
Di suatu tempat Dharma berpijak, berdiri serta terdadah lebar memandang kagum pada suatu ruang alam yang dipenuhi bebatuan besar setinggi rumah, tanahnya subur dilapisi rumput sehat berwarna sangat hijau, dalam himpitan batu besar ada sebuah gubuk kayu berdiri kokoh menelantangkan suhunan rumah dengan menyelipkannya pada rongga batu yang terkikis sedikit demi sedikit karena tergerus zaman dan waktu.
Mata Dharma terhiasi oleh keadaan alam di depan matanya, seolah mengajaknya untuk membuat tempat tinggal di sana. Terik pagi menyeruak hadir seiring burung kenari bernyanyi riang. Bergedig kagum Dharma meninjau situasi tempat bak surga ini. Hatinya berbisik melantunkan pujian-pujian pada tuhan karena telah membawa dirinya ke tempat tak terjamah "Sungguh aku terpojokkan hari ini, perasaanku tadi letih, kisruh, mendadak terhempas jauh semua perasaan itu, dan sekarang hanyalah kebahagiaan di musim semi." ucap Dharma melentingkan senyum lebarnya ditutur pola nafas terpola.
Dari bilik gubuk terlihat keluar seorang wanita berparas sangat cantik mengenakan pakaian adat yaitu; kebaya. Rambutnya berkilau jatuh dengan memakai anting di kedua kupingnya, dirinya keluar tanpa menggunakan alas kaki dan terlilit perhiasan indah di kakinya dekat dengan mata kaki. Dia berjalan anggun menuntun tanaman hias menuju pendopo kecilnya tepat berada di bawah tebing dekat air terjun.
"Siapa itu?" kerut Dharma menatap tajam wanita cantik itu.
__ADS_1
Posisi Dharma di atas tebing, tempat indah yang rimbun dengan batu-batu besar itu terkelilingi tebing menjulang tinggi, sehingga tempat semacam ini sangat terisolir dari tempat persinggahan sebelumnya.
"Apakah aku harus menghapirinya?" sedikit kebingungan Dharma kali ini, dirinya sampai memegang dagu erat-erat akibat terlalu kencang berpikir ingin mengeluarkan tindakan.
Karena tempat itu terhimpun dalam bebatuan besar, mata jeli Dharma kehilangan jejak wanita berparas cantik tadi. Konsentrasinya buyar dan mengalihkan pada pikiran sehingga dia lupa bahwa wanita itu akan menuju kemana.
"AAAHHH sudahlah, aku hampiri saja," tiba-tiba si pendekar muda yang tengah bergejolak jiwanya dengan sekonyong-konyong melompat dari atas tebing. Kedua tangan di kepakan lebar seperti burung elang yang tengah mengayuh sayap untuk mendarat dari langit.
__ADS_1
Haahh.......haaahh......haahhh
Membungkuk memegang kedua lutut Dharma kelelahan, keringat menetes mengucur ke semua area badan, Rambut panjangnya pun sampai basah dibuatnya. Ketika harapan hampir musnah kupingnya mendadak mendapatkan getaran aneh dari samping kanan, lantas dirinya memperfokus pendengaran untuk menelisik getaran apakah yang membuatnya bergedig jiwa.
"Ehh... ehh ko ada suara genangan air," gumam Dharma.
Lebih dalam Dharma merusuk suara genangan air itu ada cipratan yang berbeda, ia mengetahui bahwa alam tidak mungkin membuat cipratan seperti ini. Rasa penasaran Dharma melunjak yang pada akhirnya ia langsung bergegas mendatangi asal muasal getaran itu.
__ADS_1
Sesampainya di sana sungguh terkejut apa yang dilihatnya di depan, tepat pada getaran itu tercipta.
"Kamu........" ucap Dharma menunjuk sambil bergetar.