalam hatinya.


derap langkah tercipta, sepertinya pria yang tengah mengasah pisau mulai menghampiri dharma yang sedang terikat.


"ahhhh.... akhirnya dia kesini." Tanpa berpikir negatif, dharma sudah menjernihkan pikirannya untuk tidak menyangka buruk terhadap orang lain.


"Kau akan mati!" Seseorang itu mengarahkan pisaunya tepat di leher dharma.


"apa yang kau lakukan, kenapa saya diikat?" dharma menjawab sembari mengkerutkan lehernya ke dalam.


"semua keluarga saya telah dibantai olehmu, sekarang kau harus mati!" pria itu mulai menyayat sedikit demi sedikit leher dharma sampai keluar darah yang sangat pekat.


Dharma mengeram kesakitan, darah bercucuran dari leher mengotori pakaiannya.


"AAAAAA....AAAAA....AAAAA"


"Lehermu sangat halus, dan sepertinya dagingmu empuk," kata seseorang itu sambil menyeringai lebar dan masih melanjutkan menggorok leher dharma.


kini suara dharma sudah melengking, jika dia berkata tidak mampu mengatakan kalimat yang panjang, karena sedikit saja dharma berucap itu rasanya sudah sangat sakit sekali.


Tapi namanya juga manusia, akan terus berusaha untuk selamat dalam kondisi apapun. sirkulasi udara sudah bocor, hingga menimbulkan suara aneh dari leher dharma.


Dharma hanya bisa meratapi nasibnya yang akan tamat setelah ini. darah semakin deras keluar, dharma telah kehilangan banyak darah sehingga itu mempengaruhi kekuatannya untuk bertindak melawan.


sudah sepuluh cm daging dharma tersayat-sayat. kesadarannya melemah, penglihatannya meremang, pendengar tidak jelas, tapi ada satu hal yang tidak bergeser satu jengkal pun, yaitu tekad untuk selamat.


ringkig seseorang berlari menghampiri si tukang jagal yang sedang menggorok dharma, dia sangat cepat bahkan dapat melompat ke atas pohon dalam sekali lompatan. dari pohon satu ke pohon lainnya dia bergerak, seringkali jika jarak pohon satu sama lain terlalu jauh, seseorang itu melanjutkan dengan berderap kencang.


tepat berada di atas pohon dharma sedang terikat, seseorang itu terayun tanpa suara dan tanpa diketahui, sungguh keberadaan orang itu sangat tidak terdeteksi oleh si tukang jagal.


Dalam satu momentum yang pas, orang yang tadi bergelantung di batang pohon, melepaskan cengkeramannya dan sengaja menjatuhkan diri tepat mengenai si tukang jagal.

__ADS_1


sebagai tumpuan jatuh, dia menitikberatkan terhadap ketahanan kaki sebagai organ tubuh yang paling kuat dan memiliki masa otot yang tebal. serangannya bak paku yang dilemparkan dari langit menuju bumi dalam kecepatan cahaya.


"DUAAGGHHRR" Suara serangan yang telak mengenai si tukang jagal dari atas.


efek dari serangan dahsyat tadi membolongi tanah dengan radius sepeluh meter, sampai-sampai pohon yang ada dharma tengah teringat tumbang dibuatnya, dan dharma juga melayang jauh entah kemana.


kehebatan serangan orang tadi memupus harapan si tukang jagal yang ingin melampiaskan hasrat serta dendam akan perbuatan dharma yang telah membunuh keluarganya.


Walaupun dharma tidak tahu siapa yang dimaksud si tukang jagal, tapi tetap dirinya merasa bersalah atas tindakan yang tidak disadari.


seseorang itu bergedik hatinya, tatkala melihat perbuatan si tukang jagal yang tidak manusiawi, hingga dengan kemampuan yang di luar kapasitas normal, ia mempergunakan ilmunya yang sudah sangat jarang dipakai itu untuk membalas perbuatan keji.


sesudah menerima serangan, si tukang jagal bangkit, daya tahan tubuhnya bisa diacungi jempol karena dapat menahan bobot serangan yang bahkan dapat meremukkan batu sekalipun.


"kau siapa HAHH!" ujar si tukang jagal sambil bangkit dari tanah, memegang area yang terkena serangan.


"kau hewan! kau bukan manusia! kau bajingan! perlukah manusia memotong leher manusia lain sambil menikmati?" seseorang itu setelah melancarkan serangan langsung melompat menjauh dari area si tukang jagal.


"ini urusan pribadi. kau tidak perlu ikut campur...... tapi hebat! seranganmu cukup membuat aku terhibur, HAHAHHA! jawab si tukang jagal yang melotot sinis dalam pandangannya.


"ini bukan urusan pribadi, tapi ini tentang kemanusiaan! kau tidak lebih baik dari sampah yang menumpuk di sungai!"


"lalu, orang yang memakan sesama, dan mereka semua berkelompok disebut apa hah? iblis!.


"dunia sudah hancur, pola pikirmu seperti psikopat!"


"susah tidak ada psikopat di zaman sekarang, istilah itu lenyap karena banyak orang yang sudah membelakangi adab."


"dan kau mau sama dengan mereka?"


"cukup orang tua! kau lebih baik mati di sini!"

__ADS_1


__ADS_2