GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
IDENTITAS RAHASIA


__ADS_3

Tengkuk lehernya berfokus pada serangan, intaran energi memutar mengikuti pola tangan berputar-putar kesamping dan ke tengah, macam air tersaji pada selang kayu di rumah. Karena keanehan sikap pasang musuh, Dharma mengira itu adalah jurus tipuan lagi, dengan sekonyong-konyong dia melompat tinggi dan mengeluarkan serangan kaki tanpa berpikir terlebih dahulu. Namun ternyata tongkat musuh malah bergerak sendiri, dan menyerang Dharma ketika masih mengudara.


Prakkk...... Gbragghg


Dharma terkena serangan lalu jatuh ke bawah.


"Apa-apaan dia ini! bisa mengendalikan tongkat dari jarak jauh," desis Dharma dalam hatinya.


Sang musuh hanya tertawa terbahak-bahak, mulutnya menganga sangat lebar, gigi kuning dan taring panjang terlihat jelas dari pandangan Dharma. Ia bangkit dan tengah merencanakan serangan agar tongkatnya tidak bisa dikendalikan. Lirikan mata mengarah ke semua sudut, ternyata tongkat itu entah berada di mana, ditambah keadaan gelap membuat Dharma sangat sulit menemukan letak senjata musuh.


"Aku hanya cukup berdiam saja untuk mengalahkan mu," kata sosok itu. Dia sekarang terlihat sangat santai, menggulung-kan tangganya di dada.


Akhirnya ikatan kain berisikan barang pemberian pa Dalang dicopot, dan menyimpannya di tanah. Pusaka yang terselip di pinggang pun kini sudah berada di tangan, ini menandakan bahwa sang pendekar muda sudah serius dalam bertarung.


"Kali ini aku serius," suaranya pelan, bukti Dharma dapat mengendalikan emosionalnya sekarang.


Gemericik air turun, tidak deras namun cukup untuk membuat pakaian basa kuyup. Pertarungan semakin mencekam, semilir angin pun berhembus kencang, sehelai rambut sedikit terapung. Dalam kondisi seperti ini mereka tetap berdiri memancarkan aura pekat pertarungan. "Begitu juga saya, kau bukan anak biasa! ini terlihat dari semangat bertarung mu," Jawab musuh.


Serangkum energi alam menembus badannya, walaupun kewaspadaan selalu dipasang Dharma, tetap saja dirinya terkejut karena baru merasakan hawa seperti ini.ha


Prak....Prak..... Prak

__ADS_1


Sosok misterius atau si mayat hidup menghentak-hentakan kaki sebelah kanannya, entah serangkai serang apa nanti , namun Dharma hanya terpaku pada tongkat yang dipegangnya saja yang dari tadi dapat dibolak-balik sesuka hati.


Tiba-tiba kilatan cahaya dari atas tubuh musuh mengolebat mengarah pada Dharma, kali ini dirinya meloncat ke samping untuk menghindari cahaya itu; seketika saja musuh berpindah tempat tanpa membuat sebuah suara sedikit pun, sangat cepat. Ia dapat melewati ruang dengan sekejap mendekati Dharma dan langsung saja menendangnya di bagian rusuk sampai memburamkan penglihatannya


"kenapa dia cepat sekali!" desis Dharma menggelinjang kesakitan.


Tak sampai di sana! setelah menendang agaknya akan kurang jika harus mundur langsung, sehingga musuh itu melancarkan serangan bertubi-tubi dari pangkal kaki sampai kepala menggunakan tongkat saktinya. Saking cepat serangan musuh, Dharma hanya bisa berdiam dalam posisi sikap bertahan memegang kepala.


"Tunggu serangan balik ku ini!" kata Dharma dalam hatinya.


Banyaknya serangan yang diterima membuatnya paham alur serangan musuh, pada momentum yang telah diprediksikan, Dharma menangkis tongkat musuh dan memegangnya erat-erat. Setelah terpegang, dirinya mengumpulkan semua tenaga dan menyimpan pada jari-jemari, hendak mematahkan tongkat dengan cara meremasnya.


Tongkat pun patah! Gemulum senyum terpancar di mimik muka Dharma. "Rasakan serangan ku ini bajingan!" teriak Dharma, memukul langsung musuh di kepala sampai terhempas jauh.


Dug....... Braggg


"euuu....." dari mulut musuh keluar darah mengucur. Pelipisnya muncrat dengan darah serta dirinya hanya bisa terenyak duduk menahan perih pukulan Dharma yang seolah menusuknya menggunakan senjata tajam.


Prak prak prak prak


"ini yang kau lakukan tadi?" ujar Dharma sedikit memancing, mengebrak-gebrakan tanah.

__ADS_1


"Kau sudah tahu ternyata," jawab musuh, walau mulutnya tersedak darah.


"Ini adalah teknik yang pernah aku latih bersama guruku, teknik ini merusak dua panca indera; penglihatan dan pendengaran. Dengan menyelipkan Tenaga Dalam menembus tanah sebagai pijakan musuh untuk bisa mengacaukan konsentrasinya. Aku tahu bahwa kilatan cahaya tadi hanya ilusi belaka, akupun mengetahui bahwa kau sudah bergerak maju setelah tiga kali menginjak-injak tanah, dan pada akhirnya musuh mengira bahwa kau bergerak sangat cepat, padahal yang dia lihat setelah kilatan cahaya muncul hanyalah halusinasinya," penjabaran teknik yang dipakai olehnya sangat membuat musuh tercengang.


"Dari mana kau tahu teknik ini......! Siapa gurumu?" tanya musuh membentuk eskpresi marah.


"Ha ha ha...." tawa Dharma menghina.


"sebelum ku jawab siapa guruku, aku ingin tahu siapa namamu?"


"Apa untungnya mengetahui namaku!"


"Apa untungnya juga kau mengetahui guruku," ucap Dharma yang semakin meledek.


"Aku sudah tahu siapa gurumu! Salah satu musuh yang dapat membongkar teknik ini ialah Dalang; si pendekar pemalu. Karena dia sangat jarang sekali keluar untuk menumpas kejahatan, dirinya lebih baik diam di rumah dan bertani. Namun aku cukup kaget bahwa dia sekarang sudah mempunyai murid,"


"Siapa kau sebenarnya?" Dharma mengibaskan tangannya lalu maju selangkah.


"Kau akan tahu nanti...... Senang bertemu denganmu!" sekejap sosok misterius itu sekebat menghilang tanpa jejak.


Setelah kepergian musuh, panji berdiri dengan kaki terpentang, menatap langit lalu berbisik: kau terkenal rupanya.

__ADS_1


__ADS_2