GERBANG AWAL

GERBANG AWAL
NERUS BUMI


__ADS_3

Risau bercampur hening melibatkan seluruh emosional dari Dharma, ini pertama kali dirinya menerapkan ajaran pa Dalang. Seraya memasang kuda-kuda menyerang, Dharma tidak fokus pada satu arah, melainkan dirinya mengetahui musuh telah berada di sekitarnya.


Beberapa menit berlalu, Dharma tetap kokoh pada jalan strateginya, pada sikap pasang menyerang. Namun apa daya sukar menemukan musuh ketika pandangan tajam terarah ke setiap sudut hutan. Semilir angin berhembus, saat itu juga monster berkaki dua muncul dari balik belukar, Dharma tercenung melihat monster di depannya berperawakan manusia! hanya saja kepala monster itu mirip naga juga dipenuhi bulu berwarna abu-abu.


"Keluar juga kau mahluk sialan!" ucap Dharma, walau sedikit menggigil.


Monster itu mengeram dan langsung berlari ke arah Dharma. Di posisi pasang, tentu ini sangat mudah dihalau oleh Dharma dengan langsung mengeluarkan jurus ke satu, yaitu; Kadek Jero. jurus ini merupakan fundamental dari aliran pa Dalang, satu tebasan mengarah tepat di dada akan menimbulkan sayatan cukup dalam dengan pola serangan menyamping ke bawah.


"SRETTTT" suara golok Dharma mengenai dada monster itu.


Mereka berdua saling membelakangi ketika Dharma usai mengeluarkan jurus pertama.


Bergedig lah pendekar muda itu tatkala melirik ke arah belakang, serangan dirinya tidak menimbulkan luka apapun kepada monster berkepala naga. Gigi Dharma berkereketan, wajahnya memerah geram. Terbesit sejenak, dia berpikir ternyata latihannya selama ini kurang keras, sehingga jurus pertama pun tidak membuat lawannya mengeluarkan darah walau setetes.

__ADS_1


"KREKKKK" suara tulang patah. Tanpa disadari, monster itu telah melesat maju mengeluarkan serangan selanjutnya yang telak mengenai tulang rusuk Dharma.


Alhasil Dharma terhempas jauh dan menabrak pohon besar dihadapannya. Belum juga tuntas memikirkan serangan tahap lanjut, Dharma harus sadrah menerima pukulan keras dari musuh. "Bergerak Dharma! kamu tak akan bisa mengalahkan hanya dengan diam," gumam Dharma berbicara dalam hatinya.


Sangat tidak terlihat pergerakan musuh! tahu-tahu dengkul monster tadi sudah menyarang di kepala Dharma yang tengah terenyak duduk kesakitan, dalam kurung waktu kurang dari sedetik monster berkepala naga dapat menyerang bertubi-tubi tanpa terdeteksi.


Tapi kecepatan tangan Dharma lebih unggul dibandingkan serangan monster, tangan kanannya menahan dengkul itu dengan sekuat tenaga, menutupi pandangannya.


"Kau terkecoh mahluk biadab!" desis Dharma, menahan serangan monster itu.


Si monster memperkuat juga energi dengkulnya sehingga dorong-dorongan tenaga antar dua mahluk pun terjadi. Tangan kiri Dharma menganggur, lantas membantu mendorong dengkul si monster. Satu menit telah terlewat, mereka dengan memegang egoisnya masih terpaku tidak mengeluarkan alternatif serang lain.


gemerisik hujan mengguyur bumi Pertiwi, Dharma masih berpusar memikirkan bagaimana caranya tuk selamat, sekolebat ide hinggap dalam sesaat di benak Dharma penuh kebisingan.

__ADS_1


Dengan memanfaatkan tenaga kuat lawan, Dharma mengalirkan serangannya melimpir ke samping, membuat dengkul si monster menghantam keras di pohon. Hal tersebut lah memberikan setitik ruang untuk menjauh dari jangkauan musuh. "Aku bebas juga!" sambil ngos-ngosan Dharma lega bisa menjauhi mahluk jahanam itu.


Ada teknik berpedang gerilya ala Dharma belum juga dikeluarkan, entah menunggu momentum apa, dan pastinya teknik tersebut dikeluarkan untuk serangan pamungkas. Pohon itu tumbang dibuatnya, dengkul keras sang monster sangat memberikan efek besar jika mengenai tubuh Dharma.


"Aku sepertinya harus mengunakan teknik pernapasan air!" ucap Dharma, memasang kuda-kuda segitiga dengan golok di tangganya. Pernapasan air digunakan dan dilatih untuk memperkuat fisik si pengguna, di luar dari dapat membuat serangan luwes juga dapat mengalirkan tenaga besar lawan menjadi serangan yang membadik dirinya sendiri.


"DUGG....DUGG.....DUGG!" sang monster menghentakkan kakinya ke tanah, sontak membuat Dharma menarik keningnya ke bawah, entah si monster tengah melakukan ritual apa, Dharma sudah mengalirkan energi alam ke seluruh tubuh melewati pernapasan air sebagai penghantarnya.


"EEUUAHAHHHHHHHHH" monster menggaung, dan sehabis itu langsung masuk ke dalam tanah setelah menghentakkan kakinya tiga kali. "Kemana perginya dia?" Dharma melirik ke sana-kemari tanpa henti dengan raut muka pucat karena panik musuh dapat menembus bumi atau tanah dalam sekejap mata.


Tiba-tiba kaki Dharma seolah ditarik ke dalam tanah, separuh kaki Dharma kini masuk ke dalam tanah. Di dalam tanah tersebut cengkraman mahluk sangat terasa, sehingga Dharma menyimpulkan bahwa monster lawannya ingin membunuh di dalam tanah sebagai teknik penguncian.


Dharma mencoba naik kembali dengan menyimpan kedua tangan di atas tanah, menekan tanah tersebut dengan segenap tenaga yang ada, ditambah pernapasan kini dipakainya.

__ADS_1


""AHHHHH.......!" Dharma merintih kesakitan, kakinya di bawah tanah ada yang mencabik.


- bersambung


__ADS_2